Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Belajar Kepedulian dari Tukang Batu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Oktober 2011 11:16 11:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Oktober 2011 11:16
Bagikan
Bagikan

TIDAK seperti biasanya, sore itu, ketika jam telah menunjukkan waktu istirahat kerja, Sholeh, yang kesehari-hariannya mengais riski sebagai tukang bangunan itu, langsung bergegas ke kamar mandi, guna membersihkan diri.

Tidak lama kemudian, setelah selesai, dia pun pamitan kepada teman-temannya untuk pulang. Teman-temannya, merasakan, Sholeh sedang terburu-buru.

”Gak duduk dulu, pak, Melepas lelah sebentar. Kan baru saja selesai bekerja?”, ujar salah satu dari mereka.

”Ndak usah. Soalnya di rumah sudah ada yang menunggu,” jawab Sholeh memberikan alasan kepada kerabat-kerabatnya.

Sholeh berharap secepat mungkin tiba di rumah. Entah mengapa, sore itu, angkutan pedesaan yang biasanya hilir-mudik setiap saat. Tidak biasanya kendaraan seramai itu. Sudah setengah jam dia menunggu.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Sholeh makin gundah. Pasalnya, di rumah telah menanti kedatangannya puluhan anak tetangga untuk belajar ngaji. Dan hari itu, merupakan hari perdana dia mengajar. Wajar kalau dia khawatir mengecewakan para muridnya.

Karena tidak ingin menunggu lebih lama lagi, laki-laki yang telah berkepala lima ini, pun akhirnya memutuskan jalan kaki.

Butuh setengah jam lebih untuk Sholeh menempuh perjalanan, guna sampai rumahnya. Padahal, kalau saja ada angkutan pedesaan, tidak kurang dari sepuluh menit dia sudah sampai tempat tujuan.

Dengan sisa-sisa tenaganya yang telah terkuras karena seharian bekerja, Sholeh mulai melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.

Benar saja, setibanya di rumah, nampak anak-anak telah berjubel, memenuhi ruang tamu yang luasnya berkisar 6×4 Meter persegi itu, dan bertembokkan gedek (anyaman bambu).

”Assalamu’alaikum, maaf yah, bapak terlambat datangnya. Dan ini bapak mau sholat Ashar dulu, baru setelah itu kita mengaji,” sapanya kepada anak- didiknya, dengan kondisi keringat masih bercucuran.

”Ia, ustad,” jawab mereka serempak.

’Terpaksa’ Jadi Guru

Menjadi guru, lebih-lebih guru ngaji, adalah sesuatu yang sangat tidak terpikirkan oleh Sholeh sebelumnya. Dia hanyalah seorang laki-laki yang akrab dengan pekerjaan keras. Pada tahun sembilan puluhan, dia pernah merantau di Jakarta, dan bekerja di salah satu rumah makan. Pernah pula ia menjadi buruh bangunan di salah satu bandara di ibu kota tersebut.

Ceritanya, terdapatlah salah satu mushalla yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal Sholeh. Di mushalla itu, ada anak-anak belajar ngaji yang jumlahnya puluhan.

”Mungkin berkisar 60-70 anakaan”, ujar Sholeh mengingat jumlah santri dan santriwati saat itu.

Setiap hari, mereka belajar di situ. Pengajarnya, dua pemuda, yang salah satunya adalah putra Sholeh sendiri. Suatu hari, salah satu guru mengajinya, melanjutkan kuliah di kota Pahlawan, Surabaya. Dampaknya sangat terasa, terbengkalailah mushalla tersebut, termasuk puluhan anak yang mengaji di sana.

Herannya, tak satu pun dari warga yang berinisiatif menyelamatkan kehidupan mushalla tersebut.

Menurut Haris, mantan guru ngaji yang kini sedang menyelesaikan studi di Kota Surabaya, penyebabnya, tidak lain karena banyak warga setempat tidak bisa mengaji.

Maka, jadilah murid-murid Mushalla tersebut bak anak ayam kehilangan induknya. “Mereka pun tidak pernah ke mushalla untuk mengaji lagi. Hampir dua tahun, kondisi ini terus berlanjut,” ujar Haris kepada hidayatullah.com.

Kondisi demikian itulah yang membuat hati Sholeh bergerak untuk menyelamatkan para tunas muda tersebut.

Dia mencoba mendekati beberapa pemuda untuk diajak bersama-sama mengajar ngaji, namun tak satu pun mereka menyanggupi.

Tak ingin patah arang, akhirnya Sholeh memutuskan untuk mengajar sendiri murid-murid tersebut.

Karena keterbatasan tenaga dan waktu, dia hanya menerima separuh dari jumlah keseluruhan murid musholla itu. Tempat mengajinya pun dialokasikan ke rumahnya sendiri.

”Karena kondisi fisik tidak memungkinkan saya untuk mengajar mereka semua, ya saya ambil separuhnya saja. Termasuk dipilihnya tempat ngaji di rumah sini. Hanya untuk mempermudah,” ujar laki-laki yang rambutnya telah memutih ini.

Minus Anggaran

Sejatinya, selain permasalaha SDM (Sumber Tenaga Manusia), Sholeh juga memiliki persoalan finansial dalam membina murid-muridnya. Misal, untuk memenuhi sarana dan prasarana mengaji, seperti karpet, dia harus mengeluarkan koceknya sendiri. Padahal, gaji sebagai tukang bangunan tidak lah seberapa. Itupun, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Untungnya, satu ketika, ada salah satu darmawan yang dengan sukarela mengetaskan permasalahan tersebut. Dia menyediakan bagi Sholeh beberapa kursi yang terbuat dari kayu, sekaligus mejanya. Dan itu lah yang dijadikan tempat duduk para murid Sholeh hingga saat ini.

Pernah juga, suatu hari ketika tiba salah satu peringatan hari besar Islam (PHBI), anak didiknya merengek untuk mengadakan perlombaan antar mereka guna memeriahkan hari raya tersebut. Padahal, uang di saku sama sekali tidak mencukupi untuk menyelenggarakan acara tersebut.

Namun, karena tidak ingin mengecewakan anak muridnya, Sholeh pun, rela meminjam uang ke tetangganya demi mewujudkan keinginan peserta didiknya.

”Karena saking minimnya anggaran, juaranya-pun hanya dipilih yang juara satu saja. Selebihnya tidak dapat,” kenangnya.

Sekali pun demikian, Sholeh tetap bahagia menjalankan rutinitasnya sehari-hari, baik itu sebagai tukang bangunan, atau pun ketika mengajar ngaji pada sore harinya. Semoga berbarokah, ya pak!*/Robinsah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Din: Jangan Lupakan Terorisme Ekonomi dan Terorisme Hukum
Tulisan selanjutnya Kazakhstan Semakin Sekuler

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?