Cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya, menempati posisi tertinggi dalam hati seorang hamba, mengalahkan kecintaannya pada dunia dan isinya
Hidayatullah.com | PERASAAN cinta adalah perasaan yang naluriah dan fitrah adanya. Ia ada dan bersemayam dalam hati. Perasaan cinta akan mendorong seluruh anggota badan untuk menampakannya dalam sikap, perkataan dan perbuatan.
Demikianlah cinta, ia ada dalam setiap diri manusia. Cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah swt, Al-Kholiq – Al-Mudabbir. Dan bukti cinta kepada Allah swt adalah dengan ittiba (mengikuti) Rasulullah ﷺ tentang bagaimana mengekspresikan cintanya kepada Allah swt, yaitu dengan sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat).
Pun begitu, bukti kita cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya, adalah dengan cinta kepada syariat-Nya. Sebab hanya dalam syariat-Nya saja terdapat seluruh petunjuk untuk seluruh umat manusia, sebagai bukti cinta Allah swt kepada hamba-Nya, dan sebagai petunjuk bagi seorang hamba bagaimana membuktikan cintanya kepada Allah swt.
Sebab Allah Swt dan Rasul-Nya mencintai seluruh umat manusia, maka manusia diberikan petunjuk dalam menjalani kehidupannya agar selamat didunia dan diakhirat. Selamat dari kedzoliman dan mendzolimi manusia.
Semua petunjuk inilah yang disebut sebagai syariat-Nya. Maka siapapun yang mencintai Allah swt dan Rasul-Nya, ia akan mencintai syariat-Nya.
Dan akan nampak dalam perkataan, sikap dan perbuatannya yaitu sesuai dengan tuntunan syariat. Ia akan menjalankan seluruh perintah Allah swt dan Rasul-Nya. Dan ia akan meninggalkan seluruh larangan Allah swt dan Rasul-Nya.
Ia akan sigap dalam beribadah, sholat, puasa, haji, zakat. Ia pun akan berdakwah menyampaikan risalah Islam kepada manusia.
Ia akan berjihad dengan harta bahkan dengan jiwanya. Dan ia akan melaksanakan seluruh perintah Allah swt dan Rasul-Nya tanpa nanti dan tanpa tapi.
Ia akan meninggalkan minuman khamr, ia akan meninggalkan riba, ia akan meninggalkan zina, dan ia akan meninggalkan seluruh apapun yang dilarang oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
Demikianlah bukti cinta kita kepada Allah swt dan Rasul-Nya adalah dengan cinta kepada syariat-Nya. Saat cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya, menempati posisi tertinggi dalam hati seorang hamba, ia akan mampu mengalahkan kecintaannya kepada dunia dan seisinya.
Ia akan menempatkan kecintaan kepada dunia dan seisinya dibawah kecintaannya kepada Allah swt dan Rasul- Nya. Dan ia akan menjadikan kecintaannya kepada dunia dan seisinya untuk merealisasikan kecintaannya kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
Kecintaannya kepada Allah swt dan Rasul-Nya, akan menuntunnya untuk meniti jalan dakwah seperti jalan dakwah Rasulullah ﷺ, tanpa melenceng sedikitpun. Ia akan menempuh thoriqoh dakwah Rasulullah ﷺ, seberapun sulitnya.
Ia akan menjadi seorang ahli ibadah di malam hari dan bagaikan singa disiang hari yang akan menjadi seorang yang selalu siap membela Allah swt dan Rasul-Nya.
Sebab bukti cinta adalah mengikuti yang dicintainya. Dan akan selalu menjaga setiap amanah dari yang dicintainya. Bukti cinta adalah taat tanpa nanti tanpa tapi.
Ia akan mengikuti jalan yang ditempuh seperti yang dicintainya. Maka wajar jika para sahabat begitu taat dan patuhnya kepada syariat-Nya, sebagai bukti cintanya kepada Rasulullah ﷺ.
Sebab cintanya kepada Rasulullah ﷺ akan mengantarkan pada kecintaannya kepada Allah swt.
Hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, sahabat Nabi ﷺ yang mulia, selalu berusaha melakukan dan melaksanakan apapun yang dilakukan dan dilaksanakan oleh Baginda Rasulullah ﷺ. Hingga beliau selalu berusaha agar sama persis perilakunya seperti yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah ﷺ.
Hingga Rasulullah ﷺ mengabarkan padanya jika Abu Bakar Ash-Shiddiq ra akan masuk surga melalui pintu manapun yang disukainya.
Hingga Umar bin Khattab ra pun merasa iri dengan amal sholih yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dalam mengikuti Rasulullah ﷺ, yang tidak pernah bisa diunggulinya.
Demikianlah bukti kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ, taat syariat tanpa nanti dan tanpa tapi.
Hingga setelah wafatnya Baginda Rasulullah ﷺ, pata sahabat betul-betul menampakan kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ yang dapat mengantarkannya pada kecintaannya kepada Allah swt, dengan melanjutkan amanah dakwah menyerukan kebenaran Islam kepada seluruh umat manusia, hingga Islam menyebar luas, dikenal dan dipeluk sebagai keyakinan mayoritas penduduk bumi. Islam menjadi agama mayoritas masyarakat dunia.
Walaupun hari ini terjadi sekulerisasi agama, hingga Islam hanya diambil sebagai agama ritual saja, namun hal demikian tetaplah menjadi bukti telah sampainya risalah Islam kepada seluruh umat manusia.
Walaupun hari ini terjadi sekulerisasi agama, hingga Islam dijauhkan dari aspek politik yaitu pengurusan urusan umat manusia, sehingga umat manusia menjadi sempit kehidupannya sebagai efek dari sekulerisasi agama ini.
Namun tetaplah keberadaan Islam yang dijauhkan dari aspek politik Islam menjadi bukti tersampaikannya Islam kepada seluruh umat manusia.
Walaupun terjadi sekulerisasi agama, namun ajaran Islam yang diterima umat manusia yang tidak lagi utuh, tetaplah menjadi bukti bahwa risalah Islam telah sampai kepada seluruh umat manusia.
Artinya amanah dakwah yang dipikul Baginda Rasulullah ﷺ telah tertunaikan secara sempurna. Hanya saja menjadi tugas bagi setiap muslim untuk melengkapi apa yang menjadi kewajibannya sebagai muslim sejati hari ini, yaitu menyempurnakan pengetahuannya tentang risalah Islam yang sempurna, yang mampu mengatur seluruh aspek kehidupan.
Islam mengantarkan pada kebaikan dan keberkahan hidup seluruh umat manusia, sehingga pernah menerangi kehidupan umat manusia dalam ketinggian akhlaq dan ajarannya, selama empat belas abad lamanya. Dan menjadi rahmatan lil alamiin. Wallahualam.*/ Ayu Mela Yulianti binti Djuhdi
Yuk bantu dakwah media melalui BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH)