Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Tak Kendur Mencetak Dai, Meski Dicap Stres

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 November 2020 16:25 4:25 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 November 2020 16:25
Bagikan
Shohibul Lathif (44)
Bagikan

Hidayatullah.com | SEPUCUK surat mendarat di tangan Shohibul Lathif. Ia membukanya tanpa rasa curiga. Alangkah terkejutnya, ketika ia mengetahui isi surat tersebut. Ia dipecat sebagai tenaga pengajar dari lembaga tempatnya mengabdikan diri.

Ada yang mengganjal pikirannya karena tak disertakan satupun alasan. Apalagi, sebelumnya tidak terdengar desas-desus pemecatan di lingkungannya bekerja. “Ada 17 guru yang dipecat secara sepihak,” kata sosok yang akrab disapa Lathif ini.

Pria kelahiran 44 tahun silam ini pun dirundung kesedihan. Bukan lataran ‘kran’ pemasukan ekonomi tertutup, tetapi lebih karena hilangnya kesempatan untuk mengamalkan ilmu.

Maklum, mengajar sudah menjadi aktivitas yang tidak bisa terpisahkan dengan kehidupannya. Sejak Tsanawiyah, ia terbiasa mengajar serta membimbing para juniornya.

Tawaran Ide ‘Gila’

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

Sungguh naas, karena waktu itu masih pertengahan tahun ajaran baru. Dalam benaknya pun bergelayut kegelisahan, “Mau mengajar di mana saya? Sekolah-sekolah pasti tidak membuka lowongan mengajar.”

Selang beberapa waktu, Lathif belum jua menemukan jalan keluar. Dari situ, ia mencurahkan isi hatinya kepada seorang sahabat. Ia sampaikan hajatnya untuk terus bisa mengajar. Dan tak dinyana, karibnya menawarkan ide ‘gila.’ Sebuah gagasan yang sebelumnya tak pernah terbesit di benaknya.

“Ya sudah buat saja pesantren sendiri seperti saya.”

Mulanya putra pasangan dari Muhammad Shulhan dan Na’imah ini ragu untuk mengamini. Ketiadaan modal pun menjadi biang keroknya. Menangkap gelagat pesimis, sahabatnya pun menyulut semangat Lathif agar semakin yakin.

“Sudah jangan banyak perhitungan. Dulu lahir nggak bawa kathok (celana) aja kok,” sengatnya.

Setelah 3 bulan lamanya, Lathif belum juga mendapat kesibukan baru sebagai pengajar, ia bertekad mendirikan pesantren. Langkah pertama yang dilakukan, membicarakan kepada pihak keluarga.

Alhamdulillah, seluruh keluarga setuju dan mendukungnya. Saudara-saudaranya pun rela mewakafkan tanah warisan orangtua seluas 2 hektare.

Dibilang Stres

Pada awal penggarapan, Lathif mengaku berpacu dengan waktu. Sebab, masa pembukaan tahun ajaran baru (2016) tersisa 6 bulan lagi.

Untuk modal utama, ia pun menjual rumah pribadi. Laku 300 juta. Ia kemudian memilih mengontrak rumah. Karena, lokasi yang akan dibangun pesantren masih berupa hutan serta semak-belukar.

Tak hanya keadaan lahan yang memprihatinkan. Kawasan yang berada di Desa Mojopetung, Dukun, Gresik ini, juga terisolir. Lokasinya, ada di tengah-tengah persawahan. Belum ada jalan. Jaraknya dengan jalur utama sekitar 150 meter.

Kalau sudah tiba musim hujan, jelas bungsu dari delapan bersaudara ini, lokasi sama sekali tidak bisa dilewati segala jenis kendaraan. Penuh dengan lumpur. Karena itulah, Lathif banyak dicemooh masyarakat sekitar.

“Saya pernah dibilang ‘wong stres’ (orang gila). Membangun pesantren kok di lahan kayak gitu. Bagaimana lewatnya,” kata Lathif, menirukan oknum warga yang meledeknya.

