PIKIRAN Jaohakim Sakarigi menerawang. Bayangan indah pantai Mentawai seperti berada di pelupuk matanya. “Kelak kami bisa melihat laut, melihat kapal, dan memancing ikan setiap hari,” kata Hakim, sapaan Jaohakim, suatu siang di pertengahan Juli 2017.
Kala itu tahun 1996. Hakim masih sangat muda. Usianya baru menginjak 14 tahun. Bayangan itu muncul setelah ia diajak rekannya membuka lahan dakwah di Mentawai, kepulauan paling barat wilayah Sumatera.
Lalu berangkatlah Hakim dan 11 rekannya ke kepulauan tersebut. Sesampainya di Bumi Sikerei –sebutan lain dari kepulauan mentawai– bayangan indah itu mendadak pudar.
“Di sini cuma ada hutan belantara. Tidak ada kendaraan, tidak ada listrik,” cerita Hakim. Tempat tinggal pun hanya sebuah rumah sederhana yang atapnya bocor.
Namun cita-cita membangun sebuah pesantren di Mentawai tetap harus diwujudkan. Bayangan indah tadi terpaksa untuk sementara dikesampingkan dulu. Hakim dan rekan-rekannya menerima realitas bahwa mulai hari itu mereka harus bekerja keras membuka lahan di pulau tersebut.
Memang, tak semua bisa bertahan hidup di Mentawai. Seiring berjalannya waktu, dari 12 santri yang dikirim ke Mentawai, 6 orang menyerah. Mereka pulang meninggalkan Mentawai. Sementara 6 orang lagi tetap bertahan menaklukkan kerasnya bumi Mentawai, termasuk Hakim.
Lahan yang digarap Hakim dan kawan-kawan sebetulnya adalah lahan transmigrasi. Khusus di Pulau Sipora, salah satu pulau di Kepulauan Mentawai, ada 3 areal transmigrasi, yakni Satuan Pemukiman (SP) 1, 2, dan 3. Total luasnya mencapai lebih dari 100 hektar. Lahan yang digarap Hakim sendiri terletak di SP1.
Dulu, pemerintah mendatangkan sejumlah transmigran untuk menggarap lahan-lahan tersebut. Namun, kerasnya alam Mentawai menyebabkan para transmigran itu tak kuat dan menyerah. Satu persatu mereka kembali ke asalnya masing-masing.
Lahan yang digarap Hakim adalah milik keluarga Bakri. Luasnya 10 hektar. Salah seorang putra keluarga Bakri, Affifuddin, ikut bersama Hakim untuk menggarap lahan itu. Nama Bakri kemudian diabadikan menjadi nama masjid yang terletak di tengah-tengah Kampus Hidayatullah Mentawai.
Setahun kemudian, tepatnya pada November 1997, Hidayatullah secara resmi mengirimkan kadernya untuk memimpin pembangunan kampus di Mentawai. Surat tugas telah ditandatangani. Kader terpilih yang mengemban amanah tersebut adalah Mustaqim Dalang.
Berangkat dari Lhoksemauwe
Sebelumnya, Mustaqim bertugas di Lhoksemauwe, Aceh, selama dua tahun. Namun, setelah surat perintah “hijrah” ia terima, tekad pun ia tancapkan untuk pindah ke Mentawai. Ia siap menaklukkan beratnya medan dakwah di tempat yang baru.
“Sesulit apapun medan dakwah, itulah amanah yang harus saya laksanakan,” kata Mustaqim saat dijumpai pertengahan Juli lalu.
Mustaqim memiliki dua putri yang masih kecil. Putri pertama bernama Fatimah yang kala itu masih berusia 3 tahun. Sedang putri kedua bernama Fajar Nur yang masih berusia 3 bulan. Mustaqim membawa serta isteri dan kedua putri mungilnya, mengarungi Samudra Hindia, terombang ambing selama 9 jam di atas kapal kayu Sumber Rezeki.
Setibanya di Mentawai, Mustaqim terkejut. Kampus Hidayatullah yang dibayangkannya meleset dari perkiraan. Bangunan yang disebut-sebut sudah berdiri rupanya cuma sebuah masjid yang lantainya belum selesai, serta sebuah rumah sederhana yang atapnya bocor. Selebihnya hutan belantara.
Namun, pria kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur ini tak mau menyia-nyiakan waktunya dengan berkeluh kesah. Ia langsung bersosialisasi dengan masyarakat di pulau itu. Kebetulan, waktu itu, jumlah Muslim di Pulau Sipora cukup banyak. Mereka adalah transmigran dari luar Mentawai. Di SP1, misalnya, dari 150 keluarga yang menempati lahan tersebut, cuma 2 yang non-Muslim.
Selang beberapa hari kemudian, Mustaqim sudah didaulat menjadi penceramah pada perayaan Isra’ Mi’raj di masjid terbesar di pulau itu. Setelah kiprah pertama ini, Mustaqim mulai giat mengisi ceramah di beberapa masjid, termasuk khutbah Jumat. Ia kerap harus jalan kaki berkilometer untuk menuju tempat dakwah. Maklum, kendaraan belum ada. Jalan pun belum tembus menuju pelabuhan.
