SECARIK kertas ia ambil. Matanya pun menatap tajam ke arah kanvas bergambar pepaya dan tomat didepannya. Pepaya berwarna hijau, tomat berwarna merah. Pensil berwarna merah ia pilih untuk mewarnai gambar tomat, dan hijau ia gunakan tuk mewarnai gambar pepaya yang sudah tersedia diatas kertas.
Perlahan goresan warna merah menutupi permukaan visual gambar tomat, begitu pun gambar pepaya. Sesekali Ibu guru bertanya, ”Nak apa yang engkau gambar itu?” Dia menjawab, “Gambar pep..paya.”
Itulah remaja bernama lengkap Faishal Ahmad Bachtiar. Artikulasinya masih sering kabur, hanya beberapa kata saja yang terdengar jelas.
Pagi menjelang siang hari itu, ia sedang mendapat pelajaran mewarnai gambar buah tomat dan pepaya.
Faishol, demikian ia akrab disapa bukanlah anak SD lagi yang masih belajar mewarnai, sebab usianya kini sudah mencapai 19 tahun. Maklum, ia termasuk di antara penyandang Down Syndrome (DS).
Seperti diketahui, anak penderita Down Syndrome (DS) adalah mereka yang mengalami suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Kelainan genetik kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3, yang dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas.
Menurut catatan, DS terjadi satu di antara 700 kelahiran hidup atau 1 di antara 800-1000 kelahiran bayi. Diperkirakan saat ini terdapat empat juta penderita down syndrome di seluruh dunia, dan 300 ribu kasusnya terjadi di Indonesia.
Dengan mewarnai Faishol sedang dilatih motorik halus, konsentrasi, dan fokusnya. “Untuk mendidik anak berkebutuhan khusus seperti Faishol butuh pendampingan secara special,” ujar Yeyen, Wali Kelas Faishol di Yayasang Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Surabaya.
Karena harus berhati-hati dalam penanganan, dalam ruangan kelas berukuran 2X3 meter, biasanya hanya diisi dua rang siswa yang ditemani satu guru wali kelas.
Anak seperti Faishol membutuhkan perhatian penuh dari gurunya, bukan hanya di kelas tapi juga di luar ruang. Tindak tanduknya harus diawasi. Apa lagi ia tinggal di lingkungan sekolah yang dihuni berbagai macam anak yang berkebutuhan khusus.
Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Surabaya sendiri menampung 100 anak cacat termasuk Faishol. Anak-anak yang belajar di sekolah ini bermacam-macam, ada yang terbatas secara mental, fisik, dan pikiran.
Secara fisik, Faishol tumbuh seperti orang biasa, tapi anak yang hobi olahraga ini terbatas secara pikiran. Ia hanya memiliki IQ di bawah rata-rata, 25-50 poin.
“Jadi ketika merespon sesuatu sangat lambat.”
Meski demikian, banyak sisi positif darinya. Penggemar sayur ini, memiliki rasa empati yang tinggi. Perasaannya halus, pemalu, namun sangat patuh.
Menurut Yeyen, Down Syndrome (DS) yang dialami Faishol tak membuatnya putus asa untuk terus tumbuh dan berkembang. Apalagi ia termasuk anak beruntung karena orangtuanya memotivasi yang akhirnya banyak memberikan rasa percaya diri padanya
Akibat dukungan besar kedua orangtuanya, kini Faishol tumbuh menjadi anak yang berprestasi secara nasional mau pun internasional.
Ia langganan juara di Special Olympics Indonesia (SOINA), dan pada tahun 2009 sempat menjuarai lomba lari pada hari perayaan Down Syndrome (DS) se dunia di Taiwan.
Ubah Mindset Ortu
Salah satu dukungan besar pada penderita DS adalah dukungan kedua orangtua dan pihak keluarga. Tanpa itu, si pelaku tidak bisa berkembang secara baik.
“Ibu mana yang mau melahirkan anak dengan keterbasan fisik dan mental?” ujar Rina, ibu Faishol.
