TAK ADA lalu lalang manusia layaknya sebuah kota metropolitan seperti Jakarta. Pohon–pohon tin dan zaytun sudah tak terusus lagi. Inilah pemandangan kota Salma, sebuah kota wisata Latakia yang dulu pernah dikenal dengan keindahannya.
Pemandangan yang kami temui adalah gemuruh bom dan pembantaian di antara dingin yang menusuk badan.
Sekarang sudah masuk bulan ketiga, sejak relawan kelima Hilal Amr Society Indonesia (HASI) tiba tempat ini.
Kami harus menunggu malam untuk masuk ke Latakia. Mengendap-endap agar tidak tercium tentara Bashar Al Assad.
Saya teringat cerita seorang Syeikh asal Suriah tentang kekejaman rezim Basyar al Ashad. Awalnya, dalam hati kami bertanya-tanya, “Apakah cerita-cerita itu? Jangan-jangan semua berita itu dilebih-lebihkan?
Pertanyaan seperti itu kerap muncul dalam benak pikiranku. Maklum, apakah ada di abad ini jenis manusia yang memiliki perangai kejam, membunuhi rakyatnya sendiri dengan senjata-senjata mutakhir? Bukankah itu jenis perilaku kaum Barbar yang hanya ada dalam sejarah masa lalu? Apakah mungkin klinik, rumah sakit dan universitas tempat orang menyemai ilmu menjadi target pengeboman dan tuduhan teror?,” demikian hatiku bergelut. Pertanyaan seperti itulah yang sangat mengganggu emosiku.
Pagi itu 31 Januari 2013, untuk pertama kami beranikan diri keluar dari persembunyian di sebuah basement gedung di Latakia. Tapi hati rasanya tersayat. Kepingan reruntuhan gedung ada di manamana. Sesekali lewat motor dan mobil dalam kecepatan sangat tinggi. Sangat mencekam, itulah gambaran kota Salma hari ini.
Masyfa Maydani, Rumah Sakit Darurat
Masyfa maydani, inilah sebutan rakyat oposisi Suriah untuk rumah darurat. Mereka membangunnya di basemen gedung-gedung bertingkat yang sudah tidak terpakai. Jangankan aktivitas bisnis dan sekolah. Jika kita lengah di luar gedung, bukan tak mungkin hantaman bom dan jet-jet tempur Bashar akan menghabisi setiap nyawa yang terdeteksi di kota para oposisi.
Saya mmemperhatikan baik-baik gedung – gedung di samping masyfa. Ada pemandangan menarik, sebuah lubang besar menganga di atas bagian gedung.
“Ya syabab, kenapa dengan atap gedung itu?” tanyaku mencari kepastian kepada seorang tentara oposisi.
“Itu disebabkan hantaman meriam,” ujar mereka pendek.
Tak beberapa lama, ia kembali menunjukkan pemandangan tak kalah menariknya.
“Lihatlah gedung itu, yang di sana,” ujarnya.
Pemandangan berupa lubang-lubang bekas canon dan bazoka. Inilah pemandangan dan wajah gedung-gedung di Suriah, pasca krisis politik tahun 2011 yang kini akhirnya berujung pada konflik aqidah. Pemandangan seperti ini seolah menjadi identitas dalam setiap gedung di negeri ini.
Sepuluh meter di sebelah kiri gedung terlihat sebuah kasur busa berukuran tanggung dengan darah yang sudah mengering. Ada slongsong peluru meriam tergeletak di sana.
“Inilah masyfa yang dulu,” jelas Uday, kurir yang selalu setia menemani kami dengan senjata Klasinkov yang selalu di tangannya.
Sebelum datang ke tempat ini, pemandangan seperti ini hanya pernah saya lihat dalam film Rambo III buatan Hollywood yang berkisah sebuah misi rahasia, operasi pengantaran misil Stinger pada para Mujahidin, pejuang kemerdekaan yang melawan invasi Uni Soviet ke Afghanistan.
Tapi kisah cerita heroik Hollywood untuk membangun sebuah pencitraan atas kepalsuan Amerika Serikat (AS) itu hanya fiktif. Sedangkan saat ini, di Suriah, pemandangan utu nyata di depan kami.
“Masyfa ini dijatuhi birmil,” jelas Uday.
Birmil, sebuah tong, drum atau sejenis tangki yang dibawa dengan pesawat dan dijatuhkan dari ketinggian sekitar 400 meter. Konon, satu birmil, bisa kadang diisi TNT seberat 60 kg.
Udah dan kawan-kawannya menceritakan bagaimana rezim Bashar bahkan tetap menyerang rumah sakit darurat yang dibuat secara kolektif oleh rakyat oposisi.
Menurut Uday, birmil terbuat dari drum berisi TNT, pecahan-pecahan paku dan besi. Gedung yang dijatuhi sudah pasti akan hancur berkeping-keping. Sementara pecahan-pecahan besinya akan melayang ke seluruh penjuru mengenai orang yang kebetulan lewat.
