Gemas melihat mahasiswa Indonesia di Mesir kok tidak mahir berbahasa Arab. Apa yang dilakukannya?
Hidayatullah.com–Suatu hari, Syaikh Syarafuddin al-Azhari didatangi mahasiswa asal Indonesia. Mahasiswa itu kuliah S-2 Bahasa Arab di Universitas al-Azhar, Mesir.
“Tolong bantu saya berbicara dengan muhsinin agar memberi beasiswa, karena saya masih kesulitan berbahasa Arab,” pinta mahasiswa itu dengan Bahasa Indonesia.
“Bagaimana bisa begitu? Padahal Anda lulusan S-1 Bahasa Arab, bahkan sering dapat nilai jayyid jiddan?” timpal Syaikh Syarof –panggilan akrabnya—dengan Bahasa Indonesia yang fasih pula.
Pria asal Nigeria ini heran. Dia tahu Indonesia itu gudangnya ulama dan pesantren. Mestinya Bahasa Arab sudah dekat dengan kalangan terpelajar.
Di sisi lain, Universitas al-Azhar sudah terkenal di seluruh dunia. Kok ada mahasiswanya yang tidak lancar berbahasa Arab?
Syaikh Syarof lantas mengumpulkan beberapa sahabatnya asal Indonesia. “Ayo kita bantu teman-teman agar lancar berbahasa Arab,” ajaknya.
Para mahasiswa pun menyambutnya, sebab ternyata banyak yang mengalami problem serupa. Maka tiap Jumat pagi diadakan ta’lim Bahasa Arab (mulai tahun 2002). Peserta awalnya 7 orang.
Alhamdulillah, program itu berjalan dengan baik. Tak perlu waktu lama, para mahasiswa sudah lancar berbahasa Arab, bahkan ada yang berani khutbah Jumat di sebuah masjid di Kairo.
“Sekarang mereka sudah S-2 dan S-3, dan semua hafal al-Qur’an. Ada pula yang sudah memimpin ma’had tahfizh di Indonesia,” hafizh al-Qur’an ini tersenyum.
Makin banyaklah mahasiswa Indonesia di Mesir yang belajar kepada Syaikh Syarof. Jika ditotal hingga saat ini, jumlahnya mencapai 700-an orang.
Kesan Pertama
Nama lengkapnya Dr Syarafuddin al-Azhari, Lc, MA. Lahir di Nigeria, 6 Juni 1977, anak ke-2 dari enam bersaudara pasangan Muslim dan Syariyyah.
Ketika lulus SMA, dia mengaku hanya hafal Juz ‘Amma. Pria ramah ini baru bisa hafal al-Qur’an ketika kuliah S-1 di Universitas al-Azhar.
Salah satu yang memotivasi untuk hafal al-Qur’an adalah pergaulannya dengan mahasiswa Indonesia.
“Masya’ Allah, teman-teman dari Indonesia itu akhlaqnya baik, rajin ke masjid, banyak yang hafal al-Qur’an, ahli dzikir, dan ukhuwahnya luar biasa,” akunya.
Syaikh Syarof mengaku akrab dengan beberapa sosok yang cukup dikenal di Indonesia, misalnya Dr Khalid Muslih, Lc, MA (dosen Universitas Darussalam Gontor), Dr Abdul Kholiq Hasan, Lc, MA (dosen IAIN Surakarta), dan Bobby Herwibowo, Lc (pembina Ma’had Tahfizh Askar Qauny).
Salah satu sahabat saat itu bahkan bernadzar akan menggelar tasyakuran jika dia bisa hafal al-Qur’an. “Subhanallah, ini ukhuwah yang amat mengesankan,” Syaikh Syarof mengenang.
Itulah sebabnya, selain ta’lim Bahasa Arab, Syaikh Syarof juga mengajar al-Qur’an. Apalagi setelah ia mengantongi ijazah/sanad riwayat Hafs, maka makin banyak mahasiswa yang belajar kepadanya.
Tiap shubuh hingga syuruq, Syaikh Syarof menghabiskan waktu di masjid bersama al-Qur’an. Beberapa mahasiswa Indonesia gantian setoran dan tahsin bacaan.
Hingga pada tahun 2005 terbentuk majelis ta’lim Faskot, singkatan dari Fastabiqul-Khoirot. Majelis ini sempat mengadakan khataman al-Qur’an yang diikuti 19 mahasiswa dari Indonesia.