Wanita yang sehari-hari mengurusi masalah sosial khususnya disabilitas ini, mengaku tak menyesal melahirkan anaknya faishol yang menderita DS. Bahkan ia menunjukan kecintaannya dengan men-support total kegiatan putra semata wayangnya itu.
“Allah Subhanahu Wata’ala tidak pernah menciptakan produk gagal,” jelasnya pada hidayatullah.com.
Jadi tak perlu minder memiliki anak DS, ujar ibu yang kini menjadi Ketua Forum Komunikasi Keluarga Anak Disabilitas Khusus (FKK-ADK) Surabaya ini.
Menurutnya, banyak orangtua yang menganggap bahwa anak yang lahir catat adalah kutukan untuk orangtua yang melakukan dosa besar.
Padahal, menurut wanita yang sehari-hari berjilbab ini, dalam Islam tidak ada dosa warisan. Jadi cacat sejak lahir bukan karena dosa turunan orang tua, namun sudah pemberian dari Allah semata. Orang cacat bukanlah produk gagal yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala, mereka hanyalah manusia yang di uji Allah dengan keterbatasan.
Menurutnya, orangtua harus bisa merubah mindsetnya, bahwa semu ciptaan Allah memiliki tujuan dan arti tentang kehadirannya di dunia ini. Para orangtua lah yang harus memahami perannya sebagai tempat bersandar dan bergantung anak-anak cacat tersebut. Jika orangtuanya mengabaikan maka mereka telah lalai terhadap amanah.
“Saya pun tak mengira akan melahirkan Faishol dengan dalam keadaan seperti ini, padahal saya sudah periksa kandungan, menjaga kehamilan, konsumsi makanan bergizi dan minum vitamin, ” tutur Rina. Karena kelahirannya tak bisa ditolak. Ia pun menerima dengan lapang dada.
Dengan sabar dan besar hati, wanita yang aktif di Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jatim ini, tetap istoqomah menemani putranya tumbuh dan berkembang.
“Tidak ada kata menyerah, meratapi nasib, apa lagi putus asa, karena putus asa itu sifat tercela dalam Islam,” ungkapnya.
“Kalau saja saya berhenti untuk mendampinginya, Faishol tidak akan jadi seperti ini sekarang,” lanjutnya.
Menurutnya, ada dua tipe orang dalam menghadapi kondisi anaknya yang dilahirkan cacat. Pertama; orang desa. Golongan ini tak tahu bagaimana cara memperlakukan anaknya yang cacat. Ilmu untuk melayani anak yang cacat mereka tak miliki.
Kedua orang kota. Kelompok ini biasanya sudah paham bagaimana cara melayani anak yang cacat, tetapi mereka gengsi, takut mempengaruhi nama baik, dan khawatir karirnya akan terhambat, karena mengurus anak DS itu menyita waktu.
Jadi menurutnya, sekarang tergantung orang tuanya masing-masing, kalau ingin melihat hidup anaknya lebih baik, harus meluangkan waktu, tenaga dan pikiran sepenuhnya. Ikhlas menerima tanpa sayarat apa pun, sayangi dan cintai mereka dengan tulus.
Apalagi menurutnya, kehidupan anak DS jauh terbalik dengan anak normal biasanya. Hati mereka lembut, perasaannya halus, moody dan patuh pada intruksi dan kebiasaan yang dibangun. Hidup mereka sangat bergantung pada contoh orang disekitarnya. Hal ini membawa dampak baik untuk kedisiplinan keluarga, karena jika keluarga lengah tak memiliki aturan dan kebiasaan hidup yang baik maka anak DS pun akan larut dalam kebiasaan buruk.
“Sejuta hikmah bisa didapat, jika dada lapang menerima dengan ikhlas amanah anak yang harus dijaga, dirawat, dan dibesarkannya. Pasti ada maksud dan tujuan Allah mengahadirkan anak yang berkebutuhan khusus dalam sebuah keluarga,” ujar Rina.
Berkat kesabarannya, di tengah keterbatasan, berbagai penghargaaan telah didapat Faishol, baik dalam skala nasional maupun internasional.*/Samsul Bahri