Hidayatullah.com–Seorang pembaca majalah Suara Hidayatulah tergugah membaca profil Untung. Ia seorang guru di pelosok Madura. Meski lahir dalam keadaan tak bertangan, Untung tak pernah menyerah pada keadaan. Ia gigih menuntut hingga kemudian menjadi guru teladan.
“Jika berkenan saya ingin memberi hadiah umrah gratis kepada Ustad Untung,” kata pembaca itu. Seperti apa profil Untung dan bagaimana kiprahnya, ikuti tulisan berikut ini.
Setelah puluhan tahun berlalu, belakangan ini Untung baru sadar mengapa saat kecil dirinya dilarang sekolah oleh orangtuanya. Ternyata mereka tidak tega jika anaknya diejek karena cacat fisik.
“Saya baru tahu belum lama ini, dulu saya tidak pernah tanya kenapa orangtua khawatir saya bersekolah,” terang Untung saat ditemui di sekolah tempatnya mengajar, MI-MTs Miftahul Ulum, Batang Batang, Sumenep belum lama ini.
Setamatnya dari SMP, kali ini pupus sudah harapan Untung untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Bukan lantaran dilarang, melainkan karena orangtuanya benar-benar tidak mampu membiayainya.
“Mau lanjut SMA tidak bisa, karena ekonomi orangtua yang lemah,” kata Untung mengenang.
Walaupun tidak dapat melanjutkan pendidikan formal ke SLTA, Untung tidak berhenti menuntut ilmu. Ia meminta kepada orangtuanya untuk dimasukkan ke pondok pesantren. Alhamdulillah, permintaan itu dikabulkan oleh orangtuanya.
Namun jalan tidak selamanya mulus. Keinginannya untuk mondok pun awalnya hampir buyar. Pihak pondok menyangsikan keberadaan Untung di pesantren, karena dianggap tidak akan mampu hidup mandiri –mengingat keadaan Untung yang tanpa kedua tangan-, serta takut justru akan mengganggu santri lainnya.
“Ya menurut saya wajar saja jika pihak pondok beranggapan demikian,” ujar ayah dari Farwatun Ni’mah dan Fatimatuz Zahra ini.
Beruntung, dirinya tetap dibolehkan untuk menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Usymuni, Pandian, Sumenep tersebut. Nyatanya Untung mampu beraktivitas sebagaimana layaknya santri lain. Mulai dari berpakaian, memakai sarung, mandi dan sebagainya, semua dilakukan seorang diri tanpa meminta bantuan.
Tidak hanya meyakinkan pihak pondok kalau dirinya mampu mengikuti aktivitas pesantren sebagaimana santri lain. Untung bahkan menjadi pengurus organisasi kepesantrenan bidang pendidikan. Malah ia pernah menjadi asisten salah seorang kiai pimpinan ponpes itu.
“Mungkin karena berkah itu juga, sekarang saya di sini (sekolah tempatnya mengajar) diminta membantu administrasi kantor, kadang juga untuk menulis ijazah,” ungkapnya.
Menjadi seorang guru adalah pilihan yang paling memungkinkan bagi kondisi Untung, olehnya sejak kecil ia giat mencari bekal ilmu.
Meski tanpa kedua tangannya, pria kelahiran Sumenep, 28 Juni 1970 ini tetap lihai dalam mengajar. Alih-alih khawatir para murid tidak bisa menerima kondisi dirinya, ia justru sangat dicintai dan menjadi salah satu guru favorit. Bagaimana itu bisa terjadi? Ikuti tulisan selanjutnya. Tulisan dikutip dari Suara Hidayatullah