Sambungan dari kisah pertama
Hidayatullah.com– Berhubung acara pernikahan masih tiga hari lagi. Baiknya kamu ikut pelatihan saja dulu di Samarinda.
Pesan itu dibisikkan Ustadz Abdullah Said Rahimahullah, pendiri Pesantren Hidayatullah. Singkat tapi lugas. Tak ada tawar menawar. Kalau perintah berarti dengar dan taat saja pilihannya.
Pagi, di akhir Ramadhan lalu, saya beruntung. Waktu itu bersama seorang sahabat, kami bersilaturahim ke rumah sang ustadz.
Syukurnya, sosok ustadz pendiam itu akhirnya mau membuka suara. Ia jadi terpancing menceritakan perjalanan dakwah dan jodohnya yang terbilang unik. Khususnya bagi remaja milenial di zaman now.
Seperti kisah sebelumnya, tokoh sekarang seolah nyaris tidak peduli dengan jodoh yang dipilihkan untuknya. Baginya, ia lebih suka memikirkan “how to” menjemput calon pendamping hidupnya.
Padahal pemuda yang namanya berarti “selalu disyukuri” itu mengaku baru saja beberapa hari tiba di Kota Balikpapan. Sebelumnya, sesuai SK, ia diamanahi berdakwah di Pulau Derawan, Berau, Kalimantan Timur.
Lagi asyik berdakwah, dai berdarah Duri tersebut didatangi utusan dari Ustadz Abdullah Said. Amanatnya, dirinya harus segera pulang mengikuti pernikahan santri secara massal di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dalam hati, ia mengaku heran. Kabarnya ada pernikahan. Tapi tak ada tanda-tanda atau suasana semarak yang terlihat layaknya pernikahan yang biasa dilihatnya.
Makin heran lagi, H-3 alih-alih suasana acara pernikahan makin kentara, ia justru disuruh ikut pelatihan “Dinas Sosial” di luar kota. Dimana nyambungnya? Tanda tanya itu kian membesar di benaknya.
Singkat cerita, desas desus pernikahan massal yang mulanya viral alias trending topic di jagat lisan para santri perlahan menurun. Kabar gembira itu ditelan dengan banyaknya kerja bakti dan proyek lapangan yang tak pernah habis di Gunung Tembak.
Didorong kegelisahan memikirkan nasib umat yang sudah lama ditinggal, sang dai memberanikan diri menghadap Pimpinan. Berharap bisa diizinkan kembali ke daerah asalnya bertugas, di Derawan.
Rupanya, titah Pimpinan berkata lain. Ia justru diminta mengecek jadwal kapal laut yang berlayar ke ujung timur Indonesia. Disuruh bersiap menjejalahi Papua. Misi tetap sama. Menyebar benih dakwah dan Islam di sana.
Rute pelayaran sudah di tangan. Rupanya takdir belum juga menyentuh garis finish. Ia justru diminta turun di Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara. Mengawali rintisan dakwah bagi kaum Minoritas Muslim di Bitung.
Benar-benar terjun bebas. Nyaris tanpa sabuk pengaman atau pelampung penyelamat. Jangankan uang saku atau bekal memadai di saku. Alamat yang dituju saja juga tak punya. Uang pun sudah habis buat tiket kapal saja.
Pertolongan Allah. Ia dapat tumpangan di sebuah kompleks. Tak jauh dari masjid di satu perumahan. Meski berkali-kali pindah tempat tidur, hari-harinya selalu dihabiskan berjalan kaki bersilaturahim ke siapa saja yang ditemuinya.
Selalu ada kejutan bagi yang mengurus agama Allah. Di satu masjid, ada sekelompok warga yang baru saja ditinggal pergi ustadznya. Ibarat anak ayam, mereka kehilangan induk yang membimbing mereka. Klop! Jadilah pemuda nekat tadi didaulat menjadi sosok pengganti ustadz yang hengkang.
All out dalam dakwah. Kebiasaan itu melekat kemanapun ia bertugas. Sebagian warga merasa takjub melihat semangatnya yang tak pernah surut.
Apa jawabannya? Dengan santai ia merespon keheranan itu. SK tugas sebenarnya berdakwah di Papua. Jadi sejak awal mentalnya sudah siap dengan medan lebih berat dan cobaan yang lebih banyak.
Tepat setahun berdakwah seorang diri di Bitung. Panggilan “suci” itu menggema kembali. Ia dipanggil pulang ke Gunung Tembak. Isunya sama seperti dulu. Bakal ada penjodohan sesama santri. Pernikahan Massal, demikian tajuk yang kembali menghangat.
Bagaimana kisah penjodohannya? Seperti apa lika-liku Pernikahan Massal zaman old? Ikuti kisah selanjutnya.*
Bersambung