Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Bertekad Mengakses Nasihat dan Kisah Para Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2013 11:01 11:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2013 11:01
Bagikan
Bagikan

DALAM bahasa Arab, hati disebut “al-qalbu”, artinya berbolak-balik, tidak menetap pada satu keadaan. Demikianlah kenyataan hati manusia. Ia bisa menjadi sangat lembut dan mudah diarahkan, tetapi bisa juga menjadi lebih keras dari batu. Sejenak trenyuh dan berduka, kemudian melonjak kegirangan. Pada dua keadaan ini, sebenarnya hati punya kebutuhan yang sama, yaitu nasihat. Dengannya maka berbolak-baliknya hati senantiasa terarah kepada kebaikan, tidak liar dan menyeretnya ke jurang kebinasaan.

Oleh karenanya, di dalam khazanah literatur Islam berkembang satu jenis kitab yang disebut raqa’iq atau riqaq. Istilah ini dapat dimaknai sebagai cerita ringan, atau kisah pelembut hati. Karya seperti ini umumnya pendek, dan di dalamnya banyak disitir kisah-kisah singkat yang menarik, juga nasihat-nasihat ringkas yang penuh makna. Wejangan dan wasiat para ulama besar dapat kita jumpai dengan mudah dalam karya-karya seperti ini, apalagi dalam karya-karya yang lebih detil dan panjang.

Mengapa nasihat ulama itu penting?

Sebab – menurut Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jilani – ia merupakan saripati pengalaman dan interaksi mereka dengan al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, sepanjang hidupnya mereka hanya mengabdikan diri kepada Allah, bukan kepada materi dan kenikmatan duniawi.

Tentu saja, mata air hikmah akan mengalir deras dari hati dan lisan mereka. Adapun kata-kata orang yang tidak beriman kepada Allah, apalagi yang memusuhi-Nya, jelas tidak akan steril dari polusi keyakinan mereka. Bukankah keyakinan yang mewarnai setiap hati pasti terefleksikan melalui kata-kata dan tindakan pemiliknya? Maka, kita harus hati-hati memilih nasihat, sebelum teracuni tanpa sadar.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi-nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda’).

Pertanyaannya adalah: jika kita ingin mendengar nasihat ulama, maka siapakah mereka? Sebab, di zaman ini, kita sering dibuat kecewa oleh perilaku tokoh-tokoh yang dikenal sebagai ulama. Di media massa sebagian dari mereka tampil sangat menawan dan sempurna. Namun, tiba-tiba hati kita menjadi miris manakala mengetahui fakta sebagian dari mereka yang sesungguhnya. Maka, ada baiknya kita mendahulukan untuk merujuk pada ulama generasi awal kaum Muslimin, yakni Salafus Shalih, sebelum ulama dari generasi lebih akhir. Mereka adalah generasi yang telah menyelesaikan misi serta perannya di dunia ini, dan kita pun telah melihat prestasi mereka. Sampainya dakwah dan ajaran Islam ke negeri dan zaman kita secara utuh merupakan salah satu bukti amal mereka. Selain itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam sendiri telah menyatakan mereka sebagai generasi terbaik (khairun qurun).

‘Imran bin Hushain bercerita: bahwa Nabi bersabda, “Yang terbaik Di antara kalian adalah generasiku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka.” – ‘Imran berkata, “Aku tidak tahu, apakah Nabi menyebut setelah generasi beliau dua generasi lagi ataukah tiga.” – Nabi bersabda, “Sesungguhnya setelah kalian akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, suka memberikan persaksian padahal tidak diminta bersaksi, suka bernadzar namun tidak dipenuhi, dan kegemukan merajalela di tengah-tengah mereka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menyatakan tiga lapisan generasi terbaik tersebut, yaitu Sahabat, Tabi’in, dan Atba’ Tabi’in. Kepada merekalah semestinya kita merujuk dan mencari nasihat, supaya hati kita senantiasa terbimbing. Masalah pilihan sumber ini penting. Sebab, di zaman sekarang, ketika media massa dan buku-buku beredar sangat bebas di masyarakat, tentu tidak sulit untuk mengakses nasihat dari sumber mana pun. Apalagi bagi pengguna piranti-piranti telekomunikasi yang telah dimuati fitur-fitur untuk sharing (berbagi), semisal SMS, MMS, chatting, email, BBM, twitter, Facebook, Skype, Youtube, Wikipedia, dsb.

Di saat bersamaan, buku-buku digital juga semakin lazim dipergunakan, termasuk audiobook (buku bersuara). Maka, yang sangat dibutuhkan adalah filter diri yang mantap, juga kecerdasan untuk memilih.

Sayangnya, kita menyaksikan banyak orang rela merogoh koceknya dalam-dalam hanya untuk membeli novel dan komik, bahkan mengoleksi serial lengkapnya dari awal sampai akhir.

Padahal isinya belum tentu penting dan hanya khayalan. Tidak sedikit pula orang yang berulangkali menonton film tertentu, padahal seluruhnya hanya ilusi. Sebagian orang juga sangat sibuk menghibur diri dari waktu ke waktu, bersenang-senang, dan berusaha melupakan masalah-masalah. Padahal, di depan kita semua ada masalah sangat besar yang pasti datang, tanpa seorang pun bisa menghindar, yakni kehidupan akhirat. Sebenarnya, kita lebih perlu memikirkan masalah akhirat ini, dan justru jangan sampai melupakannya; bukannya menghabiskan waktu untuk mengikuti imajinasi orang lain yang tidak jelas keterkaitannya dengan akhirat, bahkan justru memalingkan kita darinya.

Mengapa kita tidak mengalokasikan sebagian dana untuk mengakses nasihat dan kisah para ulama yang nyata, pasti bermanfaat, dan dijiwai nilai-nilai Islam?

Maka, mari bertekad dan menata amal, dengan mendengarkan kisah dan nasihat para ulama. Semoga dengan meneladani mereka, kita terpacu untuk beramal seperti amal mereka, dan akhirnya dikumpulkan oleh Allah Subhanahu Wata’alabersama mereka di akhirat kelak. Amin.*/Alimin Mukhtar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Andai Pelaku Cebongan itu Remaja Masjid, Apa Kata BNPT?
Tulisan selanjutnya Buah Kelengkeng Yang Tidak Sempat Matang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid
  • Suriah Buru Pelaku Kejahatan Perang, Eks Komandan Assad Ditangkap
  • Sedang Menangkap Ikan, Remaja Palestina Syahid Dihantam Tembakan Kapal ‘Israel’
  • Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil
  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?