Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Surat dari Madaya: “Kenapa Tidak Ada Seorang pun yang Peduli?” [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Februari 2016 21:16 9:16 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Februari 2016 21:30
Bagikan
Pada titik ini penderitaan yang sebenarnya penduduk Madaya dimulai.
Bagikan

Sambungan dari kisah pertama

 

TIAP hari menjadi sebuah perjuangan untuk mencari rizki, dan untuk mendapatkan sumber panas ketika keadaan semakin dingin. Kami tidak bisa meninggalkan kota karena pihak rezim telah menanam ranjau di wilayah sekitar kota.

Sepuluh orang telah menjadi korban dari perangkap itu ketika mereka memutuskan keluar untuk mencari makanan ataupun kayu bakar.

Perhatian semua orang saat itu adalah mencari cara agar dapat memberi anak-anak mereka beberapa gram makanan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Saya tidak dapat berbuat apapun selain melihat keluargaku kelaparan –ibuku, ayah, saudara perempuan, sepupu, paman dan bibi– mengetahui, bahwa para pria yang memberanikan diri keluar dari kota yang tertangkap akan dipenjara, dibunuh atau kehilangan kaki setelah menginjak ranjau.

Banyak yang lain tewas karena peluru-peluru penembak jitu.

Harga makanan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Suatu saat harga barang $2.50, kemudian akan berubah menjadi $10. Semakin intensif blokade, semakin banyak pula orang-orang yang terbunuh atau kehilangan anggota tubuh mereka karena mencoba untuk keluar, harga barang terus menanjak.

Kami mulai mengumpulkan rumput dari tanah dan memasaknya, berharap itu dapat meredakan pedihnya rasa lapar kami. Kami mencabut dedaunan dari pohonnya –pepohonan indah yang berjejer di lingkungan kami– hingga tidak ada yang tersisa.

Setelah beberapa waktu, kami tidak dapat lagi menemukan rumput untuk dimakan. Dengan datangnya musim salju, badai salju menghantam wilayah kami, dan keadaan sekarang menjadi sangat buruk.

Beberapa orang bahkan dilaporkan memakan hewan peliharaan mereka seperti kucing, anjing atau apapun yang bisa mereka makan.

Rerumputan tidak tumbuh karena datangnya salju. Dan dengan dimulainya bulan pertama musim salju, orang-orang satu persatu mati (people began to die). Pada awalnya tiga atau empat orang, saya ingat.

Saya menyusuri jalanan dan menjumpai seorang pria meninggal atau jasad seorang wanita di depan mataku. Saya tidak dapat melakukan apapun. Saya melihat seorang pria mengais tempat sampah untuk mencari secuil makanan. Saya melihatnya lebih dekat dan mengenali dia sebagai tetanggaku Toufic, seorang apoteker. Saya hampir tidak mengenali dia. Orang-orang mulai depresi dan saling berselisih tentang sisa makanan atau menuduh orang lain menimbun makanan sementara yang lain kelaparan.

Saya telah melihat bayi meninggal kekurangan nutrisi karena ibu mereka tidak dapat menghasilkan susu.

Perasaan yang saya miliki, saya tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata. Tidak peduli seberapa banyak saya menulis, saya tidak dapat menggambarkan apa yang telah kami lalui.

Awalnya selama pengepungan, orang-orang mulai menjual peralatan rumah tangga dan perabotan. Mesin cuci, Tv, kulkas, semua yang dapat digunakan untuk membeli makanan. Tapi semua itu, meskipun jika barang-barang itu bisa dijual, hanya dapat menjadi 100 hingga 150 gram makanan.

Saya kenal seseorang yang menjual seisi rumahnya hanya untuk lima kilogram makanan. Kalian mungkin merasa itu tidak terbayangkan, tapi itu benar adanya.

Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa tidak ada seorangpun yang peduli? Pertanyaan yang selalu kami tanyakan pada diri kami sendiri tiap waktu.

Saya tidak lagi berpikir tentang masa depan. Masa depan apa yang harus dipikirkan? Saya ingat dulu saya mahasiswa muda dan saya tidak dapat mengenalinya lagi.

Saya lelah sekarang. Kami berjuang untuk bertahan hidup tapi tidak terlihat seorang pun yang peduli.*/Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bashar al assadMadayapengepungansuriahSuriah Terkini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jumlah Muslim Inggris Melebihi 3 Juta
Tulisan selanjutnya Namanya Juga Usaha…

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Berita
28 Agustus 2026 11:26
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?