Sambungan artikel PERTAMA
‘Division’
Sementara fokus pada penggambaran Arab dan Muslim adalah hal yang utama, menyatukan tujuan dari surat kabar itu, kisah lain yang lebih sensitif beredar secara teratur membuat beragam elemen masyarakat Arab-Amerika merasa tidak nyaman.
“Muslim Semi Arab (Arab Spring) semakin berdarah, dan dapat menjadi yang paling berdarah. Situasi di Timur Tengah saat ini merupakan perhatian besar bagi kami, dan sejujurnya itu berakibat buruk bagi komunitas kami, kata Siblani pada MEE.
“Maksudku, masyarakat yang kita lihat sekarang bukanlah masyarakat yang sama yang kita miliki ketika Arab-American News didirikan kembali pada 1984. Saya pikir secara demografis, pembagian diantara masyarakat kita yang kita lihat saat ini … tidak ada saat itu.”
Kelompok Arab-Amerika terbesar di Dearborn adalah warga Lebanon, Iraq dan Yaman. Secara agama mereka terbagi menjadi Katholik, Orthodox, Sunni dan Syiah. Terbaginya kewarganegaraan dan agama dalam komunitas itu jauh lebih jelas daripada terbaginya ras Arab di wilayah Detroit, kekacauan yang baru-baru ini di Timur Tengah mendorong sebuah poros baru diantara identitas Arab-Amerika.”
Wartawan bahasa Arab kelahiran Suriah-Amerika Tariq Abdul Wahid mengatakan pada MEE bahwa beberapa warga Sunni telah berhenti membaca surat kabar mereka sejak krisis Suriah di tahun 2011.
“Hanya dalam lima tahun terakhir, terutama saat krisis Suriah dimulai, beberapa orang mengambil sikap berlawanan dengan Arab-American News, karena – memang benar – mereka pikir penerbit surat kabar ini berpihak pada rezim al-Assad – yang itu hampir benar,” kata Abdul Wahid.
“Dan karena mereka yang mendukung (Presiden Suriah Bashar al-Assad) kebanyakan orang Syiah, sekarang itu merupakan semacam pembagian antara komunitas Sunni dan Syiah, … krisis Suriah telah membuat jarak mereka semakin dalam.”
Berkembangnya Islamophobia di AS karena munculnya Islamic State (IS) telah menyebar di kalangan komunitas Katolik Iraq. Baru-baru ini komunitas yang berada di sekitar pinggiran Sterling Heights berkumpul untuk melakukan protes massal atas rencana pembangunan masjid di wilayah tersebut, meningkatkan ketegangan antara warga Timur Tengah Muslim dan Kristen.
“Sangat menyakitkan ketika kamu melihat dan bertemu orang sebangsamu, atau yang kamu anggap bangsamu … mencoba menyerangmu,” kata Abdul Wahid.
“Sebagai seorang wartawan, kamu harus bersikap netral. … Itu merupakan pekerjaan yang kritis, terutama saat ini. Karena kamu harus menjaga pembacamu di trek yang benar, tidak mendorong mereka untuk berpikir condong sebelah atau marah.”
Meskipun menjadi jembatan bagi jarak diantara beragam identitas Arab-Amerika di wilayah itu, Abdul Wahid masih percaya diri surat kabar itu masih menjadi daya tarik bagi masyarakat.*/Nashirul Haq AR