Hidayatullah.com–Pakistan mengatakan akan meninjau kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) dalam memerangi terorisme setelah pembunuhan pemimpin Al Qaidah Usamah bin Ladin.
Gerakan ini muncul setelah meningkatnya tekanan di dalam negeri untuk menghukum Washington atas pelanggaran kedaulatan Pakistan, seperti yang dilaporkan AFP.
Kabinet Komite Pertahanan Pakistan, yang dikepalai Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani, hari kamis, mengutuk tindakan AS.
Dalam pernyataan resminya, komite memutuskan, “untuk membentuk proses inter-agency sehingga memberikan pengertian yang jelas mengenai batas kerja sama kami dengan AS dalam melawan terorisme…yang sesuai dengan kepengtingan nasional Pakistan dan aspirasi rakyat.”
Penyerbuan terhadap bin Ladin ke wilayah Pakistan oleh Amerika tanpa izin membuat posisi pemimpin-pemimpin Pakistan terguncang. Partai oposisi lebih dulu meminta presiden Asif Ali Zardari dan Gilani untuk mundur setelah serangan.
Sebagaimana diketahui, Washington mengklaim pasukan khususnya telah membunuh Usamah bin Ladin dalam serangan tanggal 2 Mei tanpa memberi tahu Islamabad. Kepala CIA Leon Panetta mengatakan AS tidak memberi tahu pihak berwenang Pakistan mengenai perburuan tersebut karena mereka takut Islamabad akan mengganggu misi tersebut.
Kepala senat AS Komite Hubungan Luar Negeri dijadwalkan akan mengunjungi Islamabad minggu depan. Senator John Kerry mengatakan ia berharapa akan ada jalan keluar untuk mengatasi isu-isu seputar operasi melawan pemimpin Al-Qaidah.
Sejak 2002, AS memberikan bantuan pada Pakistan sekitar 20 milyar dolar, dua per tiga dalam bentuk bantuan militer yang disebut juga operasi melawan terorisme di sekitar perbatasan Afghanistan.*