Persoalan semakin runyam. Ketika tukang yang bekerja membangun pesantren mendadak mengundurkan diri, karena dilarang melewati persawahan menuju lokasi pesantrennya. “Udah ustadz nggak usah dilanjutkan pembangunannya,” ujarnya kepada Lathif.

Dalam kebuntuan mencari jalan keluar itulah, ia mengaku lebih menggalakkan munajat kepada Allah. Ia terus meminta jalan keluar.

“Ya Allah, aku serahkan urusan akses jalan ini kepadamu,” iba Lathif dalam munajatnya.

Alhamdulillah, berkat kegigihan usaha dan keseriusan dalam berdoa, Allah pun mengijabahi doa Lathif. Pemilik tanah yang lahannya dijadikan akses jalan itu, akhirnya mewakafkan tanahnya secara suka rela.

Tak sekedar lisan. Agar tidak ada persoalan di kemudian hari, ia langsung mengurus legalitasnya.

Dari kemudahan itu, 6 lokal kelas berhasil dibangun. Tahun ajaran baru 2016 – 2017, Lathif bisa membuka pendaftaran murid baru. Saat itu, ada 15 anak yang diterima.

Mencetak Dai

Tak selazim nama pesantren pada umumnya. Pesantren rintisan Lathif diberi nama Lembaga Kader Dakwah Islam (eLKaDI). Alasannya, karena sejak awal pendirian, ia berazam melahirkan generasi yang siap mendakwahkan Islam.

“Dakwah Islam harus terus disyi’arkan. Itu misi utamanya” katanya.

Untuk menopang kemampuan para santri, urai ayah tiga anak ini, para santri diminta hafalan hadits-hadits madhu’i (tematik). Selain itu, juga menghafal al-Qur’an, mendalami bahasa Arab serta ilmu-ilmu dasar Islam (tauhid, fiqih, dan sirah).

Program pendukung lainnya, juga disediakan waktu untuk latihan berpidato, khususnya ketika menjelang liburan. Para santri harus menyiapkan beberapa naskah. Selanjutnya, Lathif yang mengoreksinya.

“Minimal (tema-tema yang telah disiapkan) itulah bekal mereka, ketika nanti sudah tiba masa tugas dakwah,” papar sosok murah senyum ini.

Meski terbilang masih sangat dini, para santri binaan Lathif siap menjalankan amanah dakwah. Sekalipun, mereka harus bertugas ke luar pulau.

Seperti Zaki Musthofa. Saat itu (2017), ia mendapat tugas berdakwah di NTT. Walaupun usianya baru 13 tahun dan duduk di bangku kelas VII (MTs), tetapi sangat siap untuk menjalankan amanah, tak terlepas dari nilai-nilai yang terus ditanamkan pihak pesantren.

“Ustadz Lathif sering menyampaikan, di manapun berada, seorang muslim harus bertanggung jawab atas agamanya,” ujar santri asal Surabaya itu.

Di NTT, Zaki mendapat tugas untuk mengajar TPA di sebuah masjid. Selain itu, juga dipercaya untuk mengisis ceramah ba’da sholat Tarawih dengan ratusan jamaah.

“Awal mula kita datang diragukan. Bahkan ada yang memandang sinis. Namun, setelah aktif mengisi TPA dan berceramah, masyarakat mulai menaruh kepercayaan,” kisahnya.

“Bahkan, ketika pamit pulang, banyak masyarakat yang menangis. Tak sedikit pula yang memberi uang saku,” tutupnya. */Robinsah, diambil dari Suara Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daidai pedalamandakwahPondok PesantrenShohibul Lathif
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki Uighur Menlu China Pengamat: Joe Biden Akan Buka Lagi Persoalan Muslim Uighur di China
Tulisan selanjutnya Pemilu AS Usai, 57 Kandidat Muslim Amerika Menangi Jabatan Publik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?