Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Pejabat jadi Rakyat Jelata Bertahun-tahun

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 13 Juli 2014 15:49 3:49 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 13 Juli 2014 15:49
Bagikan
Abdul Aziz (baju putih) bersama pengurus pesantren di Kalimulya, Depok dalam sebuah acara aqiqahan
Bagikan

“ASSALAMU’ALAIKUM warahmatullah…”

Seorang imam menoleh ke kiri sembari mengucapkan salam kedua. Gerakannya diikuti ratusan orang di belakanganya. Ritual ini menandakan shalat Shubuh berjamaah di sebuah masjid baru saja berakhir. Seketika, suasana di ruangan semi terbuka itu diliputi keheningan. Jamaah pun terpekur dengan dzikir masing-masing.

Tiba-tiba…

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Sebuah suara memecah kebuntuan. Salam ketiga pada pagi nan gelap itu berasal dari barisan sang imam. Namun, yang mengucapkannya bukan imam tersebut, melainkan seorang jamaah yang baru saja menjadi makmum shalat.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Makmum tersebut adalah seorang pejabat di Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta. Pekan kedua di bulan Ramadhan 1435 H itu, sang pejabat tengah berdiri di atas podium. Tapi siapa sangka, berdirinya dia di depan jamaah Masjid Ummul Quraa, Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat lantaran sebagai rakyat jelata.

Ya, rakyat jelata! Dialah Abdul Aziz Kahar Muzakkar, mantan Calon Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel). Pria kalem ini yang mengakui sendiri bahwa dirinya rakyat jelata.

“Sejak tinggal di Depok tahun 1998, saya selalu menjadi rakyat jelata ini. Belum pernah saya ditunjuk menduduki jabatan di sini,” ujarnya di balik pengeras suara saat menyampaikan tausiyah usai Shubuh.

Sebagaian jamaah masjid termasuk awak hidayatullah.com yang mendengarnya manggut-manggut. Jamaah tersebut adalah para ustadz, warga, dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Di depan mereka, Abdul Aziz tampil dengan ‘seragam’ mirip para jamaah. Ia berpeci putih, berbaju koko putih, dengan sarung kecoklatan berwarna mirip podium kayu yang tengah diinjaknya pada Sabtu (12/7/2014) itu.

Abdul Aziz menuturkan, sebenarnya dirinya pernah menduduki jabatan elit di sebuah ormas Islam, yaitu sebagai ketua dewan syura. Walau begitu, khusus di kampus pesantren tersebut, dia tak pernah menjabat sebagai apapun.

Olehnya, di pesantren itu dia selalu menganggap dirinya adalah rakyat jelata. Sebagai rakyat, tugasnya mengikuti setiap aturan pesantren dan perintah para pengurusnya.

Bangun Tengah Malam

Meski begitu, Abdul Aziz mengaku, dia juga kerap dimintai pendapat oleh pengurus pesantren. Dia pun tak sungkan melontarkan ide, saran, pun kritik. Tapi tetap saja keputusan dari para pengurus yang dia taati.

“Sebagai rakyat jelata, saya menunggu saja apa keputusan-keputusan di sini. Karena saya sebagai anggota jamaah di sini,” ungkap putra dari tokoh perjuangan kemerdekaan RI di Sulsel, Kahar Muzakkar ini.

Misalnya saat pengurus pesantren menganjurkan para jamaah untuk qiyamul lail, memakmurkan Masjid Ummul Quraa setiap malam selama Ramadhan ini. Abdul Aziz pun rela bangun tengah malam menuju masjid.

“Apalagi sekarang-sekarang ini kita bisa menikmati shalat Lail secara berjamaah. Karena dipimpin serang hafizh (penghafal al-Qur’an),” ujar suami Sabriati Aziz yang rumahnya jadi ‘pagar hidup’ kompleks pesantren tersebut.

Abdul Aziz saat berceramah di Masjid Ummul Quraa Depok (Foto: Syakur)
Abdul Aziz saat berceramah di Masjid Ummul Quraa Depok (Foto: Syakur)

Selama ini di Kalimulya, keseharian pria 50-an tahun tersebut memang cukup merakyat. Jika diundang mengikuti berbagai hajatan para tetangganya, dia tak sungkan menghadirinya. Jika sudah hadir, seringkali dia diminta menyampaikan ceramah atau sambutan, mulai acara pernikahan sampai aqiqahan.

Apa sebab anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulsel ini mau bersikap merakyat? Rupanya ada prinsip yang selalu dipegangnya. Katanya, kalau menginginkan pemimpin yang baik, maka seseorang harus jadi rakyat yang baik.

“Sebelum jadi pemimpin yang hebat, harus jadi rakyat hebat dulu,” ujar Ketua Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam ini berpesan.

Jadi, kata Abdul Aziz, kehebatan jamaah, kehebatan Islam, tidak hanya tergantung pemimpinnya, tapi juga justru tergantung dari yang dipimpin.

“Kita harus benar-benar memahami juga bagaimana menjadi rakyat yang baik,” imbuhnya.

Ada syarat untuk jadi rakyat yang baik, kata dia, “Satu, jangan pernah masbuk (shalat). Mari kita tekad jadi rakyat yang baik, kita bertekad untuk tidak masbuk. Selebihnya bagaimana kita mentaati seluruh aturan-aturan yang ada di lembaga (pesantren) ini.”

Mungkin karena prinsip itu, pada pemilihan legislatif 9 April 2014 lalu, Abdul Aziz kembali dipercaya masyarakat Sulsel untuk terus mewakili mereka di Senayan hingga periode ketiga ini.

Yang membuat Abdul Aziz betah tinggal di pesantren adalah karena terjaganya kehidupan berjamaah. Baginya ini suatu hal yang patut disyukuri kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

“Kita punya pemimpin, kita punya lokasi, kita punya aturan, sangat jelas. Dengan adanya kekurangan di sana-sini, tapi saya kira sangat-sangat patut kita bersyukur. Bisa menikmati kenikmatan berislam dalam jamaah ini. Termasuk yang sangat penting sekali kenikmatan shalat berjamaah lima waktu,” ujarnya.

Tausiyah Abdul Aziz tersebut tampaknya bukan pepesan kosong. Sabtu pagi itu, sebenarnya bukan jadwalnya dia untuk mengisi taklim rutin usai Shubuh di Ummul Quraa. Namun karena satu hal, pemateri utamanya berhalangan hadir. Takmir masjid lantas meminta Abdul Aziz untuk menggantikan. Dia pun taat saja.

“Semestinya tanggal 21 (Juli), tapi oleh panitia diminta Shubuh ini,” ujarnya di awal tausiyah bertema “jamaah” itu.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pesantren
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gunakan Pengecoh Iron Dome Roket Al-Qassam Meledak di Ashkelon
Tulisan selanjutnya Bikin Kerusuhan 94 Mahasiswa Dikeluarkan dari Universitas Kairo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Berita
14 Juli 2026 14:52
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?