Mohammed (22) telah tinggal di Turki selama empat tahun sejak dia lari dari Suriah, hanya sebulan setelah perang sipil mulai berkecamuk di negara kelahirannya.
Tetapi tidak seperti ribuan pengungsi Suriah yang tahun ini menyeberangi laut Aegean untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Eropa, dia tidak berencana untuk meninggalkan Turki.
“Aku tidak bermimpi untuk pergi ke Eropa,” kata Mohammed, yang berasal dari Latakia wilayah pesisir Suriah, pada AFP di kamp pengungsian Osmaniye wilayah selatan Turki bulan Desember lalu.
“Aku akan melanjutkan pendidikanku dengan izin Allah dan membangun kehidupan di sini sebelum kembali ke Suriah setelah berakhirnya perang,” dia menambahkan. Meskipun saudara-saudaranya telah pergi menuju Belgia.
Mohammed secara rutin telah mengikuti kelas bahasa Turki dan pada 2013 diterima oleh sebuah universitas yang terletak di kota Mardin. Dia mengatakan dia sekarang ingin lulus dan membangun kehidupan baru di Turki.
Uni Eropa ingin melihat kasus-kasus seperti Mohammed — orang-orang menemukan kondisi yang tepat agar mereka tinggal di Turki daripada bepergian ke Eropa, dan ingin kembali ke Suriah ketika keadaan sudah normal.
Dalam menyelesaikan tingginya arus imigran, Brussel memberi bantuan senilai tiga trilliun euro pada Ankara bertujuan untuk membantu Turki menahan arus imigran, dan juga sebagai bentuk bantuan pada pengungsi Suriah.
Bulan Desember, Kanselir Jrerman Angela Merkel memimpin sebuah pertemuan untuk membahas krisis imigran, yang terparah sejak Perang Dunia II, dengan delapan negara Eropa dan Turki.
Lebih dari 2,2 juta pengungsi berada di Turki.
Turki merupakan rumah bagi sekitar 2,2 juta pengungsi Suriah setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan kebijakan untuk membuka pintu bagi pengungsi ketika perang di Suriah baru saja dimulai.
Tetapi Turki memprotes tidak adanya bantuan finansial yang dari negara-negara Eropa untuk melayani para pengungsi, walaupun Turki sendiri telah menggelontorkan dana sebesar delapan trilliun dollar.
Dubes Uni Eropa untuk Turki, Hansjirg Haber, yang ditemani AFP dalam kunjungannya ke kamp pengungsi Osmaniye, mengatakan bahwa akan ada fokus baru dalam bantuan dana segar di bawah kesepakatan Brussel-Ankara.
“Saya pikir kita harus bersandar pada dua hal. Pertama adalah membuat tinggal di Turki lebih menarik bagi pengungsi Suriah di negara ini,” dikutip middleeasteye.net.
“Dan kedua adalah bahwa kita harus menekan perdagangan manusia di perbatasan dengan bantuan kepolisian Turki,” dia mengatakan pada AFP.
Hanya sekitar 260.000 pengungsi Suriah yang tinggal di kamp-kamp dekat perbatasan, dengan mayoritas besar terpisah di sepanjang Turki termasuk kota besar seperti Istanbul.
Para pengungsi di kamp mendapatkan pelayanan seperti pendidikan dan layanan kesehatan. Tetapi banyak keluarga yang mengandalkan para pemuda mereka bekerja di luar untuk mendapat penghasilan sebagai buruh yang digaji lebih murah dari gaji rata-rata.
“Kami tidak dapat bertahan hidup tanpa bekerja di luar,” kata Azimet Tusuz lelaki berumur 35 tahun, yang sedang membanding-bandingkan harga minyak goreng dari dua merk berbeda di sebuah supermarket.
Pendidikan adalah satu dari tantangan utama. Pada September, pemerintah Turki berjanji untuk melipatgandakan jumlah pengungsi Suriah yang disekolahkan, dari 230.000 menjadi 460.000.
“Itu merupakan satu keinginan yang harus terealisasikan. Kami sedang mengerjakan bersama dengan menteri pendidikan untuk memastikan terealisasinya tujuan ini,” Philippe Duamelle, perwakilan Turki untuk UN Children’s Fund (UNICEF), mengatakan pada AFP.
Dia mengatakan UNICEF menghadapi tantangan ganda untuk meningkatkan standar dari kamp-kamp dan dalam memperhatikan lebih dari 85 persen pengungsi yang tinggal di luar kamp.
“Oleh karena itu, terdapat kebutuhan untuk meningkatkan skala pelayanan keduanya.”
Dia juga mengatakan terdapat tantangan lain, 150.000 anak Suriah telah dilahirkan di Turki sejak dimulainya krisis.
Maha Abdullah (38 tahun), yang sedang menunggu anak perempuannya berumur 12 tahun di sebuah pusat pelatihan untuk perempuan Suriah di kota Sanliurfa yang didanai oleh UE, mengatakan bahwa mencari penghasilan adalah sebuah prioritas.
“Kami tidak memiliki masalah dengan sekolah,” kata dia.
“Tetapi biaya sewa, listrik dan tagihan air merupakan masalah terbesar.”
Badan Pangan Dunia (WFP), yang menyediakan kupon elektronik bagi pengungsi Suriah, berharap dapat memanfaatkan dana lebih setelah kesepakatan Brussels-Ankara agar bantuan mereka dapat mencapai pengungsi Suriah yang tinggal di luar kamp-kamp.
“Jika kita tidak dapat menyediakan mereka bantuan bahkan yang paling sedikit, mereka mungkin lebih suka untuk berpindah lagi,” perwakilan Turki di WFP Jean-Yves Lequime mengatakan pada AFP.
Beberapa pengungsi bahkan marah pada teman mereka yang mempertaruhkan hidup mereka dengan pergi ke Eropa.
“Orang-orang hampir mati karena pergi ke Eropa, sedangkan yang lain hampir mati karena mempertahankan tanah mereka di Suriah. Aku tidak ingin pergi ke Eropa. Tidak ada yang seperti tanah kelahiranmu,” Ahlem Hanefi, 33 tahun, mengatakan di kamp Osmaniye.*/Nashirul Har AR