Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kisah Mantan Aspri Wapres: Melamar Calon Istri Bermaharkan Tesis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Maret 2018 21:27 9:27 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Maret 2018 08:00
Bagikan
Husnan Bey Fananie (kanan), Dubes RI untuk Azerbaijan, saat di Pakistan, Jumat (26/02/2018).
Bagikan

HUSNAN Bey Fananie mempunyai banyak kisah yang menarik dalam perjalanan hidupnya. Antara lain perjalanannya makan bangku kuliah di negeri orang.

Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Azerbaijan ini menuturkan, ia menempuh pendidikan sarjananya selama 6 tahun di Pakistan. Perjalanannya di negeri ini diawali pada tahun 1988.

Waktu itu, ia diterima di International Islamic University of Islamabad (IIUI) melalui tes di Jakarta.

“Tapi karena visa saya lama tidak keluar akhirnya saya mengajukan sendiri visa untuk berlibur,” tuturnya di hadapan puluhan pelajar asal Indonesia di gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Pakistan di Islamabad, Jumat terakhir Februari lalu.

Di Pakistan, ia sempat menunggu selama satu semester untuk bisa menjadi mahasiswa IIUI.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Ternyata nama saya belum keluar di kampus, dan saya disuruh menunggu dan diperbolehkan tinggal di Hostel Faisal (Masjid Faishal),” imbuh anak dari salah satu Pendiri Pondok Modern Darussalam, Gontor, KH Zainuddin Fananie ini.

Selama masa penantian tersebut, Husnan sempat menempuh pendidikan Bahasa Inggris di National Institute of Modern Languages (NIML), Islamabad.

Merasa hidupnya biasa saja, Husnan akhirnya memutuskan untuk mendaftar kuliah di University of The Punjab di Lahore, Pakistan, jurusan History dan Islamic Studies. Ia memperoleh gelar Bachelor of Art (BA)-nya pada tahun 1992.

Selain itu, Husnan juga sempat kuliah di Government College, Punjab University, Lahore, Pakistan. Pendidikan tersebut diselesaikannya pada tahun terakhirnya di Pakistan, tepatnya 1993.

“Government College itu merupakan lembaga pendidikan yang berada di bawah Punjab University, waktu itu saya mengambil Fakultas Political Science (Politik Sains),” terang Staf Khusus Menteri Agama RI tahun 2010-2014 ini.

Baca: Kisah Muslimah Tunadaksa, Demi Jadi Guru “Gadaikan” Ijazah kepada Allah

Pindah ke Belanda

Usai menyelesaikan pendidikan sarjananya, Husnan berkeinginan pergi ke Belanda.

“Dengan bantuan teman saya akhirnya saya mendapatkan panggilan visa (Calling Visa) ke Belanda. Waktu itu saya menunggu selama 3 hari,” ungkap Husnan.

Atas bantuan seorang temannya, selama di Belanda, Husnan tinggal di sebuah mushalla kecil bernama Al-Ittihad.

Pemuda kelahiran Jakarta, 13 November 1967 ini bertutur, kedatangannya ke Negeri Kincir Angin itu dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikan.

“Di Belanda saya juga pernah bekerja di restoran Turki sebagai tukang bersih-bersih,” ujarnya sambil terkekeh.

Husnan menceritakan, di Belanda ia berjumpa dengan seseorang bernama Saiful Hadi, Kepala Biro Antara News Agency yang juga merupakan anak dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Idham Chalid.

Oleh Saiful Hadi, Husnan mendapatkan tawaran untuk membantu di salah satu kantor berita tersebut.

“Akhirnya saya bisa memperpanjang visa saya sampai 2 tahun karena saya hanya mendapatkan visa selama 3 bulan,” ungkap mantan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

Meski sudah mendapatkan pekerjaan layak, Husnan mengaku bahwa ia tetap pada tujuan awalnya, yaitu belajar.

Akhirnya, mantan Asisten Pribadi Wakil Presiden (Aspri Wapres) Hamzah Haz ini mengajukan pendaftaran program magisternya pada tahun 1994 di INIS Rijks Universiteit Leiden, Belanda, Fakultas Teologi dan Budaya (Faculty of Theology and Art).

“Itu pun saya harus ikut ujian semacam persamaan karena ijazah saya dari Punjab tidak bisa diterima. Karena pada saat itu Belanda tidak mempunyai kerja sama dengan Pakistan,” katanya.

Masalah lain, lanjutnya, ia harus menunjukkan bahwa dalam rekeningnya sudah tersimpan uang sebesar 30.000 gulden (sekitar 60 juta rupiah). Hal itu sebagai jaminan uang pembiayaan kuliah selama kurang lebih 2 tahun.

“Karena saya tidak punya uang, akhirnya saya dipinjami uang oleh salah seorang dari KBRI. Namun setelah itu saya kembalikan lagi,” kenangnya sambil tertawa.

Akhirnya, Husnan mampu menyelesaikan program magisternya pada tahun 1997. Tesisnya yang berjudul “Modernism in Islamic Education in Indonesia and India. A case study of Pondok Modern Gontor and Aligarh” dijadikan mahar untuk melamar (calon) istrinya yang bernama Rosdiana.

Baca: Kisah Semangat Pemuda Mewujudkan Mimpi Belajar

Ujian Itu Diterjang, Bukan Ditakuti

Dari lika-liku pengalamannya tersebut, Husnan, khususnya kepada para pelajar ataupun mahasiswa, agar tidak ada rasa takut terhadap segala macam bentuk ujian.

“Jangan sekali-kali untuk takut dengan ujian, seharusnya ujian itu diminta dan dihadapi, bukan ditunggu,” tutur mantan anggota Komisi I DPR RI ini kepada hidayatullah.com ditemui seusai acara di Islamabad, Jumat (23/02/2018) itu.

Pria yang pernah menjadi Ketua Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) ini berpesan, dengan menghadapi ujian, seseorang akan dapat mengangkat citra diri sendiri dan orang-orang terdekat.

“Jika ada harimau di depanmu lebih baik kalian terkam dulu, karena lebih baik mati menerkam harimau daripada mati diterkam harimau,” pesan penulis buku Menapaki Kaki-Kaki Langit ini.* Ali Muhtadin

Baca: Perlukah Berhutang untuk Menikah?

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aspri WapresBelandaDubes RI untuk Azerbaijanduta besar RIGovernment CollegeHusnan Bey FananieIIUIInternational Islamic University of IslamabadIslamabadKBRIKedutaan Besar Republik Indonesiakuliah di Belandakuliah di luar negerimaharmahasiswa Indonesia di luar negerimantan Asisten Pribadi Wapresmantan Staf Khusus Menteri Agamamelamarmenuntut ilmuNational Institute of Modern LanguagesNIMLPakistanpernikahanPunjab Universityputra pendiri GontortesisWapres Hamzah HazWNI di luar negeri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Buah Melon Tercemar Bakteri Listeria, 3 Orang Meninggal di Australia
Tulisan selanjutnya Maraton Kaum Wanita Pertama Kali di Saudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times

Berita
12 Juli 2026 11:08
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?