BADAI angin yang disertai Tsunami kecil menghantam Pantai Batu Putih, Bitung Utara, Sulawesi Utara. Akibatnya, satu rumah mengalami rusak berat, sedangkan 20 rumah lainnya terendam air. Andaikan tidak ada hutan bakau, bisa jadi air laut itu bakal menyapu permukiman lebih banyak. “Hutan bakau itulah yang mengurangi kecepatan gelombang air laut,” kata Badru Wangka, imam Masjid Al-Bayan yang sekaligus ustadz satu-satunya di kawasan tersebut.
Menurut Badru, pasca terjangan gelombang laut, warga Batu Putih menjadi trauma. Jangan-jangan muncul lagi gelombang yang sama bahkan lebih besar. “Tiga hari ini angin kencang yang menimbulkan gelombang pasang terus saja menghantui warga sehingga kami semua tidak bisa tidur,” ujar Badru.
Gelombang laut tersebut tidak saja membawa ranting pepohonan ke jalan-jalan kampung, melainkan juga mengirim bongkahan batu putih dari laut berupa karang yang lalu dihempaskan ke perkampungan warga. Karena khawatir akan kejadian serupa, maka secara khusus Camat Bitung Utara meminta Badru Wangka membacakan doa untuk keselamatan warga masyarakat Batu Putih.
Dari Sangir Turun ke Bitung
Sebagaimana pemuda pada umumnya yang ingin sukses, Badru muda pun merantau meninggalkan kampung halamannya di Sangir Talaud, Sulawesi Utara. Dalam benaknya tidak mungkin dirinya berkembang kalau tidak hijrah dari kampung halamannya tersebut.
Maka dengan berbekal uang seadanya dan baju ganti, dia berpamitan kepada kedua orangtuanya untuk merantau. Berdasar informasi yang dia terima, kota Bitung cukup menjanjikan. Di samping itu, secara geografis kota Bitung tidak terlalu jauh dari Pulau Sangir Talaud di bagian selatannya.
Badru yang lulusan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Sangir Peta akhirnya mendarat di Kecamatan Bitung Utara, tepatnya di Kelurahan Batu Putih Atas, pada tahun 1978.
Saat itu, di benaknya sudah tersusun beberapa rencana. Dia ingin menjadi pengusaha yang sukses. Akan tetapi saat keinginan berwirausaha itu memuncak, Badru mendapati 64 KK Muslim di Batu Putih tidak ada seorang pun dai atau ustadz yang membina.
“Saya prihatin atas kondisi masyarakat Muslim di sini sehingga saya langsung banting setir, bagaimana agar pembinaan keagamaan masyarakat dapat diadakan,” kenang ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Salma Masalo ini memberi alasan.
Badru pun segera bertindak. Sembari bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan hidupnya, Badru pun mengajar ngaji anak-anak dan orangtua di teras rumah kontrakannya.
“Alhamdulillah, Allah memudahkan kerja saya,” katanya.
Seiring dengan perputaran waktu, santri Badru yang awalnya hanya beberapa orang saja kemudian lambat laun semakin banyak. Akhirnya, niat Badru pun semakin kuat yakni memilih untuk “berdagang” dengan Allah. Dia siap menceburkan diri dalam pembinaan warga Muslim setempat.
Menurut Badru, harus ada masjid untuk menampung aktivitas umat Islam. Tidak mungkin syiar dan aktivitas dapat optimal bila tidak ada rumah ibadah. Terlebih hidup di tengah komunitas non-Muslim. Badru terus berusaha dan berdoa agar pertolongan Allah segera tiba.
Di luar dugaan, seorang perempuan yang beragama Nasrani, Amelia Lumintang, menyerahkan tanahnya untuk dibangun masjid.
“Ibu Amelia cukup baik dan peduli dengan komunitas Muslim di Batu Putih Atas ini,” kata pria berusia 62 tahun ini.
Badru pun bersyukur karena doanya telah terkabul. Tanpa membuang waktu, dia segera mengumpulkan masyarakat Muslim untuk bahu-membahu mendirikan rumah ibadah, hingga berdirilah Masjid Al-Bayan yang berukuran 10 meter x 15 meter.
“Alhamdulillah, akhirnya masyarakat Muslim Batu Putih Atas dapat memiliki masjid,” katanya.
Problem Lingkungan
Setelah masjid berdiri bukan berarti persoalan sudah selesai. Badru mengakui tidak mudah baginya membina masyarakat di Kelurahan Batu Putih ini. Misalnya, soal pendidikan anak-anak. Di sini tidak ada madrasah. Pelajaran agama untuk anak-anak hanya diperoleh di Taman Pendidikan Al-Qur`an dan Taman Pendidikan Qur`an (TPA/TPQ).
Namun setelah fase TPA, anak-anak Muslim yang menginjak remaja tidak memiliki tempat menimba ilmu agama. Badru khawatir anak-anak dapat terpengaruh lingkungan dan berpindah keyakinan.
Terlebih sejak mereka duduk di bangku sekolah sasar, anak-anak Muslim ini sudah wajib mengikuti pelajaran agama Kristen.
“Mereka wajib mengikuti pelajaran agama Kristen, sehingga mereka pun hafal nyanyian kidung gereja,” jelas Badru, yang dibenarkan oleh Diana, salah seorang menantunya yang semula Kristen dan kini beralih ke Islam.
Dikatakan Badru, setidaknya sudah ada dua anak Muslim yang pindah agama ke Kristen. Sebagai “Pak Imam,” demikian biasa masyarakat menjulukinya, tentu ini tantangan yang harus diselesaikan. Badru pun prihatin karena mereka masih anak-anak dan belum dapat memegang prinsip. Namun, Badru tak putus asa. Ia selalu berusaha dan berdoa.
Badru pernah mengusulkan perlunya didirikan madrasah di lingkungannya beberapa tahun lalu ke Kantor Kementerian Agama Propinsi, tetapi belum mendapatkan respon.
“Sementara ini sebagai solusinya, kami titipkan anak-anak ke Pondok Pesantren Arafah di Kota Bitung,” katanya.
***
Kelurahan Batu Putih Atas merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Batu Putih yang terbagi menjadi dua kelurahan: Kelurahan Batu Putih Bawah dan Kelurahan Batu Putih Atas.
Kelurahan ini memiliki luas 1.215 hektar dengan jumlah penduduk 1.708 jiwa. Wilayah Kelurahan Batu Putih Atas terletak di Kecamatan Ranowulu yang dibatasi oleh sebelah utara: Desa Rinondoran, Kecamatan Likupang. Sebelah selatan: Kelurahan Batu Putih Bawah. Sebelah barat: Desa Pinenek, Kecamatan Likupang, dan sebelah timur: Laut Maluku.
Anda pun tidak perlu heran, sepanjang jalan utama memasuki komunitas Muslim yang terdapat di blok atas, sejumlah gereja berjejer antara lain: Gereja Pantekosta, Advent, Protestan, GMPU dan lainnya.
Semoga Badru sesuai dengan namanya, menjadi purnama yang menyinari Kelurahan Batu Putih dengan cahaya Islam.*