Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

‘Terima Kasih Ayah Atas Pengasingannya’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2019 10:26 10:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Agustus 2019 10:26
Bagikan
[Ilustrasi] Pondok Pesantren
Bagikan

Hidayatullah.com | Semasa di Madrasah Tsanawiyah dulu, ayah pernah cerita perihal saudara dan teman-temannya. Keluarga ayah bisa dibilang rata-rata memiliki karir yang menjanjikan, pekerjaan tetap, dan mapan secara finansial.

Saudara ayah, ada yang menjadi dokter, dosen, hingga konsultan sejumlah perusahaan di Timur Tengah. Begitu pula teman-temannya di masa muda dulu. Ada yang menjadi menteri, rektor universitas terkemuka, dan beberapa orang jadi dekan perguruan tinggi. Ada juga junior masa kuliahnya yang nyeleneh jadi tokoh liberal. Intinya mereka orang-orang yang mudah dikenal di publik.

Di sela ayah bercerita, ibunda biasa bercanda, “Kalau ayah masih melanjutkan kariernya di IAIN Makassar (sekarang berubah jadi UIN Alauddin Makassar), mungkin kalian sekarang jadi anak-anak rektor.”

Guyonan ini langsung disambut tawa tergelak oleh kami, anak-anaknya. “Begitu ya, Bun?” Aku sendiri langsung membayangkan fasilitas macam-macam saat itu.

Sejak itu, pikiran ABG-ku kerap mengkritisi keputusan ayah hijrah dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Menyayangkan betapa kami bisa mendapatkan pendidikan “lebih layak”. Bukan “terkungkung” dalam kehidupan pondok pesantren. Itupun letaknya di ujung timur Balikpapan. Sejarak 33 kilometer dari pusat kota. Tepatnya, di perbatasan Balikpapan dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Akibatnya, sehari-hari, hidup kami seolah hanya berkisar di areal pondok saja. Terbayang, sekira kami bisa menikmati kemapanan ekonomi, layaknya keluarga ayah yang lain. Tentu tidak perlu bersusah-payah pergi sekolah sambil jualan kue dan es setiap hari, sekadar mendapatkan uang jajan. Belum lagi keinginan-keinginan duniawi lainnya, bakal mudah terpenuhi. Demikian pikirku saat itu.

Spontan, di sela protes, aku pernah bertekad di depan ayah dan ibunda. Kelak aku akan melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Pokoknya, lebih tinggi dari ayah yang sekadar Sarjana Muda dengan gelar BA. Ingin lebih sukses dan bekerja di luar pesantren. Ingin lebih kaya dan masih banyak lagi keinginan yang kusebut. Seingatku, sejak kecil aku memang punya banyak cita-cita dan impian sukses.

Baca: Kisah Bujangan Membangun Pesantren

Mendengar itu ayah cuma tersenyum datar. Hingga akhirnya suami dari Bunda Hikmawati itu buka suara. Kalimat itu terngiang hingga sekarang.

“Nak! Ayah dulu jauh-jauh merantau ke sini, tinggalkan kampung halaman sampai tinggalkan pekerjaan dan rumah. Itu demi kalian bisa menikmati tempat yang jauh dari hingar-bingar dunia. Bisa rasakan nikmatnya ber-Islam. Kalau kalian nantinya mau keluar juga dari sini, percumalah semua pengorbanan Ayah.”

Glek! Ibarat anak panah, benda tajam itu tepat menancap di dada. Meski belum paham sepenuhnya aku hanya bisa diam. Tak menyangka ayah sampai berkata begitu.

Hingga seiring waktu, perlahan kusadari, ternyata Ayah telah memutuskan pilihan luar biasa. Nyatanya, tidak mudah memang meninggalkan tanah kelahiran, karir, apalagi kemapanan hidup berupa materi.

Bagi kami, anak-anaknya, ini kesyukuran tak terhingga ditakdirkan tumbuh besar di satu pesantren yang bersahaja. Lingkungan Islamiah, ilmiah, dan alamiah bukan sekadar motto secara teori.

Para lelaki yang wajib shalat berjamaah lima waktu di masjid, wanita yang menutup aurat dengan baik, anak-anak yang terbiasa melantunkan ayat suci Al-Qur’an, dimana-mana orang saling menyapa dengan salam, budaya tolong menolong antar warga, areal yang terpisah antara santri putra dan putri, hingga imbauan yang terus menerus diingatkan, tentang infak, sedekah, shalat lail, taklim, dan halaqah al-Qur’an.

Belum cukup? Baik, kira-kira tempat mana yang sanggup memberikan lingkungan Islami sekaligus sehat secara gratis? Bebas asap rokok, asri, indah dipandang mata, minim kriminalitas, dan sebagainya. Terkadang, nikmat-nikmat di atas tampak remeh bagi kami, anak-anak yang terlahir di lingkungan itu. Kenapa? Karena sudah terbiasa hidup sehari-hari dengan fakta tersebut. Sehingga tak lagi menyadari bahwa ia adalah anugerah terindah.

Pun demikian denganku. Hingga satu ketika bisa melanjutkan pendidikan di luar daerah.  Barulah terasa betapa mahalnya lingkungan cuma-cuma itu. Sungguh ia adalah hadiah dari para orangtua demi suaka generasi. Bahwa aku seringkali menangis hanya karena cadar yang kukenakan. Dilecehkan oleh oknum dosen, diteriaki orang di jalanan, dikatai “ISIS” dan aliran sesat, sampai dipersulit urusan administrasi. Culture shock. Terasing di tempat yang kebanyakan orang terbiasa.

Meski demikian, pesantren ini tentu bukanlah sempurna. Dimana-mana selalu ada kekurangan dan kelebihan. Masih banyak yang perlu dibenahi dan dikoreksi. Tak sedikit yang kadang disayangkan. Namun selama kesabaran dan kesyukuran menjadi kunci, akan ada rasa tanggung jawab dan pengertian terhadap segala perubahan dan kekurangan. Toh selama ini kami masih menikmati fasilitas turunan dari pendahulu. Belum ada yang bisa kami bangun dan buktikan di hadapan orangtua.

Maka berbahagialah, para titisan pendahulu. Kita terpilih lahir di tempat pengasingan ini. Ditakdirkan menjadi orang asing dari hiruk pikuk dunia. Asing dari pergaulan bebas. Asing dari kemaksiatan yang merajalela.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut,” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darimi, dinyatakan shahih oleh Syeikh al-Albani).* Ema Nahdhah/Santriwati

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakayahBalikpapanKeluargaPendidikanpendidikan anakPondok Pesantrensantri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Qatar Turut Bergembira atas Kemerdekaan Indonesia
Tulisan selanjutnya Saudi Tawarkan Indonesia Tambahan Kuota Haji 250.000 Jamaah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?