SEBELUM bermimpi dan masuk Islam, H.Maliki sering mendengar ceramah da`i berjuta umat, KH.Zainuddin MZ (alm) di Gemini FM melalui radio tetangganya yang Muslim.
“Dalam (salah satu) ceramahnya MZ bilang kalau orang sudah beriman itu bersaudara. Saya tertarik sama itu. Berarti kan seluruh dunia kita bersaudara. Kalau kita lain agama kan itu saja saudara kita. Ini seluruh dunia saudara kita, yang beriman,” ujar H.Maliki.
Lalu terjadilah diskusi dengan sang istri tercinta. “Ibu (Hj. Siti Maryam) bilang kalau begini kita pilih Islam saja, Islam itu bagus,” kata H.Maliki menceritakan kesepakatannya dengan istrinya untuk memeluk Islam.
Lalu H.Maliki berdiskusi dengan seorang temannya bernama H. Saleh di Bon Jeruk Lombok Tengah yang kemudian menyarankannya untuk segera masuk Islam setelah mimpinya itu. Awalnya H. Maliki akan mengikrarkan dua kalimah syahadat di Kediri Lombok Barat. Tapi malam Jumat 18 Mei 1989, H. Saleh mengundangnya ke Bon Jeruk.
Sesampai di sana sudah berkumpul banyak orang di masjid, ada roah (doa selamatan) juga dalam rangka pengislaman Ang Thian Kok dan istri. Pengislamannya dilakukan oleh TGH. Hukum (alm).
“Untung saya sudah belajar dua kalimah syahadat (sebelumnya), hehehe,” kata H. Maliki bersyukur.
Sebagai rasa syukur kepada Allah swt, H.Maliki dan keluarga pun mengadakan dua kali syukuran. Yaitu tanggal 20 Mei 1989 syukuran di Kediri oleh Raden TGH. Muhammad Idris (alm), Pengajar di Ponpes Ishlahuddin dan 1 Juni 1989 di Masjid At Takwa Mataram disaksikan oleh H. Ahmad Usman (dari Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTB). H.Maliki mengakui semenjak memeluk Islam perasaannya menjadi nyaman, tenang, serta ikhlas menerima apapun ketentuan Allah.
Selain mendirikan musolla, di rumahnya sendiri di Selagalas, H.Maliki setiap malam Kamis mengadakan kegiatan rutin pengajian Majlis Ta`lim Athaillah. Kegiatan ini dilaksanakan Di Musolla Athaillah miliknya. Banyak ustaz dan tuan guru yang mengisi pengajian ini.
“Ada yang 2 tahun baru kebagian, ada yang 10 tahun,” cerita H. Maliki mengenai giliran ustaz atau tuan guru yang mengisi pengajian. Ditambahkannya, penceramah yang mengisi pengajian juga dari berbagai latar ilmu pengetahuan.
Kegiatan ini kata Haji Maliki telah dilaksanakan sejak 17 Agustus tahun 2000.
“Tidak ada kendala berarti tapi malah makin maju,” ceritanya. Kegiatan ini hanya libur pada saat Bulan Ramadhan karena ada Shalat tarawih. Beberapa nama penceramah yang pernah mengisi pengajian di antaranya TGH. Muharrar, TGH. Ahmad Mukhlis, TGH Ilham, Prof. Dr. Zainuri, Prof. Dr. Lukmanul Hakim, Prof. Dr. Fakhrurrozi, Dr. Masruri, Ustaz Muammar, TGH. Ulul Azmy, TGH. Sahri Ramadhan, TGH. Subki As-Sasaki dan lain-lain. Tidak kurang dari 150-an tuan guru, ustaz, Kiai se-Lombok pernah mengisi pengajian.
Ingin Bermanfaat bagi Islam
Menurut H. Sahrim, yang biasa bertugas menjemput ustaz atau tuan guru untuk mengisi pengajian, semenjak memeluk Agama Islam, prinsip yang dipegang oleh H.M.Maliki adalah bagaimana berjuang dan bermanfaat sebaik-baiknya bagi Islam.
”Beliau ini sangat memegang prinsip “sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain,” kata H.Sahrim.
Dikatakannya, segala usaha yang dilakukan oleh H.Maliki tidak ada lain tujuannya selain untuk ibadah. Dan itu terbukti dengan musholla yang dibangunnya dan kegiatan pengajian di rumahnya.
“Bagaimana caranya supaya kita maju agama Islam agar terus diperjuangkan. Islam kan besar, masak kita mau kalah sama orang lain,” sambung H.Maliki.
“Kalau untuk Islam saya gak hitung, Seneng saya supaya bagaimana bisa maju,” tambahnya.