Majelis ini kemudian diganti namanya menjadi Kawakibul Fushoha (2010). Kegiatannya tidak hanya belajar Bahasa Arab dan al-Qur’an, namun juga mendalami kitab klasik serta berbagai pelajaran yang mendukung perkuliahan.
Tahun 2013, Syaikh Syarof sempat berniat pulang kampung. Ia telah mengantongi gelar doktor dan ingin berkiprah di Nigeria. Dia pun sudah menabung USD 900 untuk beli tiket.
Namun langkahnya terhenti, karena makin banyak mahasiswa dari Indonesia yang ingin belajar. “Saya tidak tega meninggalkan mereka,” kenangnya.
Salah seorang murid bahkan mengusulkan, “Bagaimana jika kami ditempatkan di asrama, agar belajarnya semakin tertib?”
Syaikh Syarof terdiam, sebab tidak punya biaya untuk sewa asrama. Namun atas izin Allah SWT, ada muhsinin di Kairo yang membantu sewa asrama selama 3 bulan.
Memasuki bulan ketiga, Syaikh Syarof bingung. Jika sewa itu tidak dilanjutkan, kasihan para pelajar. Akhirnya, uang tiketnya dipakai untuk memperpanjang sewa.
Selanjutnya, masa sewa habis juga. Atas saran beberapa pihak, akhirnya terpaksalah mahasiswa diajak iuran untuk sewa asrama.
Sekarang kegiatan belajar ini telah berkembang menjadi 9 asrama, tersebar di beberapa titik di Kairo. Muridnya yang aktif di asrama saat ini ada 100-an mahasiswa-mahasiswi. Tidak cuma dari Indonesia, namun juga Malaysia, Thailand, dan beberapa negara lain.
Manfaat belajar di Kawakibul Fushoha antara lain dirasakan oleh Halimatus Sa’diyah, gadis asal Palembang (Sumbar). Mahasiswi Jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar ini sudah ikut belajar selama 3 tahun.
“Alhamdulillah, belajar di sini sangat bermanfaat. Selain menunjang kuliah, saya juga mendapat pelajaran yang dulu tidak didapatkan ketika mondok,” ujar lulusan sebuah pesantren di Madura ini.
Problem Mahasiswa Indonesia
Syaikh Syarof begitu akrab dengan mahasiswa Indonesia. Bahkan ketika wisuda S-3 (tahun 2011), ia bergabung dengan acara wisuda S-1 yang digelar Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir.
Ia menjadi faham seluk-beluk masalah yang kerap dihadapi mahasiswa Indonesia, antara lain:
Pertama, kebanyakan kurang percaya diri. “Bahasa Arab dianggap susah dan mereka lebih banyak berbicara dengan Bahasa Indonesia, padahal berada di Mesir,” ujarnya.
Kedua, salah faham, yakni memandang Bahasa Arab hanya untuk orang Arab. “Padahal ini bahasa peradaban dan bahasa al-Qur’an, pedoman hidup kaum Muslimin seluruh dunia.”
Ketiga, Syaikh Syarof menangkap adanya metode pendidikan di Indonesia yang kurang komprehensif.
“Lulusan program tahfizh hanya bisa menghafal, belum memiliki kecintaan pada al-Qur’an. Mungkin belum mendapat ilmu pendukung, semisal ‘Ulumul-Qur’an, agar faham tentang pentingnya menghafal dan muncul kecintaan di hatinya.”
Menurutnya, menghafal dengan cara seperti itu akan mudah hilang. Dia malas muraja’ah, karena tujuannya selama ini hanya untuk mengejar nilai, bukan karena ikhlas dan cinta.
Keempat, kegiatannya selama di Mesir terlalu bebas tanpa kontrol. Salah satu yang mengkhawatirkan adalah kecanduan gadget.
“Mungkin ketika sekolah di Indonesia merasa ‘dipenjara’, maka begitu keluar lantas balas dendam,” ujarnya sambil tertawa.
Kehidupan di asrama diharapkan dapat mengendalikan hal itu. Jadi, tugas mahasiswa menuntut ilmu tidak terganggu hal-hal yang tidak berhubungan dengan ilmu.
Kini ada satu harapan lagi dalam dirinya, “Saya ingin membuka cabang Kawakibul Fushoha di Indonesia atau Malaysia.”