Hidayatullah.com–Industri tembakau mendapatkan US$7.000 (sekitar Rp 91 juta) untuk setiap orang yang mati akibat penyakit terkait merokok, menurut kelompok advokasi kesehatan Yayasan Paru-paru Dunia (WLF), Kamis (19/3/2015).
Tahun lalu lebih dari 5,8 triliun rokok dikonsumsi, demikian juga pada 2013. Peningkatan penggunaan tembakau di China mengimbangi penurunan di negara-negara lain, menurut laporan yang dipimpin oleh WLF.
Dalam laporan global Tobacco Atlas, WLF, dan Masyarakat Kanker Amerika mengatakan, pada 2013 dan tahun sebelumnya, keuntungan industri tembakau mencapai lebih dari $44 miliar. Sementara itu 6,3 juta orang tewas akibat penyakit terkait merokok, setara dengan keuntungan $7.000 untuk setiap kematian akibat tembakau.
Disiarkan VOA, Jumat (20/3/2015), laporan itu mengatakan, jika tren-tren saat ini berlanjut, semiliar orang akan mati akibat merokok dan paparan terhadap tembakau abad ini.
Selain mengakibatkan kanker paru-paru yang seringkali fatal, penggunaan tembakau juga merupakan faktor risiko utama bagi serangkaian penyakit lain. Ini sebab utama yang sebetulnya dapat dihindari di dunia dari kematian dini akibat kondisi kronis, seperti sakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.
Banyak negara di seluruh dunia telah meluncurkan aturan anti-tembakau, namun Tobacco Atlas menemukan, hanya 10 persen dari populasi dunia yang tercakup larangan komprehensif terhadap iklan, promosi, dan sponsor tembakau, dan hanya 16 persen yang tercakup legislasi bebas rokok yang komprehensif.*