Keberkahan dari rizki yang dipakai untuk berjuang di jalan Allah itulah yang membuatnya besar. H.Maliki memiliki sebuah toko Snack yang bernama Toko Sari di Bertais, Terminal Mandalika Mataram, dari sanalah rezeki yang lebih banyak disedekahkannya itu ia dapatkan.
“Jual snack saya tidak begitu mahal, supaya orang dapat untung banyak, beli di saya Rp 75.000, dijual kotor Rp 150.000,” katanya.
Padahal, kalau mau dia bisa menaikkan harga semaunya karena dia satu-satunya agen di Lombok.
“Apalagi jajan (snack) ini sendiri saya yang jual jadi mau menaikkan atau menurunkan harga juga bisa, Bisa naik turunkan, kalau kita ndak Islam mungkin bisa kita naikkan,” tutur pria bercucu 8 ini.
Pada saat diwawancara di Musolla Abu Bakar As-Shiddiq miliknya, selain ditemani oleh H.Sahrim. ada juga H.M. Farhan yang menjadi informan di mana H.Maliki bisa membeli tanah untuk mushola dan ada juga Pak Sahman yang bertugas menjaga Musolla Abu Bakar As-Shiddiq Sangiang sebagaimana Pak Satral yang menjaga Musolla Ridwan Jurang Malang. Kedua musholla ini juga setiap sebulan sekali pada hari Jumat diisi dengan pengajian. Untuk lebih khusu` ibadah Jumat serta pengajian, Toko Sari milik H.Maliki diliburkan pada hari Jumat.
“Hari Jumat libur biar bisa konsentrasi ibadah karena tidak perlu mikirin jualan,” cerita H.Maliki.
Nikah di Mushollanya dapat Kambing
Baik Mushola Ridwan, musholla Abu Bakar As-Shiddiq dan Musholla Athaaillah bisa dimanfaatkan untuk segala jenis kegiatan agama Islam, tidak hanya ibadah mahdah seperti shalat tapi juga yang lain seperti tempat belajar Al-Qur`an, rapat, bahkan akad nikah.
“Musholla untuk agama dipakai saja, nikah di sini (Musholla Athaaillah) dapat kambing,” kata H.Maliki.
Keberhasilan H.Maliki dalam bidang bisnis hingga memeluk agama Islam sebagaimana umumnya cerita orang sukses tidak diawali dengan manis-manis saja. Pria yang lahir di Mataram ini mengaku awalnya bekerja sebagai tukang las tralis selama 5 tahun di Sumbawa.
Kemudian kembali ke Lombok bekerja di bengkel. Namun setahun setelah menikah dia memutuskan untuk membuat mebel besi Tunas Mekar sedang istrinya membuka sebuah salon yang dinamai Salon Rika.
Pada perkembangan selanjutnya, Camat Cakranegara saat itu, Suardi memberikan satu toko gratis kepada H.Maliki sebagai hadiah bagi kemuallafannya yang kemudian dipakainya untuk menjual kelontong.

“Berarti bagus orang Islam ini, kita yang bersaudara (kandung) aja disuruh bayar ini gratis,” kata H.Maliki menceritakan kekagumannya kepada Islam pada awal mula keislamannya. Baru kemudian tahun 1996 membangun Toko Sari yang menjual aneka macam snack.
Ingin Bangun Masjid PITI
Di Mushollah Athaillah, setiap hari besar Islam, juga diadakan sunatan masssal sekitar 100 anak. H.Maliki belum merasa puas, dia masih akan terus berjuang untuk Islam dan membangun musholla yang unik.
“Masih ada 3 sahabat yang belum (Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), target untuk terus membangun,” jelas H.Maliki tentang targetnya yang belum tercapai. Bahkan, pria yang pandai berhitung tanpa kalkulator ini ingin membangun masjid PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/Pembina Iman Tauhid Islam) untuk syiar Agama Islam di Lombok.
“Yang paling penting bermanfaat bagi orang lain. Nanti dibilang riak, mohon ridha Allah, membuat rumah Allah nanti bukan hanya diganti tapi ditambah oleh Allah,” tutur Ketua DPW PITI NTB ini. H. Sahrim dan Pak Sahman yang duduk di samping H.Maliki tidak tahan untuk tidak menceritakan kebaikan H.Maliki.
“Makin banyak membangun (untuk agama Islam) justru makin banyak rezekinya,” tambah Pak Sahman. Tidak hanya itu, segala jenis buah-buahan seperti rambutan, durian, maupun ikan, kelapa, ayam, yang ada di sekitar musholla tidak dijual tapi boleh diambil oleh siapapun untuk dimakan di tempat. Sebuah kali di dekat musholla Abu Bakar Assiddiq pun sengaja ditalut. “
Sengaja kita talut supaya masyarakat bisa dengan mudah mengambil pasirnya,” kata H.M.Maliki sambil berjalan untuk pergi Shalat Jumat.*/Muhammad Busyairi (Lombok)