Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Ada Restu Amerika dalam Pembantaian Sabra Shatila

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 21 September 2012 10:06
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Sebuah dokumen yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya tentang hubungan antara Amerika Serikat dan Israel pada saat terjadi pembantaian atas warga Palestina di Sabra dan Shatila, Libanon, 30 tahun lalu diungkap oleh seorang reporter Amerika.

Isi dokumen yang mengejutkan itu ditungkan dalam artikel dan dimuat koran Prancis terkemuka, Le Monde. Di dalamnya tergambar jelas bahwa Washington menolak untuk menekan keras Israel pada saat pembantaian itu terjadi di pada pertenghan September 1982.

Perselisihan antara para pejabat Amerika Serikat dengan Israel mengenai serangan atas pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila berlangsung sejak 30 tahun lalu hingga hari ini.

Dalam rekaman, Duta Besar AS Morris Draper memperingatkan para pejabat Israel tentang “posisi dasar” Amerika Serikat ketika itu. “Menurut kami kalian tidak perlu masuk –di Beirut– kalian harus keluar,” kata Draper, dikutip Al Arabiya (20/9/2012).

Ariel Sharon yang ketika itu menjabat menteri pertahanan Israel menjawab, “Apakah kalian sudah memikirkannya atau tidak … Jika terdapat masalah keamanan -Israel- dalam taruhan, maka itu adalah tanggungjawab kami. Kami tidak ingin orang lain memutuskannya untuk kami.”

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Silat lidah kedua pejabat negara yang bersekutu erat itu terekam dalam dokumen bertanggal 15 September – 20 September 1982.

Pembantaian Sabra-Shatila yang memakan korban tewas hingga 3.000 orang Palestina terjadi pada 16-18 September 1982 tanpa henti. Baca kisah sebelumnya, “Sabra Shatila dalam kenangan penyair Gaza”.

Pekan ini, seorang peneliti AS di Columbia bernama Seth Anziska yang memiliki akses atas arsip-arsip Israel, menulis sebuah artikel untuk New York Times. Dalam artikel itu Anziska menyoroti politik Libanon di Washington sekitar masa itu dan hubungan Israel-Amerika Serikat.

Dalam dokumen, Draper memperingatkan bahwa orang-orang yang mengkritik akan berkata, “Tentu saja, IDF [militer Israel] akan tinggal di Beirut Barat dan mereka akan membiarkan orang Libanon membunuhi orang Palestina di kamp-kamp mereka.”

Sharon menjawab, “Jadi, kita akan bunuh mereka. Mereka tidak akan dibiarkan tinggal di sana. Kalian (AS) tidak akan menyelamatkan mereka. Kalian tidak akan menyelamatkan kelompok-kelompok teroris internasional ini.”

Draper menjawab Sharon, “Kami tidak tertarik untuk menyelamatkan orang-orang ini.”

Sharon lalu bersumpah, “Jika kalian tidak ingin orang Libanon yang membunuh mereka (orang Palestina), maka kami yang akan membunuh mereka.”

Percakapan lain yang mengejutkan adalah bahwa Amerika Serikat sudah menyiapkan “jalan keluar” bagi Organisasi Pembebasan Palestina PLO untuk keluar dari Beirut sebelum pembantaian itu terjadi.

“Jadi tidak perlu kalian (Israel) masuk (ke Beirut),” kata Draper. “Kalian harus tetap di luar,” imbuhnya.

Tetapi Sharon justru menjawab, “Jika itu berhubungan dengan keamanan kami, kami tidak pernah memintanya. Kami tidak akan pernah memintanya. Jika ini menyangkut eksistensi dan keamanan, maka ini adalah tanggungjawab kami sendiri dan kami tidak akan pernah memberikannya kepada siapapun untuk memutuskannya.”

Pertemuan pejabat Amerika Serikat dan Israel itu pun akhirnya berakhir dengan kesepakatan untuk melakukan koordinasi jadwal penarikan pasukan setelah tahun baru Yahudi Rosh Hashana.

Pada 18 September 1982 presiden Amerika Serikat ketika itu, Ronald Reagen, mengumumkan “kemarahan dan kejijikannya terhadap pembunuhan tersebut.”

Menteri Luar Negeri George P. Shultz kemudian mengakui bahwa Amerika Serikat sebagian bertanggungjawab atas peristiwa berdarah itu, karena “kami membiarkan Israel dan Libanon melaksanakan ucapannya … Sekarang kami mendapatkan pembantaian ini.”

Cuplikan dokumen di atas menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berusaha mencegah pembunuhan atas rakyat Palestina yang mengungsi di Libanon ketika itu. Bahkan pejabat AS menyatakan bahwa negaranya tidak tertarik untuk menyelamatkan orang-orang Palestina yang akan dibunuh Libanon atau Israel.

Setelah pembantaian itu terjadi, Amerika Serikat baru kemudian mengirimkan anggota marinirnya ke Libanon. Tetapi sebagian dari mereka tewas akibat bom yang menghantam baraknya.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menolak memberikan komentar, saat stasiun televisi Al Arabiya edisi bahasa Inggris mengontaknya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AmerikaisraelLibanonold migratepalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rohis Se-Indonesia Akan Gelar “Demo Akbar” Serentak
Tulisan selanjutnya Prancis Didesak Beri Sanksi Hukum Majalah “Chalie Hebdo”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?