“Lihatlah reruntuhan itu, di sanalah kawan-kawan Hilal Ahmar (HASI) angkatan ke-2 berada saat itu,” kata Uday mengenang bagaimana Tim Relawan kedua HASI pernah diserang dengan bom tersebut .
Maydani yang kini Medeni
Masyfa Maydani kini sering diplesetkan menjadi “medeni” (bahasa Jawanya menakutkan, red). Betapa tidak menakutkan, ruangan-ruangannya laksana rumah hantu, gelap dan kumuh. Gedung yang besar itu hanya memiliki genset 16 kwh dan hanya dihidupkan di malam hari.
Sulitnya solar atau bensin membuat semua harga malambung tinggi. Dalam sebulan, biaya solar mencapai 2500 dolar Amerika hanya untuk genset.
Saat menulis kisah ini, saya hanya ditemani minimnya pencahayaan. Kadang listrik menyala dan kadang padam. Beruntung air tak menggunakan listrik. Air diperoleh dari pegununguan dengan ketinggian 800 M di atas permukaan laut. Semua perairan di Kota Salma dialirkan dengan selang-selang.
Masyfa yang kami tempati saat ini hampir runtuh. Sisa-ssia kemegahan bangunan lima lantai ini masih berbekas. Bekas-bekas perabotnya masih terlihat bagus dan berkelas.
“Di sana kawan-kawan Hilal Ahmar sebelum kalian tinggal,” kata Uday sambil menunjuk ke arah lantai empat.
Kamar tempat tinggal para relawan HASI kini terkubur reruntuhan gedung. Kami segera naik ke atas dalam kawalan Uday.
“Ihdzar.. Laa-taqtarib,” (hati-hati jangan mendekat) teriak Uday saat kami terlalu bersemangat ke ujung reruntuhan.
Dulu kami mendapat cerita bahwa Jumanto, salah satu anggota relawan HASI tim kedua yang tengah tidur di kamar selamat dari reruntuhan gedung karena terlindung oleh kulkas besar. Kulkas berwarna abu-abu itu kini masih dalam posisi miring dan penyok.
Kami menaiki atap gedung yang tersisa. Besi-besi pecahan birmil terserak di mana-mana. Dari atas kami memandang ke kejauhan di bumi Syam ini. Meski hanya puing puing gedung yang nampak, kecantikan bumi Salma tidaklah bisa disembunyikan.
Di depan sana terhampar bukit-bukit yang menghijau. Arak-arakan mendung di pagi itu, membuat suasana menjadi syahdu. Hujan rintik-rintik manambah cuaca dingin menjadi sangat dingin. Sepinya jalan seakan melupakan kita dari beban-beban hidup duniawi. Sempat muncul rasa khawatir jika tiba-tiba ada peluru roket yang menuju kemari.
“Kamu lihat pohon di sana?,” ujar Uday sembari meletakkan moncong Kalasinkov nya.
“Di sanalah para mujahidin berjaga dan dua kilometer di depannya tank-tank Basyar Asaad berada,” tambahnya.
Meski sering diplesetkan sebagai tempat menakutkan, masyfa maydani bukanlah rumah sakit biasa. Dia adalah jenis rumah sakit untuk kombatan. Sebab dibalik sepinya jalan dari lalu lalang manusia, banyak pengungsi-pengungsi yang bersembunyi di bawah sisa-sisa gedung.
Dr Romi, seorang penanggung jawab masyfa maydani pernah menyebut bahwa di Kota Salma masih ada 20.000 penduduk yang tetap tinggal. Itulah sebabnya kenapa di Masyfa, klinik sangat ramai melayani penyakit-penyakit harian seperti batuk dan influenza.
Meski keamanan mereka dalam ancaman bahaya, umumnya semua penduduk itu tidak mengungsi. Alasannya sederhana, untuk mengungsi menuju Turki tetaplah membutuhkan biaya tidak sedikit. Akhirnya mereka tetap bertahan dan bertawakkal kepada Allah atas nasib yang akan terjadi.
“Biaya hidup di Turki mahal dan mereka tidak memiliki pekerjaan. Akhirnya mereka bertawakkal kepada Allah. Mereka makan dan minum seperti yang dimakan dan di minum oleh Mujahidin,” jawab beberapa warga dan pengurus Masyfa.
Di bagian depan gedung ini, terlihat banyak alat-alat medis yang berserakan di ruangan. Ruang ini dulu sangat berjasa memberikan pengobatan kepada Muslim Suriah dari serangan tentara Bashar.
Di tempat ini, kami akhirnya percaya cerita serangan terhadap rumah sakit. Meski banyak gedung di kota ini telah hancur. Namun, semangat perlawanan rakyat Suriah tak ikut terkubur dari reruntuhan. Yang ada justru semakin bangkit.*
Seperti yang diceritakan Abu Zahra, Tim Relawan HASI kelima dari Jabal Arkod Suriah kepada hidayatullah.com