Hidayatullah.com–Bagi remaja dan siapa saja yang memiliki akun di situs jejaring sosial, jangan melulu hanya update status galau. Mulailah untuk berbagi dengan hal hal yang bermanfaat. Demikian dikatakan jurnalis yang juga legislator DPR RI Meutya Vadia Hafid.
Hal itu disampaikan mantan wartawan yang pernah disandera saat perang Irak ini saat melatih tekhnik jurnalistik di hadapan para santri di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu, ditulis Jum’at (07/02/2014).
Menurut Meutya, jurnalisme saat ini cukup berkembang pesat terbukti dengan munculnya sebuah metode baru penyajian informasi dan fakta dengan menggunakan bantuan atau perantara teknologi internet. Salah satu contohnya adalah weblog, atau yang sering disebut sebagai blog dan mini blog yang banyak orang kenal dengan twitter ataupun Facebook.
“Di Twitter ataupun Facebook seharusnya tidak sekedar berisikan update status, cerita–cerita galau. Tetapi sebenarnya bisa berisi tentang informasi, sharing pengalaman, berbagi tips, dan ilmu. Kalau hanya berisi cerita galau sebenarnya tidak ada manfaatnya buat orang lain, bahkan cenderung menjadikan kita egois,” kata Meutya.
, imbuh dia.
Dengan Facebook mestinya kita bisa berbagi informasi, kejadian di sekitar kita yang bermanfaat buat orang lain. Bahkan Facebook mestinya bisa menjadi media pembelajaran. Misalnya kita belajar bahasa Inggris dengan cara menambah teman di Facebook kita dengan orang–orang di luar manca negara.
“Kita bisa bercerita tentang kehidupan kita di Pondok Pesantren, kita ceritakan apa saja yang kita pelajari, ilmu –ilmu yang kita dapatkan didalamnya kepada orang–orang di luar negeri sehingga menjadi syi’ar yang baik,” kata Meutya di hadapan ratusan santri Hidayatullah Medan.
Sebab jikalau Facebook dan jejaring sosial lainnya kita hanya berisi status galau, kata-kata yang tak ada gunanya, maka berarti kita hanya menjadi orang-orang yang egois saja.
Hal ini perlu disampaikan dan diberi penekanan lebih banyak karena menurut Meutya kalau kita bertanya pada diri kita, media apa hari ini yang paling powerfull bagi kita, televisi ataukah handphone, maka jawabannya adalah handphone.
“Karena media handphone lebih fleksibel dan lebih praktis penggunaannya. Televisi tidak bisa dibawa ke dalam WC atau kamar mandi, tetapi melalui handphone kita kita bisa akses internet di dalam WC, kamar mandi, bandara, keteta api, di atas bus dan lain-lain,” jelasnya
Menurut Meutya, siapa saja yang tidak banyak menggunakan internet hari ini akan ketinggalan informasi. Karena diskusi-diskusi hari ini banyak dilakukan oleh orang melaui social media.
Ia juga memandang tidak benar jika dikatakan bahwa kita harus menjauhi internet. Sebab teknologi internet tidak bisa dibendung, tidak bisa diboikot, tidak bisa dihalang-halangi, dia akan tetap terjadi dan tetap akan berkembang terus.
“Dan perkembangan itu begitu melaju. Karenya justru kita harus menguasai dan memanfaatkan internet untuk kepentingan dakwah dan penyebaran ilmu melaui media social. Mau tidak mau internet harus kita jadikan kekayaan,” imbuh dia.
Ia menjelaskan, jika sebelumnya televisi bisa menjadi media paling berpengaruh dan powerfull karena bisa masuk sampai ke ranah yang paling pribadi, kita bisa membawa dan menonton siaran televisi didalam kamar kita. Maka hari ini ada media yang lebih bisa masuk keranah pribadi kita, tidak hanya masuk kedalam kamar kita, tetapi masuk sampai ke kamar mandi kita, yaitu handphone.
“Kita bisa akses internet dengan handphone kita. Maka kedepan, media yang paling powerfull adalah handphone,” pungkasnya.
Pelatihan jurnalistik yang disampaikan Meutya Hafidz bersama tim “Rumah Berdikari” di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, itu ditutup dengan acara simulasi kewartawanan dan pemberian cenderamata oleh Meutya kepada Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Ustadz Drs. Choirul Anam.