Hidayatullah.com–Aplikasi video TikTok menjadi salah satu platform media sosial yang paling populer saat ini. Tidak hanya di kalangan generasi muda, dewasa, tetapi juga anak-anak.
Aplikasi ini awalnya dikenal sebagai ‘Douyin’ yang berarti video pendek dan karena semakin populer, aplikasi ini diberi nama baru yaitu TikTok. Aplikasi gratis ini digunakan untuk menonton dan mengunggah video 60 detik dari semua hal (termasuk tarian, gerakan bibir, video binatang lucu bahkan iklan produk).
Masalahnya, seberapa aman aplikasi ini untuk anak-anak? Adakah batasan untuk melihat apa yang dimuat?
Dosen Kedokteran & Psikiater, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Rumah Sakit Pendidikan Universiti Putra Malaysia (HPUPM), Dr Ruziana Masiran mengatakan, umumnya pengguna apklikasi di bawah usia 13 tahun dapat melihat versi TikTok yang difilter. Namun beberapa khawatir anak-anak mungkin berbohong tentang usia mereka untuk melihat konten yang tidak difilter.
Menurut Dr Ruziana melalui sumber dari Global Web Index, per Februari 2020 diperkirakan TikTok memiliki 800 juta pengguna aktif di seluruh dunia dan di Amerika Serikat saja pada tahun 2020. Menurutnya penggunaan TikTok meningkat dua kali lipat menjadi 82 menit sehari.
“Data juga menunjukkan 90 persen pengguna TikTok mengunjungi aplikasi lebih dari sekali sehari. Rata-rata waktu yang dihabiskan di aplikasi, menurut TikTok, hampir 5 menit, lebih lama dari Snapchat dan Instagram,” katanya. “Sementara 41 persen pengguna TikTok di seluruh dunia berusia 16 hingga 24 tahun, sepertiga pengguna TikTok di Amerika Serikat berusia 14 tahun ke bawah,” jelasnya dikutip BERNAMA.
Anak-anak berusia empat hingga 15 tahun menghabiskan rata-rata 80 menit sehari di TikTok, dibandingkan dengan 85 menit sehari menonton video di YouTube, demikian menurut Dr Ruziana, berdasarkan data dalam laporan tahunan oleh Qustodio (aplikasi parental control yang berbasis di Barcelona, Spanyol), dari 60.000 keluarga dengan anak-anak berusia 4-14 tahun di Amerika Serikat, Inggris, dan Spanyol.
Dia menekankan bahwa meskipun TikTok memberikan kesempatan bagi anak-anak dan remaja untuk mengekspresikan diri mereka menggunakan kerangka kerja sederhana dengan pengguna yang memiliki akses gratis ke pengeditan video, audio, dan foto yang mirip dengan alat profesional, media sosial ini perlu dilihat lebih dengan dampak negatifnya. Mengomentari lebih lanjut, dia mengatakan penggunaan TikTok mengundang bahaya bagi anak-anak karena kelompok ini berpotensi rentan terhadap Predator Seksual.
“Sementara platform bekerja keras untuk mengurangi risiko predator seksual di antara anak di bawah umur, masalahnya masih lazim di TikTok. Misalnya, individu dewasa dapat mengirim pesan dan gambar seksual eksplisit kepada anak-anak. Ada banyak contoh di mana orang tua harus melaporkan perilaku predator ke polisi,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan TikTok yang lebih berbahaya dapat merugikan privasi dimana aplikasi tersebut dapat menggadaikan privasi anak, remaja dan keluarganya. “Misalnya, ketika anak-anak membuat video di rumah mereka, mereka mengekspos ruang privasi di rumah, berbagi lokasi, memajang mobil orang tua, dan memajang plat nomor kendaraan.”
Akibatnya, pihak yang tidak bertanggung jawab bisa memanfaatkan informasi pribadi tersebut. Akhirnya berbagai ancaman, kejahatan dunia maya, maupun kejahatan fisik dapat terjadi.
“Anak-anak dan remaja juga bisa terpapar komentar negatif di ruang TikTok, sama seperti di platform media sosial lainnya,” katanya.*