Hidayatullah.com– Dakwah tak kenal lelah. Begitulah semangat para dai ini. Apalagi pada Ramadhan lalu, semangat mereka menggebu-gebu.
Kami mengikuti perjalanan dakwah sejumlah dai di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (27/04/2022). Perjalanan ini memakan waktu berjam-jam, dari sore hingga jelang tengah malam, 24-25 Ramadhan 1443H.
Sore itu, pukul 17.00 WITA lebih, dengan sebuah kendaraan roda empat, kami berangkat dari Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.
Rombongan kami terdiri dari supir, dua wartawan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, serta dua orang dai; Ustadz Syafaruddin dan Ustadz Imran.
“Saya berusaha mengambil spirit Ramadhan tidak hanya di masjid, tapi juga kita tetap berdakwah berbagi ilmu kepada masyarakat,” ucap Imran tentang alasannya bergabung dalam tim Yayasan Dakwah Center (DC) Ulul Albab Balikpapan di bulan Ramadhan.
DC merupakan lembaga yang menaungi para dai, sekaligus mengatur jadwal serta penugasan dakwah mereka.
“Kalau Ramadhan ini, saya sudah sekitar 10 kali berdakwah keluar,” lanjut Imran, dai muda yang merupakan alumnus STIS Hidayatullah.
Tujuan perjalanan kami sore itu adalah Kariangau di Kecamatan Balikpapan Barat, salah satu wilayah garapan DC. Di sini, ada beberapa titik dakwah yang selama ini menjadi lokasi pengiriman dai.
Hari itu Ustadz Imran ditugaskan berdakwah ke Masjid Al-Mukmin. Sedangkan Ustadz Syafaruddin di Mushalla Nurul Qolbi. “(Jarak kedua masjid-mushalla itu) sekitar 15 menit perjalanan,” ujar Muhammad Akbar, petugas DC yang diamanahi membawa mobil.
Selain keduanya, ada tiga dai lainnya yang tugaskan dakwah pada hari yang sama. Ketiganya berangkat dengan kendaraan masing-masing. “Tiga dai itu naik motor,” terang Akbar.
Dalam perjalanan menuju Masjid Al-Mukmin, Imran bertutur bahwa sebagai seorang dai harus siap ditempatkan di mana pun. “Kita harus siap ditugaskan dari Dakwah Center,” ujar pria murah senyum ini.
Para dai, tuturnya, tidak meminta ditempatkan dakwah sesuai keinginan masing-masing. Tapi mereka mengikuti penugasan dari DC.
“Jadi kita itu tidak minta tempat dakwah di mana, tapi kita dipilihkan sama Dakwah Center. Kita tahu itu pas kita dikasih tahu, seperti sekarang, in syaa Allah kita berdakwah ke daerah Kariangau,” lanjutnya.
Menurutnya, Ramadhan kali ini sedikit berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Pada Ramadhan tahun lalu, dai yang melakukan dakwah di Kariangau semua berangkat menggunakan kendaraan pribadi. Ramadhan tahun ini, para dai difasilitasi mobil pengantar, hasil kerja sama DC dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Kaltim, serta Panitia Ramadhan 1443H Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.
“Tahun-tahun lalu itu kita berangkat masing-masing. Dan tahun ini Alhamdulillah kita difasilitasi mobil,” ucapnya bersyukur.
Dai Non Subsidi
Ada istilah unik yang kami dapati ketika mengikuti Ustadz Safar dan Ustadz Imran dalam perjalan dakwah hari itu. Yakni istilah “dai subsidi”.
Menurut Imran, dai subsidi adalah dai yang mendapatkan uang saku dari masjid atau lembaga dakwah yang ditempati dakwah.
“Dai subsidi itu maksudnya dai yang dikasih pesangon dari masjid setempat yang ia isi,” ucap Imran.
“Kalau kita Alhamdulillah tidak ada subdisi,” lanjutnya.
Dengan penuh keyakinan, Imran mengungkapkan, dai-dai Hidayatullah tidak terpatok pada apa yang diberikan oleh masjid setempat. Tetapi para dai selalu dibekali spirit agar mengikhlaskan niat dalam berdakwah.
“Kalau di tempat kita nanti itu sepertinya ndak ada (subsidinya). Kita juga ndak mengharapkan itu karena kita selalu dibekali agar selalu mengikhlaskan niat ketika berdakwah,” ujarnya.* Bersambung (Asrijal/SKR/MCU)