Hidayatullah.com—Salah satu hal yang sering banyak ditemui para dai di pedalaman adalah budaya klenik dan gencarnya gerakan missionaris.
Setidaknya itulah yang disampaikan Miftahul Ilmi, seorang dai pedalaman yang baru saja kembali ke Jakarta. Miftah, baru saja pulang usai menjalani tugas dakwah di pedalaman selama satu tahun dua bulan.
Da’i Dewan Da’wah Islam Indonesia (DDII) ini bercerita mengenai suka dukanya berdakwah di Pulau Terong, Kepulauan Riau. Miftah bercerita tentang minimnya pembinaan akidah umat Islam di pedalaman yang menyebabkan perilaku dan akhlak sehari-hari mereka.
“Menyembunyikan gunting di bawah kain kaffan untuk menghindari gangguan setan bagi jenazah yang telah mati juga salah satu kepercayaan yang telah membudaya di masyarakat sana,” jelasnya kepada hidayatullah.com, Rabu (25/09/2013) di masjid al Furqon, Kramat Raya 45, saat pelepasan da’i pedalaman angkatan IV Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
Menurut Miftah, salah satu budaya syirik masyarakat tersebut adalah seperti percaya jika ada kucing melompati jenazah orang mati maka orang tersebut akan hidup kembali.
Selain masalah akidah, lelaki asal Singaraja Bali ini juga bercerita mengenai mafia narkotika yang sudah masuk ke daerah-daerah pedalaman.
Di tempatnya berdakwah, adalah perbatasan Indonesia Singapura, yang dikenal jalur distribusi masuknya narkotika.
Fakta ini berdampak dengan banyak pemuda-pemuda Islam setempat yang mengkonsumsi narkotika jenis ganja.
“Mereka mudah sekali mendapatkannya dari Singapura,” jelasnya.
Bersama sang istri, miftah merintis pendirian Madrasah Diniyah. Awalnya, madrasah ini hanya punya tiga orang santri, kemudian berkembang menjadi delapan puluh orang.
Tinggal dua desa yang Islam
Selain Miftah, Heri Sitorus da’i DDII dari kota Medan juga baru kembali dari dusun Tubekek Desa Makalo kecamatan Pagai Selatan. Mentawai Sumatera Barat. Heri menjalani dakwah di pedalaman tersebut selama tiga belas bulan.
Ia bercerita, ada 4 desa yang dibinanya di sana. Satu desa terdiri dari 6 dusun. Desa yang awalnya seratus persen beragama Islam itu kini tinggal dua saja pemeluknya Islam, yakni Tubeket dan Boriai.
Dua desa lainnya sudah menjadi korban misi pemurtadan kristenisasi. Yang menyedihkan, banyak masjid sudah dirobohkan lalu kawasannya dijadikan gereja.
“Saat kami datang, masyarakat Muslim begitu antusias menyambut kami,” jelasnya kepada hidayatullah.com pada hari yang sama.
Menurut Heri, kondisi masyarakat Islam di sana memang sangat memprihatinkan. Para perempuan tidak banyak yang masih suka mandi di kali tanpa penutup aurat. Buang air besar sembarangan. Sementara semangat untuk belajar Islam masih sangat minim.
Selain kristenisasi, pihak yang tidak menyukai kehadiran mereka adalah orang-orang yang berprofesi sebagai dukun. Namun, dengan kesabaran dan ketekunan. Selama tiga belas bulan disana, Heri sudah berhasil membuka pengajian rutin bagi masyarakat.
Bahkan DDII sendiri telah melakukan program pendirian WC Umum untuk membiasakan budaya kebersihan dan membangun rasa malu di masyarakat.
“Dan ini berhasil, banyak masyarakat sudah malu untuk mandi dan buang air besar ditempat terbuka seperti sungai,” jelasnya.
Miftahul Ilmi dan Heri Sitorus ini apa yang telah dilakukannya terus dilanjutkan para dai-dai lain, sebagaimana program yang telah digulirkan DDII dalam program “Sejuta Umat Tak Cukup Satu Da’i”.*