Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Allah Mengembalikan Senyum Keluargaku saat Ramadhan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 April 2017 09:38 9:38 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 April 2017 09:30
Bagikan
Bagikan

SIANG itu tiba-tiba dering telepon berbunyi dari talam tasku. Oh, dari ibu. Sempat kaget mengetahuinya. Maklum, tak biasanya ibu meneleponku di saat-saat baru jam pulang sekolah. Karena ibu tahu kebiasaanku, sebelum pulang, aku biasanya shalat dulu di mushalla sekolah, kemudian istirahat sejenak.

“Assalamu’alaikum… Nak, kalau sudah selesai sekolah, langsung pulang, yah. Jangan mampir ke mana-mana!” ucap ibu dengan nada bergetar, dan langsung menutup sambungan telepon.

Terang saja, aku langsung diselimuti kekalutan. Pikiran-pikiran buruk terjadi di keluarga tiba-tiba berseliweran di benak. Ingin menelepon balik, mustahil. HP tidak ada pulsa. Akhirnya, dalam kekalutan itu, saya putuskan untuk mengerjakan shalat zuhur terlebih dahulu.

Selesai, aku langsung menuju parkiran sekolah untuk mencari tumpangan. Namun apa lacur, semua kawan sudah pada buyar. Tempat parkir sepi. Ingin naik angkutan desa, uang tak puya. Di lain sisi, suara ibu di telepon terngiang-ngiang. Semakin kalutlah pikiran.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki di tengah teriknya matahari. Jarak sekolah-rumahku kurang lebih 3,5 km.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Ketika langkahku telah mendekati halaman rumah, tanda-tanda firasat burukku terjadi mulai bermunculan. Nampak beberapa tetangga berjubel di rumah. Semua mata tertuju padaku. Kudapati sorot mereka penuh duka. Bekas aliran air mata masih melekat di pipi. Terutama kaum perempuan.

Baca: Cara Islam Mewujudkan 8 Fungsi Keluarga

Ketika aku masuk ruangan utama keluarga; Innaalillah…. Sepontas terasa persendianku remuk. Jantungku seakan berhenti berdegup, ketika kusaksikan sosok di hadapanku. Ayahku yang merantau di negeri jiran, berbaring tak berdaya dengan balutan perban.

“Bapak kecelakaan kerja. Jari jemarinya terpotong, terkena mesin penggiling rumput,” ucap ibu lirih.

Duug!

Aku tersentak kaget mendengarnya. Pelopak mataku tak lagi kuasa menahan bendungan air mata. Kudekati ayah. Ia berusaha menegarkan diri dengan berupaya memberi tersenyum kepadaku. Sementara itu, air matanya pun meleleh. Kupeluk erat ayah. Suasana semakin haru. Suara tangisan membahana dari sanak keluarga.

‘Badai’ Lanjutan

Laksana kata pepatah; Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi selanjutnya dalam keluargaku. Musibah yang menimpa bapak, justru menjadi awal retaknya keakraban hubungan keluarga.

Kakek dan nenek dari pihak ayah, tidak terima dengan kejadian menimpa ayah. Celakanya, mereka justru menyudutkan ibu sebagai biang kerok kecelakaan itu. Logika yang dipakai, musibah itu tidak akan pernah terjadi, kiranya, ayahku tidak menikah dengan ibu.

Karena pernikahan itulah, ayah harus merantau jauh ke Malaysia, demi memenuhi kehidupan keluarga, yang akhirnya menerima kenyataan, ia mengalami lumpuh permanen karena kecelakaan kerja.

Ayah sudah beberapa kali berusaha memberikan pemahaman kakek dan nenek. Namun tak jua mengerti. Mereka masih saja memusuhi ibu. Puncaknya, merasa tidak kuat terus dipojokkan, ibu menggugat cerai.

Ayah berusaha meredam keinginan ibu, tapi gagal. Beberapa alasan dikedepankan, termasuk keberlangsungan nasib kami, sebagai anaknya, bila harus bercerai, tidak mempan mendinginkan suasana.

Akhirnya, peristiwa yang paling kutakutkan itu pun terjadi. Ibu dan ayah resmi bercerai. Kejadian itu terjadi menjelang Ramadhan. Ayah menjatuhkan talak satu pada ibu. Jadilah Ramadhan tahun itu, kami lalui sekeluarga tanpa kehadiran ibu.

Saya yang masih usia remaja (lulusan SMP) semakin kalut pikiran. Semua menjadi sasaran amarahku. Tak kecuali Tuhan (Allah). Kutuntut keadilan-Nya, yang kurasakan tak menghinggapi keluargaku.

Baca: Hikmah Ramadhan

Berkah Bulan Suci

Syukur Alhamdulillah, kekeliruanku ini tak berjalan lama. Pasalnya, ustadz tempatku belajar al-Qur’an terus memberiku pencerahan. Yang paling menghentakku, ketika beliau menyitir ayat al-Qur’an yang berbunyi;

“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya maka ia berkata. Tuhan telah menghinaku.” (QS Al-Fajr : 16)

Aku benar-benar terasa tersindir dengan ayat ini. bergegas kuberistighfar, mengakui kesalahan. Aku pun mulai menata hati untuk ridha atas apa yang Allah tetapkan untuk kami sekeluarga.

Di lain pihak, ayah sendiri menuntun kami sekeluarga, untuk mengoptimalkan keberkahan bulan suci Ramadhan, guna bermunajat kepada-Nya, memohon, agar keberkahan senantiasa menaungi keluarga kami.

Kami pun mengamini ayah. Terlihat ayah sangat tekun beribadah. Begitupun dengan diriku. Setiap kali selesai melakukan ibadah, khususnya shalat, selalu kuselipkan doa untuk keutuhan rumah tangga kami.

“Ya Allah, persatukanlah kembali ibu dan ayah kami, dan berkahilah keluarga kami,” demikianlah di antara untaian doa yang kupanjatkan kepada-Nya.

Baca: Ramadhan Momentum Ajak Keluarga Kembali Pada Al-Qur’an

Laa haulaa wa laa quwwata illa billahil azhim. Allah ternyata mendengarkan rintihan kami sekeluarga. Di penghujung Ramadhan, ibu bertandang ke rumah, dan menyatakan permintaan maaf kepada ayah, dan meminta untuk rujuk kembali.

Ayah pun dengan lapang dada memaafkan ibu. Idul Fitri itu pun akhirnya kami lalui dengan hati nan riang gembira. Tak sampai di situ kebahagiaan kami. Tak lama berselang, bapak mendapat panggilan dari tempat kerjanya semula, dari Malaysia.

Dijanjikan ia akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya, sekaligus mendapat gaji yang berlipat. Berangkatlah ayah. Dari hasil keringat ayah itu pulalah, akhirnya, keluarga kami bisa menyambung hidup. Termasuk aku, bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Terimakasih, ya Allah, atas karunia yang kau limpahkan atas keluarga kami.* Dikisahkan oleh Hasbi kepada Muhammad Syahroni (Anggota komunitas menulis PENA Gresik)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakbapakbulan puasabulan sucidoaibuIdul fitrikelaurga MuslimKeluargamusibahorangtuaPerceraianRamadhanrumah tanggasenyumsuami istriTKIujian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya JPU Kasus Ahok Sebut Unggahan Buni Yani Meresahkan
Tulisan selanjutnya Ilmu Nahwu dan Nalar Skeptisisme

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?