Mustaqim juga berdakwah di beberapa pulau di sekitar Sipora dengan menggunakan perahu kayu. Terkadang Mustaqim harus menginap beberapa hari di pulau-pulau itu. Lama kelamaan, masyarakat Mentawai mulai mengenai pesantren Hidayatullah. Atas bantuan masyarakat, pesantren ini bisa membangun sekolah sederhana pada tahun 2004.
Namun, cerita Mustaqim lagi, izin formal pendirian sekolah dari pemerintah belum ada. Maklum, murid-muridnya pun belum ada. Mustaqim kemudian mendatangi Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Mentawai.
“Saya bagi tugas dengan beliau. Saya mencari murid, beliau mengurus legalitas sekolah,” kata Mustaqim.
Mustaqim berhasil mengumpulkan 12 calom murid. Mereka semua anak transmigran Muslim di daerah itu. Tapi sayang, kepala kantor Kemenag tidak berhasil memperoleh izin.
Walau masih “ilegal”, Mustaqim tetap bertekad mengajari anak-anak yang telah direktutnya. Proses belajar mengajar sempat berjalan 6 bulan. Setelah itu, satu per satu anak-anak tersebut dibawa pulang orangtuanya. Akibatnya, sekolah sempaat kosong selama 6 bulan.
Untunglah menginjak semester baru, izin operasional keluar. Mustaqim kembali mencari murid-muridnya yang “hilang”. “Alhamdulillah kami berhasil mendapat 14 murid. Tiga di antaranya mualaf,” cerita Mustaqim.
Yang menarik, orang tua dari siswa mualaf ini mengantarkan langsung anaknya ke pesantren meski mereka masih non Muslim. Mereka meminta agar pesantren bisa mendidik anaknya menjadi baik. Namun, Mustaqim mengaku, tak banyak keluarga mualaf yang seperti itu.
Setiap kali libur sekolah, Mustaqim berpesan kepada para santrinya agar senantiasa memperlihatkan akhlak yang baik kepada keluarganya. Rupanya, ini menjadi daya tarik bagi siswa lain untuk ikut belajar di pesantren Hidayatullah. “Ketika mereka kembali ke pesantren, mereka membawa temannya untuk ikut sekolah di sini,” kata Mustaqim.
Mustaqim mengakui tidak ada gesekan yang mengkhawatirkan antar pemeluk agama di Mentawai. Masing-masing bisa saling memahami. Namun, kehidupaan bebas di luar kampus kerap membuat para santri tergoda, bahkan lari dari Islam.
Santri putri, misalnya, sering tergoda untuk membuka jilbabnya ketika sudah berada di luar. Begitu juga pergaulan antara laki-laki dan perempuan, sering kali tak terkontrol ketika berada di luar. Bahkan, bagi mualaf, keadaan seperti ini bisa menyebabkan mereka kembali kafir.
“Pernah ada santri mualaf kelas 2 pulang ke rumah saat liburan. Tapi dia tidak balik ke pesantren lagi. Kami dengar dia sudah menjadi Kristen,” cerita Mustaqim.
Ali Imron, Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Barat, menceritakan kendala yang sering dihadapi santri putri mualaf ketika sudah lulus SMA (Madrasah Aliyah).
“Jika mereka disuruh pulang ke keluarganya, mereka akan murtad kembali. Jika disuruh meneruskan kuliah, mereka tak punya biaya,” jelas Imron.
Akhirnya, mereka dinikahkan. Setelah menikah, pasangaan baru ini diminta tetap tinggal di pesantren. Mereka bisa membantu mengajar, berladang, atau apa saja yang bisa mereka kerjakan.
Mustaqim telah mengabdikan dirinya selama 18 tahun di Mentawai. Pondasi sebuah kampus peradaban telah ia tancapkan di kepulauan tersebut. Bahkan, karena kegigihan dakwahnya, Mustaqim dipercaya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepulauan Mentawai oleh para tokoh di kepulauan itu. Tak tanggung-tanggung, amanah itu ia pikul selama tiga periode.
Lalu, di pertengahan 2016, Mustaqim mengakhiri amanah yang telah ia pikul di Bumi Sikerei. Sebuah surat tugas baru ia terima. Ia dipindahkan ke Flores, tanah kelahirannya. “Saya diberi amanah sebagai penjaga dapur di Flores,” kata Mustaqim.
Pembangunan kampus peradaban yang telah dimulai oleh Mustaqim kemudian diteruskan oleh Mahrus Salam. Sementara Mustaqim Dalang, kini telah berpulang ke Rahmatullah.
Mustaqim meninggal dunia pada Senin (17/12/2018) pukul 01.20 WITA dinihari di Rumah Sakit Wirasakti Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), semasa mengabdikan dirinya sebagai dai di Pesantren Hidayatullah Kupang.
Sepak terjang dakwah almarhum menjadi spirit perjuangan bagi para generasi dan kader pelanjutnya.
“Petuah dan nasihat beliau selalu menjadi penguat dalam gerak langkah perjalanan Hidayatullah,” tutur Usman Aidil Wandan dai di Kupang kepada hidayatullah.com, Senin (17/12/2018) secara terpisah.* Mahladi/tulisan itu sebagian telah diterbitkan oleh Majalah Suara Hidayatullah edisi September 2017