Hidayatullah.com–Seorang hacker dari Arab Saudi dikabarkan berhasil masuk ke mailbox presiden Suriah Bashar al-Assad dan “mencuri” sejumlah informasi, demikian dikutip koran Al Madina dari Arab Saudi.
Hacker yang menggunakan nama Usama Salman al-Ansi berhasil mengkopi informasi sebesar 4 gigabyte. Informasi tersebut bisa menyangkut hal-hal yang dapat membuat skandal. Misalnya mengenai peran Iran dalam demonstran di Suriah.
Hacker sempat mengirim pesan kepada presiden Assad. Ia mengancam akan membocorkan informasi yang ia miliki apabila presiden Assad tidak menghentikan tindakan kekerasan terhadap demonstran.
Kurang perhatian
Seperti diketahui, saat ini perang antar negara tak hanya bersifat fisik. Perkembangannya sudah pada tingkap perang informasi dan cyber war.
Lomba persenjataan dalam dunia cyber telah berlangsung sengit, saying pemerintah berbagai Negara kurang memberi prioritas bagi keamanan jaringan mereka. Demikian kesimpulan sebuah penelitian yang diadakan atas keinginan McAfee, perusahaan pengaman internet belum lama ini dalam sebuah konferensi di Brussel, Rabu (01/02/2012), dikutip DWWD.
Kelompok ilmuwan Security and Degence Agenda (SDA) mewawancarai sekitar 80 pakar pengaman sibernetika yang bekerja untuk pemerintahan, perusahaan dan universitas. Hasilnya berupa sebuah laporan bagi 23 negara.
Yang diperhatikan adalah keberadaan firewall dan program anti virus dalam jaringan komputer. Ditelaah pula apakah pihak pemerintah menyadari adanya ancaman sibernetika dan memberikan perhatian dengan mengadakan pelatihan.
Menurut para peneliti, Finlandia, Swedia dan Israel menduduki tempat teratas, kemudian disusul sejumlah negara Eropa, antara lain Belanda dan juga Amerika Serikat. Tempat terakhir diduduki oleh Mexico.
Menurut para pakar, keamanan sibernetika di China dan Brasil mengkhawatirkan. Yang mencengangkah, China dituduh pelaku melakukan serangan-serangan sibernetika dan spionase. Tidak satu negara pun yang mencetak skor maksimal.*