Hidayatullah.com | TAJUDDIN Syahril (41) tampak sibuk. Ia mulai mendata satu per satu tokoh-tokoh yang akan diwawancara. Mulai tokoh agama, tokoh nasional, hingga para politisi dan pejabat. Bang Taju, demikian dikenal, adalah desainer Majalah Suara Hidayatullah. Saban bulan, pekerjaannya me-layout tampilan majalah.
Pria asal Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur ini memang sedang “beralih profesi”. Bukan sebagai redaktur liputan, tapi sebagai Koordinator Humas, Publikasi, dan Dokumentasi Panitia Munas V Hidayatullah. Ia mengomando sejumlah wartawan untuk ditugaskan mewawancara para tokoh.
Munas V(irtual) ini digelar pada 29-31 Oktober 2020 lalu, berpusat di Kota Depok, Jawa Barat, dengan 34 titik lain sebagai perwakilan tiap-tiap DPW Hidayatullah yang ada di daerah. “Munas kali ini adalah Munas yang paling sangat istimewa,” pengakuan Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad saat menutup Munas tersebut, Sabtu (31/10/2020), membuat para panitia merasa terharu dan bangga.
Di balik Munas yang dinilai sukses tersebut, banyak sosok di balik layar yang berjibaku, termasuk para panitia di lapangan. Di antaranya para kru Suara Hidayatullah-hidayatullah.com yang berdomisili di sekitar Jabodebek, termasuk Bang Taju.
Sejak di-SK-kan oleh DPP Hidayatullah sebagai komandan Humas Munas pada Februari lalu, Bang Taju harus memeras otak. Maklum, meskipun sudah puluhan tahun di Suara Hidayatullah, tapi dunia perhumasan yang lekat dengan kerja redaksi bukanlah perkara mudah baginya yang lebih akrab dengan desain grafis.
“Sebagai santri, kita ini kan taat saja. Bismillah,” ujarnya suatu ketika dalam obrolan ringan menyemangati pasukannya.

Saat wabah corona menerpa Indonesia, Maret 2020, secara umum kerja kepanitiaan Munas V Hidayatullah sangat terdampak. Bahkan sempat beberapa bulan vakum secara offline. Hingga kemudian, begitu memasuki era normal baru yang diterapkan pemerintah, tak lama bakda Ramadhan 1442H lalu, geliat itu kembali terlihat.
“Pertanggungjawaban (panitia Munas V Hidayatullah) kita ini bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada Allah!” tegas Bang Taju suatu saat mengingatkan koleganya agar selalu amanah.
Sinergi
Sementara itu, Rifa’i Fadhly Sakka (30) menggeber sepeda motornya yang ber-CC tinggi. Ia melaju meninggalkan Bogor, mengejar jadwal acara di Kota Depok.
Tas ransel besar dan berat berisi camera recorder turut dibawanya. Tiba di tujuan, videografer ini sama sekali tidak memakai kamera panggul itu. Kehadirannya memang untuk rapat saja, membahas acara webinar perdana pra Munas V(irtual). Adapun kamera besar itu dibawanya karena ia baru saja selesai melakukan pengambilan gambar sejumlah Rumah Qur’an program Baitul Maal Hidayatullah. Begitulah kesibukan Rifa’i jelang Munas.
Staf audio visual BMH yang turut diperbantukan di kepanitiaan ini harus pintar-pintar membagi waktu dan tenaganya, antara tugas kantor, tugas panitia, dan tugas sebagai suami. Semua dikerjakannya secara profesional.
Begitu pula dengan banyak kader Hidayatullah yang berkecimpung di berbagai amal usaha lainnya. Khususnya di area Depok, Jakarta, dan sekitarnya, banyak dari mereka yang diperbantukan di kepanitiaan Munas.
Sebut saja sejumlah anak muda di DPP Hidayatullah yang dilibatkan di Kesekretariatan Panitia, seperti Akil, Saiful Amry, Jorda, dan Syaiful Hidayat. Berderet pula nama-nama lainnya.
Ada pula Hanifuddin, salah seorang pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok yang juga banyak terlibat langsung termasuk secara teknis di kepanitiaan. Beberapa waktu sebelum Munas, saat sambungan internet khusus dari provider belum dipasang di Sekretariat Panitia, Hanif bekerja keras memasang sambungan jaringan data dari kantor yayasan.
Ia sampai harus memanjat dengan tangga bambu ke plafon gedung, layaknya seorang petugas, dibantu Ainuddin Chalik dan M Zainal –masing-masing aktif di Pemuda Hidayatullah dan PosDai, juga terlibat di panitia Munas– untuk menyambungkan kabel internet. Pekerjaan tidak ringan ini selesai jelang tengah malam. Esoknya, sejumlah panitia harus istirahat total setelah kelelahan.
