Hidayatullah.com | KUAMATI seorang kakak santriwati pengabdian yang sedang membujuk salah seorang murid kami. Ia duduk merengut di ayunan di sekolah KB RA kami.
Sudah hampir 20 menit si kakak membujuk, tapi ananda tetap enggan masuk kelas. Wajah ananda menunjukkan ekspresi marah, atau bahasa milenialnya mojjo.
Akhirnya, kudatangi ananda sembari pelan-pelan mengeluarkan pertanyaan seputar asbab kesedihannya. Ia tetap diam seribu bahasa. Bahkan melihat mataku juga enggan.
“Nak, ustadzah boleh peluk?”
Ia masih diam, tapi tak menolak saat aku coba memeluknya.
Sembari memeluk, kutanyakan kembali pertanyaan yang sudah kuajukan tadi.
“Apa yang membuat sedih, Nak? Kalau ananda gak cerita, ustadzah gak tahu dan gak bisa bantu.”
Akhirnya dengan berbisik ia ungkapkan sebabnya:
“Abi kasih uang segini, tapi gak kasi bekal.”
“Oww, MasyaAllah, mungkin abi buru-buru harus kerja, apalagi ini hujan, jadi gak sempat bekalin ananda!”
Dia masih diam sambil merengut.
“Ayoo kita beli bekal di atas, ustadzah temanin.”
Alhamdulillah, mini market Sakinah Mart tepat di atas sekolah kami.
Setelah ananda beli bekal, ia langsung bergegas masuk kelas dan bergabung dengan temannya.
Sempat kutitip pesan padanya:
“Nak, kalau ada masalah cerita yah dengan ustadzah, supaya ustadzah bisa bantu!”
Ia mengangguk dengan pasti.
MasyaAllah, seringkali persoalan sederhana menjadi besar karena kurangnya komunikasi. Dan terkadang pelukan kecil kita menjadi komunikasi efektif bagi seorang anak.
Yuk para orang tua, jangan gengsi memeluk anak. Karena sentuhan kasih sayang, akan menguatkan ikatan emosional, menghadirkan perasaan aman dan nyaman.* (Itha Mujtahidah/guru KB RA di Balikpapan)
Baca juga: Istimewanya Guru PAUD