Sejak beberapa waktu lalu, Nanggroe Aceh Darussalam kembali menjadi perhatian dunia. Pasalnya, provinsi di ujung barat Indonesia ini kedatangan ribuan pengungsi Myanmar-Bangladesh. Atas kerjasama Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan Kelompok Media Hidayatullah (KMH), wartawan hidayatullah.com, Muh. Abdus Syakur dikirim ke Tanah Rencong. Berikut catatan perjalanannya yang ditulis secara berseri.
BURUNG besi berlogo kepala singa itu mendarat mulus di Bandara Kualanamu Medan, Sumatera Utara. Jumat, jelang tengah malam, pesawat yang terbang dari Soekarno Hatta International Airport ini telat satu jam. Syukurnya, kawan-kawan penjemput setia menunggu kami, saya dan dua rekan dari Traditional Islamic Medicine (TIM) –yang sama-sama dari Jakarta.
Ketika hari berganti, kami sudah bergabung dengan rombongan lainnya di Kabupaten Deli Serdang. Pukul 2 dinihari kurang, iring-iringan dua mobil kami langsung bergerak menuju Kota Langsa. “Dari (Deli Serdang) sini sekitar 5 jam kalau lancar. Kita usahakan pagi sudah di Langsa,” ujar Ayyub Masdar, staf BMH Medan, sebelum menancap gas mobilnya.
Dengan kelajuan rata-rata 100 km per jam, kami membelah keheningan Jalan Raya Medan-Banda Aceh. Langsa memang lebih dekat dengan Medan dibanding dari Banda Aceh, Ibukota NAD yang juga melayani penerbangan rute Jakarta.
Jelang waktu Shubuh, rombongan singgah istirahat di Masjid Namiroh, Kabupaten Langkat, Sumut. Usai shalat berjamaah dengan warga kampung, perjalanan dilanjutkan. Kami pun tiba di gerbang masuk Langsa sekitar 3,5 jam kemudian.
Sabtu, 23 Mei 2015 itu adalah misi BMH Peduli Rohingya yang ke sekian kalinya. Sebanyak 135 item perlengkapan shalat, 221 bentuk kemasan makanan-minuman, dan berbagai bantuan lainnya disalurkan ke pengungsian di Kuala Langsa. Sementara TIM, terdiri dari dua orang, turut andil menyumbangkan ratusan botol suplemen dan krim kesehatan. Aksi ini berlangsung selama dua hari.
Ahad siang, setelah 8 kru BMH-TIM kembali ke Medan, saya harus bertahan sendiri. Perjalanan penuh pengalaman baru sedang dimulai.
I’m Following You
Di Provinsi NAD terdapat 4 lokasi pengungsian Rohingya. Yaitu Kuala Cangkoi (Aceh Utara), Kuala Langsa (Langsa), Birem Bayeun (Aceh Timur), dan Kuala Simpang (Aceh Tamiang). Berdasarkan catatan Badan PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) hingga penghujung Mei, pengungsi Rohingya terbanyak di Langsa (667 jiwa). Di Kota Hijau ini, para pengungsi ditempatkan di Pelabuhan Kuala Langsa, sekitar 5 kilometer dari kawasan perkotaan.
Tak ada angkutan umum yang khusus melayani rute dari dan ke Kuala Langsa. Atas alasan itu, Ahad malam di hari keduaku bertugas, saya memilih menginap di kamp pengungsian. Sebuah mushalla yang didirikan Majelis Ta’lim Assunni dan BNPB menjadi tempat tujuanku.
Waktu Isya baru saja berlalu. Sebagian jamaah shalat sudah kembali ke barak. Beberapa orang Rohingya dan relawan Indonesia sedang asyik mengobrol, sambil saling mengajari bahasa masing-masing. Cukup menggelikan saat mendengar mereka menertawakan sesuatu yang jadi lucu karena perbedaan bahasa.
Sementara itu di luar tenda khusus shalat ini, hujan tengah mengguyur deras. Setelah rinainya berangsur hilang, halaqah singkat “pelajaran bahasa” tadi bubar. Tersisa seorang pengungsi yang masih sibuk dengan pena dan kertas. Saya tertarik mendekatinya. Rupanya ia tengah belajar menulis bahasa Indonesia.
Di gelang penanda pria itu tertulis asal negaranya, Myanmar. Ia lahir pada 1 Desember 1993. Begitu melihatku, Muhammad Idris, nama lengkapnya, lantas beralih. “Now, I’m following You,” ujarnya tiba-tiba seakan sudah mengenalku. Ia meminta tolong diejakan kata-kata dalam bahasa Indonesia, untuk ia ikuti dengan menuliskannya di kertas.
Menuruti permohonan remaja Rohingya itu, saya merapat ke bahu kanannya. Sebuah kalimat lantas kueja. “Nama saya Idris.” Ia menuliskannya. “Kota Langsa,” lanjutku. Jemarinya meliuk pelan menggoreskan pena. Hingga kuucapkan lagi kata-kata untuk ditirunya. Di lembar yang lain, ia pun tertatih merangkai kalimat singkat, “Saya pulang.”
“Jepret!”
Suara kamera dan lampu blitz membuat rona bahagia terpancar di wajah Idris. Ia berhasil menjepret seorang kawan senasibnya. Keduanya tertawa kecil, seakan lupa dengan penindasan umat Buddha di Burma. Saya tersenyum, hanyut dalam aura kebahagiaan kaum terjajah itu.
Malam pun beranjak larut. Mengiringi tidur nyenyakku tanpa selimut. Begitu pula dengan sejumlah Muslim Rohingya dan relawan para penjaga mushalla. Hingga jelang pukul 03.00 WIB dinihari, saya terbangun oleh dinginnya malam dan serangan gerombolan nyamuk pantai. Sekeliling tenda tampak begitu sepi. Saat yang tepat bagiku untuk pergi ke pinggiran hutan. Di situ ada tempat rahasia berupa bilik-bilik kayu.* Bersambung