Ide cermelang
Hidayatullah.com–Mengelola sampah dengan konsep bank, bolehlah dibilang ide cermelang. Pencetusnya ya itu tadi, Bambang Suwerda, dosen Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Ide itu, kata Bambang, muncul pada 2006 saat Bantul dihantam gempa. Pasca gempa sampah tampak berserakan di mana-mana. Sebagai dosen kesehatan lingkungan, ia gundah melihat pemandanngan seperti itu. Muncullah niatnya untuk mengelola sampah-sampah itu.
Soal istilah bank, itu karena ia memang sering ke bank. Dari sini ia kemudian berfikir untuk mengadopsi konsep bank. “Bank itu kan sebenarnya sederhana konsepnya. Saya lalu berfikir kenapa sampah tidak dikelola seperti bank,” katanya.
Ide itu lalu dilemparkan kepada orang-orang di sekitar rumahnya, termasuk dengan Ketua RT Bedekan. Mereka menyambut baik ide terebut. Setelah konsepnya dibuat, mulailah mereka mensosialisasikan kepada masyarakat.
Awalnya, kata Bambang, sambutan masyarakat adem ayem. Mungkin, mereka masih asing dengan cara baru mengelola sampah. Setelah satu bulan, barulah perlahan-lahan masyarakat menerima konsep bank sampah. “Sekarang, nasabahnya 255 orang,” tambah Bambang. Tak hanya warga Badegan, melainkan juga warga desa-desa sebelah.
Untuk memudahkan pemilahan sampah, bank menaruh tiga kantong di rumah-rumah penduduk. Masing-masing untuk sampah kertas dan kardus, plastik dan gabus, dan terakhir untuk botol dan kaleng.
Pemilihan itu perlu, jelas Yuni, karena masing masing jenis sampah punya harga sendiri. Kertas karton, misalnya, dihargai Rp 2.000 per kilogram dan kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya disesuaikan dengan ukuran.
Selain pengumpulan dana, pelaksanaan bank sampah ini juga membuat lingkungan makin bersih, pembakaran sampah oleh warga berkurang, dan tempat pembuangan akhir liar pun berkurang. “Konsep bank sampah ini sudah diterapkan di 15 lokasi di Yogyakarta,” kata Bambang, yang meraih penghargaan Indonesia Berprestasi Award 2009 kategori sosial kemasyarakatan. Dia juga menjadi nominator Kick Andy Heroes 2009 kategori lingkungan.
Beberapa tempat di Jawa Tengah sudah mulai menggunakan konsep bank sampah. Misalnya, di Pekalongan. Bambang telah mensosialisasi konsep bank sampah ini hingga ke Padang. “Saya senang kalau ilmu ini bisa diterapkan di tempat lain,” katanya.
Dibuat Kerajinan
Tak semua sampah dijual. Ada beberapa jenis sampah yang dibuat menjadi kerajinan tangan. Misalnya bungkus diterjen pencuci pakaian. Gemah Ripah pernah menggelar pelatihan membuat kerajinan tangan dari sampah. Salah satu pesertanya adalah Asnarika.
Ibu satu anak yang juga nasabah Gemah Ripah ini kerap membuat tas atau dompet berbahan bungkus kopi. Tas atau dompet itu lalu dititipkan di distro milik Bambang. Di distro itu berbagai hasil kerajinan dari sampah memang dipajang. Ada tas, dompet, tutup kulkas, dan tempat sampah. Harganya berfariasi mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu. “Harganya tergantung seberapa banyak bahan yang dipakai dan tingkat kesulitan,” kata Asnarika.*/Bambang S, Suara Hidayatullah