Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Masjid Pertama, Warisan Sejarah bagi Semua Orang Kanada

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Januari 2012 10:26
Bagikan
Bagikan

MEI ini, saat orang-orang Muslim memperingati dua puluh tahun peresmian masuknya Masjid Al-Rashid di Fort Edmonton Park, museum sejarah terbesar di Kanada, yang perlu menjadi sorotan adalah kepeloporan para Muslimah dalam peristiwa bersejarah ini.

Lima puluh tahun setelah mereka membantu perampungan pembangunan masjid pertama di Kanada pada 1938, para perempuan menggelar kampanye untuk menyelamatkannya dari pembongkaran. Mereka mengejutkan banyak orang tidak saja dengan melestarikan suatu warisan sejarah Kanada yang tidak tergantikan ini tetapi juga mengabadikannya di museum sejarah. Al-Rashid, yang pernah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang ramai, mulai terlantar setelah jamaah masjid semakin tidak tertampung dan pindah ke sebuah pusat kegiatan Islam yang baru pada 1982. Sejumlah upaya untuk menggalang dana dan mencari lokasi baru bagi bangunan tua ini gagal. Al-Rashid siap dirobohkan pada 1988. Tidak lagi punya pilihan lain, kaum Muslim pun hanya bisa berharap akan adanya mukjizat.

Bagi banyak orang, termasuk orang-orang Kanada dari agama lain, kehilangan masjid tertua yang juga bangunan bersejarah Kanada tidaklah terbayangkan. Al-Rashid lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia juga kisah perjuangan, penyesuaian dan integrasi para warga Muslim awal.

Sementara masyarakat bersiap diri untuk menghadapi hal yang tidak terelakkan, Terrific Twelve, sekelompok dua belas perempuan yang tergabung dalam sebuah organisasi yang relatif baru dan belum teruji, yaitu Canadian Council of Muslim Women (CCMW), yang didirikan pada 1982 untuk menyuarakan suara para Muslimah, secara berani mulai melakukan aksi penyelamatan masjid. Dipimpin oleh Lila Fahlman dan Razia Jaffer, masing-masing pendiri dan presiden CCMW, para perempuan muda dan terpelajar yang berasal dari latar belakang etnis dan budaya yang beragam ini meliputi orang-orang Kanada generasi kedua, imigran baru, perempuan pekerja, ibu rumah tangga dan perempuan karir yang belum berkeluarga.

Keberanian mereka untuk mengambil alih apa yang gagal dilakukan para pemuka masyarakat membuat heboh. Media terkejut oleh “gejala aneh” ini karena Terrific Twelve tidak sesuai dengan stereotipe perempuan Muslim sebagai ibu rumah tangga yang hanya tunduk pada suami. Dalam masyarakat Muslim sendiri ada orang-orang yang skeptis. Berbagai keraguan dilontarkan menyangkut kemampuan sebuah organisasi perempuan untuk memimpin proyek ini. Sebagian orang menyebut langkah ini naif, sementara yang lain menyambut baik.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Tidak terpengaruh, para perempuan ini pun terus maju. Upaya mereka yang tidak kenal lelah membungkam banyak orang yang skeptis dan menginspirasi masyarakat Muslim yang sudah putus asa. Mereka membentuk aliansi dengan berbagai organisasi arus utama Kanada yang tertarik untuk melestarikan bangunan-bangunan tua dan unik demi menggunakan pengaruh organisasi-organisasi ini, dan melancarkan suatu kampanye pendidikan untuk meredakan ketakutan orang-orang yang memandang dimasukkannya sebuah masjid ke dalam museum sejarah Kanada sebagai “campur tangan asing”, dengan menekankan kontribusi orang-orang Alberta dari semua agama dalam pembangunan masjid ini dan asal-muasal keberadaan Muslim di negara ini yang lebih dulu dari Konfederasi Kanada pada 1867.

Pada akhirnya, mereka menang. Dana terkumpul dan otoritas konservasi sepakat bahwa masjid ini, sebagai sebuah tempat bersejarah yang memiliki nilai warisan, layak masuk dalam museum sejarah. Pada 1992, Al-Rashid yang sudah terenovasi, yang diperbaiki dengan standar ketelitian yang tinggi seperti yang ditentukan untuk bangunan-bangunan bersejarah, dan dikembalikan ke tampilan awalnya pada 1938 dengan hiasan yang orisinil, dibuka untuk umum di Fort Edmonton Park di tengah berbagai sambutan penghormatan terhadap para perempuan luar biasa ini.

Kini, masjid ini merupakan pusaka yang hidup bagi semua orang Kanada. Alih-alih menaati cara berpiki kuno, para tokoh Terrific Twelve menentang sikap yang telah berurat akar, membuang asumsi-asumsi usang dan mengubah cara pejabat setempat memandang warisan kolektif semua orang Kanada.

Pelestarian Al-Rashid bukanlah sebuah isu Muslim, kata mereka – yang mengejutan banyak orang Muslim. Sebagai sebuah bangunan warisan sejarah, ia milik semua orang Kanada dan mereka sama-sama memiliki kewajiban untuk mewariskan pusaka kolektif mereka ke generasi selanjutnya, tanpa berkurang. Seruan mereka didengar. Organisasi-organisasi terkenal seperti Fort Edmonton Foundation dan Alberta Historical Society menyumbang dana, dan membuat ini satu-satunya contoh sebuah bangunan keagamaan Muslim yang sepenuhnya didanai oleh orang Kanada dengan sumbangan dari organisasi-organisasi arus utama.

Kedengarannya sederhana, tetapi ini sesungguhnya sebuah lompatan besar dalam berpikir dan bersikap. Ini membuat orang-orang Muslim melihat diri mereka sebagai bagian integral dari masyarakat yang lebih luas dan membuat semua orang Kanada sadar bahwa warisan sejarah Kanada tidaklah sekadar adat, tradisi dan artefak yang bersumber dari Eropa.*

Penulis Daood Hamdani, pelopor kajian Muslim Kanada, dosen di Canadian Muslim Leadership Institute dan pengarang “The Al-Rashid: Canada’s First Mosque 1938” dan “In the Footsteps of Canadian Muslim Women 1837-2007”.  Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamMedia Islamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Video Game Hanya Bikin Anak Lambat Membaca
Tulisan selanjutnya Prancis: Pilih Sanksi Diperberat daripada Intervensi Militer ke Iran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan

Berita
3 Juli 2026 22:30
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Terbaru

  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?