Untuk mensukseskan Munas, panitia divisi lainnya juga aktif bersinergi. Rapat demi rapat digelar rutin pada skala tertentu, dengan protokol kesehatan.
Baca: Munas V Berakhir, Hidayatullah Siap Terus Bersinergi Bangun Indonesia Bermartabat
Kesibukan Ketua Panitia Munas V(irtual), Drs Wahyu Rahman, juga semakin padat. Meski begitu, Ustadz Wahyu, demikian akrab disapa, tetap memantau kinerja para santrinya, bahkan tak segan menyiapkan makanan dan minuman untuk para santri yang lembur di Sekretariat.
Seiring itu, Kampus Hidayatullah Depok dipercantik. Sekalipun Munas digelar virtual, peserta offline-nya sangat terbatas, namun membenahi kampus menjadi spirit tersendiri dalam menyemarakkan Munas.
Demi mensukseskan perhelatan ini pun, tim teknologi informasi (TI) bergerak secara masif, baik untuk kesuksesan di pusat acara maupun di 34 titik acara lainnya, termasuk dengan simulasi dan pelatihan terkait TI.
Selain upaya teknis, ikhtiar non-teknis juga dilakukan. Panitia saling mengingatkan untuk menggencarkan ibadah-ibadah nawafil seperti tahajud, wirid pagi dan sore, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya. “Shalat lail setiap malam,” Ketua YPPH Depok Ustadz Lalu Mabrur mengingatkan di sela-sela rapat.
Munas V Hidayatullah telah berlalu. Di antara hasil munas ini adalah penunjukan kembali Dr Nashirul Haq sebagai Ketua Umum DPP Hidayatullah dan sejumlah perombakan pengurus DPP. Dalam sambutannya, Ustadz Nashirul, demikian dikenal, menyampaikan komitmen ormas Islam itu untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak.
Sinergi memang kata kunci yang sangat penting dalam mensukseskan cita-cita besar umat Islam, termasuk secara internal Hidayatullah yang bervisi “Membangun Peradaban Islam”. Dalam konteks kepanitiaan Munas, peran penting sinergi sangat terlihat antar berbagai divisi kepanitiaan.
Tiga divisi yang sangat berkaitan erat adalah Divisi Kesekretariatan, Divis Humas, dan Divisi Acara. Bahkan sejak pra Munas, dengan menggelar 11 webinar, serta sejumlah sidang komisi.
Suatu malam, saat tim Humas baru selesai briefing jelang pembukaan Munas besoknya, Bang Taju tiba-tiba datang ke ruang Media Center. Ia baru saja tiba dari aula tempat akan berlangsungnya acara besok.
Malam itu memang cukup “menegangkan”. Maklum, beberapa jam lagi rangkaian live streaming pembukaan Munas segera dimulai pada pukul 02.00 WIB via Youtube resmi Hidayatullah ID. Semua komponen termasuk konten-konten terus dipastikan kesiapannya. Untuk memastikan acara besok berjalan lancar, Bang Taju mondar-mandir dari Media Center ke aula.
Divisi Kesekretariatan di bawah Koordinator Bang Salman -yang membawahi Tim IT, terkait erat dengan program live streaming tersebut- sudah berjibaku mempersiapkan kesuksesan acara. Untuk memback-up plan A yang telah disiapkan, Bang Taju meminta kesiapan Tim Humas untuk berjaga-jaga. Kami menyanggupi. Meskipun tampak lelah, Bang Taju tampak tetap terlihat semangat. Kami tak mau kalah.
“Saya ini tetap semangat karena teman-teman,” ungkap Bang Taju dengan nada agak tertahan. Sudah beberapa malam, yang kutahu, ia tidak tidur kecuali “tidur-tidur ayam” alias sekenanya. Tapi tak pernah kulihat ia merasa lelah dan letih. Entah mengapa, sepenggal kalimat Bang Taju itu tiba-tiba membuat “tangis pecah” dengan air mata yang kutahan kuat-kuat.
“Sejak awal kerja-kerja kita ini kerja-kerja akhirat, bukan kerja-kerja dunia,” ujar Ustadz Wahyu pada acara pembubaran panitia Munas V Hidayatullah, Rabu (05/11/2020) lalu. Ya Allah, memang jauh belum seberapa, tapi ridhailah usaha kami untuk membangun agamamu lewat lembaga ini, batinku penuh berharap. Aamiiin!* Abd. Syakur/Kru Media Center Munas V(irtual) Hidayatullah
- Sebagian artikel ini dimuat Majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2020 pada rubrik Laporan Khusus 47 Tahun “Bahtera” Hidayatullah