Haruskah kita membuang perjalanan segera? Beginilah cara teknologi realitas virtual memperkaya pariwisata global
Hidayatullah.com—Teknologi realitas virtual saat ini sedang merambah dunia pariwisata. Tidak heran akibat merebaknya pandemi Corona dan penutupan lalu lintas udara dalam waktu lama, manusia menyalurkan hasrat berinteraksinya melalui tekhnologi realitas virtual. Meskipun tekhnologi ini tergolong masih sedikit yang mampu menikmatinya.
Saat ini seseorang yang ingin mendaki Gunung Everest, mengunjungi Musium Fir’aun di Kairo atau menikmati kesakralan dan keindahan kota-kota di Syam, semua itu bisa dilakukan secara virtual, kutip laman Aljazeera.
Saat ini di Eropa, berbagai perusahaan dan badan tertarik untuk menyediakan layanan pariwisata virtual. Otoritas Pariwisata Madrid sudah sejak setahun terakhir memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menjalani pengalaman virtual. Mereka disuguhkan untuk mengenal ibu kota Spanyol sebelum kunjungan yang sebenarnya.
Biasanya tur 30 menit dipesan melalui situs web, setelah itu panggilan video dilakukan melalui aplikasi Zoom. Bila pemandu wisata dan konsumen/ turis telah siap maka tur virtual itu mulai dilakukan. Sang pemandu wisata akan melalui jalan-jalan di Madrid sambil menjelaskan segalanya kepada Si Turis ‘virtual’.
Bila Si Turis ingin berhenti di situs arkeologi atau gedung perpustakaan atau apapun yang menarik hatinya maka Si Pemandu Wisata akan melakukannya. Si Turis bebas untuk bertanya kepada Pemandu Wisata. Dan selama tour itu berlangsung Turis dapat melihat gambar 360 derajat/ panorama. Bahkan bisa diperbesar.
Dunia tiga dimensi
Meskipun layanan ini sangat berguna untuk mendapatkan kesan pertama Kota Madrid sebelum mengunjunginya tetapi harus membedakannya antara wisata realitas virtual dengan layanan realitas virtual tiga dimensi. Realitas virtual tiga dimensi membutuhkan lingkungan yang dihasilkan komputer 3D dan dilihat dengan kacamata realitas virtual.
Armin Brych, seorang peneliti di Kempten University of Applied Sciences menjelaskan bahwa kacamata realitas virtual atau sistem gua lingkungan virtual, yaitu ruangan yang dilengkapi dengan layar besar, harus digunakan agar pengguna dapat dikelilingi oleh realitas virtual. Semakin tenggelam turis di dunia maya di sekitarnya, semakin realistis pengalaman buatannya yang oleh para ahli menyebut kasus ini “perendaman”.
Meskipun beberapa pakar pariwisata masih melihat pariwisata virtual sebagai sektor yang sangat terbatas, telah terlihat beberapa perkembangan di Eropa. Sebuah perusahaan “Timeride” (Timeride) bahkan menawarkan perjalanan waktu virtual. Artinya Si Wisatawan dapat menyaksikan dirinya sendiri ‘hidup’ di era jaman dahulu.
Kota Essen di Jerman menawarkan tur kota menggunakan teknologi Mixed Reality, tur ini dikenal sebagai (Essen 1887); Turis berjalan di sekitar kota yang terletak di wilayah Ruhr, menggunakan Global Positioning System (GPS) dengan kacamata khusus.Cologne, Berlin, Dresden, Munich dan Frankfurt.
Hologram muncul di tempat-tempat tertentu dari tur, dan orang-orang dari tahun 1887 tampak berbicara dengan Si Turis, lalu gerobak tua berjalan di jalan di sekitar turis.
Merebaknya pandemi Corona menyebabkan menjamurnya tawaran wisata virtual, ketika wisatawan tidak dapat melakukan perjalanan selama waktu tutup yang ketat, banyak dari mereka pergi mengunjungi tempat-tempat eksotis secara virtual untuk melepaskan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari.
Tristan Horex, peneliti muda di Future Institute Jerman menekankan bahwa meskipun saat ini kita hidup di dunia digital yang besar tetapi kita adalah manusia alami, manusia dua dimensi. Jadi kata Horex, kita tidak mungkin untuk mengubah semuanya menjadi dunia digital. Terutama hal-hal yang bersifat ‘fisical’.
“Mengunjungi museum seni bukan hanya tentang melihat karya seni, melainkan pengalaman fisical yang umum, yang tentu saja tidak disediakan oleh kunjungan digital ke situs web museum seni.”
Yang paling menyenangkan dari wisata itu adalah gelak tawa dan kegairahan yang tumbuh karena pengalaman fisical. Hal itu sulit dipenuhi dalam wisata realitas virtual.
Namun Horex tidak menolak sepenuhnya penggunaan teknologi virtual reality di sektor pariwisata. Karena teknologi ini akan membantu Si Wisatawan sebelum dia benar-benar memutuskan untuk mengunjunginya secara real.
Pariwisata virtual dapat menciptakan pengalaman dan koeksistensi alternatif bagi beberapa kelompok sasaran, seperti orang-orang yang tidak dapat melakukan perjalanan karena cacat fisik atau perjalanan wisata yang terlalu mahal, terlalu menegangkan atau berbahaya bagi lingkungan dan iklim.
Bagi kaum muslim sendiri, yang paling menarik dari gagasan wisata realitas virtual adalah berkunjung ke tiga kota suci yakni Makkah, Madiinah dan Baitul Maqdis. Wisata jenis ini akan sangat membantu kaum muslim yang tidak memiliki dana, waktu dan tenaga yang cukup untuk berkunjung secara realitas.
Sementara kerinduan sudah sangat tinggi. Tetapi dalam menyikapi teknologi ini poin utamanya adalah jangan sampai kita mencampur adukkan antara wisata dengan ibadah.
Syariat ibadah itu sudah diatur secara tegas dalam al-Quran dan hadits. Misalnya ibadah haji, yang tidak akan mungkin bisa digantikan dengan ibadah haji virtual. Karena ibadah haji mengikat kuat antara hamba dengan tempat (Ka’bah). Keduanya harus bersifat real, tidak bisa salah satunya virtual.*/Hariono