Hidayatullah.com— Mantan wartawan Metro TV yang pernah di sandera di Iraq Meutya Viada Hafid melatih tekhnik jurnalistik santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara.
Wanita yang kini sebagai anggota DPR-RI Komisi I, membidangi luar negeri, intelegen dan informatika ini mengadakan acara pelatihan jurnalistik dalam rangka mencetak jurnalis muda santriwati Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.
Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan dengan “Rumah Berdikari” Medan dibawah naungan Ir. Mutya Hafid.
Pelatihan Jurnalistik yang berlangusng di Gedung Laboratorium IPA ini diikuti oleh 200 orang santriwati Madrasah Aliyah Hidayatullah Medan.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hiayatullah Medan, Ustadz Choirul Anam, mengatakan kegiatan ini merupakan ajang yang sangat penting untuk mencetak jurnalis muda kerena menurutnya Sumatera Utara merupakan lumbung calon-calon jurnalis yang memiliki bakat potensial dalam bidang jurnalistik.
“Ini juga untuk memotivasi generasi muda khususnya santriwati Pondok Pesantren Hidayatullah Medan untuk menjadi jurnalis,” kata Choirul Anam.
Meutya dalam pemaparannya mengatakan mengapa penting menyiapkan jurnalis muda. Ia menjelaskan, muda yang dimaksud bukanlah sekedar muda usia, tetapi juga muda karakter. Dalam artian, seorang jurnalis harus memiliki persepsi yang benar mengenai profesinya sebagai jurnalis.
“Jurnalis itu tidak sekedar memiliki kartu pers kemudian seenaknya melakukan liputan. Lalu menulis berita yang banyak sisi buruknya dan jauh dari fakta serta menyebar fitnah,” ujarnya berapi-api.
Meutya yang berkerudung merah jambu ini menerangkan bahwa berita yang mengandung fitnah itu seringkali berdampak luas. Berita fitnah tidak mencerdaskan bangsa tetapi justru malah membodohi bangsa.
“Disinilah pentingnya generasi muda Islam menguasai jurnalistik agar jangan non-muslim saja yang menguasainya, sehingga diperlukan keseriusan mencetak jurnalis muda Muslim untuk menguasai media,” kata wanita kelahiran Bandung ini.
Hari ini, jelas dia, kita menyaksikan bahwa perusahaan-perusahaan media lebih banyak dimiliki oleh kalangan non-Muslim sehingga pemberitaan-pemberitaan yang ada, misalnya mengenai terorisme cenderung mendiskreditkan Islam.
Oleh karena itu umat Islam harus menguasai media, supaya pemberitaan tentang Islam menjadi berimbang, jangan sampai kita tidak perduli sama sekali,” sambung Meutya Hafid.*