Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Persiapkan Sebelum Melewati Shirath Hari Esok!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Mei 2013 10:05 10:05 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Mei 2013 10:05
Bagikan
Bagikan

UMUMNYA orang memahami masa depan hanya sebatas usia tua. Tidak heran jika banyak orang mati-matian mengumpulkan uang sejak muda dengan harapan hidup berlimpah harta di masa tuanya. Bahkan, kalau perlu kekuasaan tetap berada di tangan keturunannya.

Sekiranya, cara mendapatkannya halal, tentu tidak mengapa. Persoalannya adalah ketika pengumpulan harta itu dilakukan dengan cara-cara curang dan haram. Tentu ini suatu kecelakaan besar. Jangankan di akhirat, di masa tua di dunia pun pasti akan sengsara. Lihatlah nasib Fir’aun, Haman, Qarun, Namrudz dan yang lainnya.

Seperti jamak diketahui, sekarang ini demi sebuah posisi atau jabatan, sebagian orang sangat mudah berjanji dan sering tidak menepatinya tanpa sedikitpun ada penyesalan. Lain di bibir lain di hati.

Di depan orang bertindak seperti orang baik, di belakang sering mengabaikan perintah agama. Gemar sekali bermaksiat, menipu, menggunjing, dan menebar berita yang tidak jelas kebenarannya. Termasuk tidak segan-segan memfitnah saudara sendiri jika dianggap menghambat perjalanan karir atau mengancam posisinya. Sementara itu, tradisi yang dibangun setiap hari dan malamnya hanyalah ke kafe, hotel, dugem, dan pesta-pesta tiada henti. “Semua itu demi masa depan,” dalihnya.

Padahal, mengacu pada sumber hadits Nabi, di akhirat nanti, setiap manusia harus melintasi yang namanya shirath (jembatan) yang menjadi penentu nasib setiap jiwa bisa masuk surga atau terjun ke neraka. Oleh karena itu, Ibn Athaillah sangat heran kepada tingkah laku kebanyakan manusia yang heboh mengejar dunia dan tertawa-tawa seolah telah peroleh kebahagiaan akhirat. Di depan manusia bertingkah laku baik, di belakang sering melupakan aturan Allah.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Melintasi Shirath

Dalam kitabnya Tajul Arus, Ibn Athaillah berkata, “Kau tertawa terbahak-bahak seakan-akan telah melewati jembatan (shirath) dan menyeberangi neraka. Jika kau tidak menjaga sikap wara’ kepada Allah yang bisa mencegah dari maksiat ketika sendiri, taburkan tanah ke atas kepala sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Barangsiapa tidak memiliki sikap wara’ yang bisa mencegahnya dari maksiat ketika sendiri, Allah sama sekali tidak akan memedulikan amalnya.” (HR. Al-Daylami).

Shirath sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi adalah jembatan di atas Jahannam. Dalam shahih Bukhari Muslim disebutkan, “Jembatan Jahannam dibentangkan dan aku yang pertama kali melewatinya. Doa para rasul ketika itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkan!’

Pada jembatan itu terdapat jangkar-jangkar seperti duri sa’dan. Tahukah kalian, apakah duri sa’dan itu? Para sahabat menjawab, ya.

Beliau melanjutkan, “Ia bagaikan duri sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah. Ia akan menarik manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka. ada yang selamat ada pula yang merangkak kemudian selamat.” (HR. Bukhari).

Jadi, satu hal yang mestinya menjadi perhatian setiap orang beriman adalah bagaimana kira-kira nasibnya di akhirat nanti, terutama ketika harus melewati shirath. Karena shirath ini adalah media penentu dari Allah seseorang masuk surga atau terjungkal ke dalam neraka.
Sungguh, kita tidak pernah bisa mengetahui, apalagi memastikan, apakah amal yang kita lakukan termasuk amal yang diterima, jiwa kita adalah jiwa yang takwa, atau justru masuk kelompok manusia yang celaka.

Oleh karena itu, kita patut bertanya dalam diri, sebagaimana Hasan bin Ali radhiyallahu anhu berkata, “Aku takut ketika sebagian dosaku terlihat kemudian Allah berkata, ‘Dosamu tidak diampuni.”

Masa depan manusia yang harus menyeberangi shirath itulah yang kemudian mendorong Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui, tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis,” (HR. Bukhari).

Artinya, kita harus benar-benar mengimani hari akhir, dengan bersegera melakukan segala amal sholeh dan menjauhi perbuatan yang merusak. Berlomba-lomba menyiapkan bekal takwa menuju Allah agar kelak mendapat rahmat dari-Nya dan bisa menyeberang di atas shirath dengan selamat hingga ke surga.

Firman-Nya tentang Hari Esok

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr [59]: 20).

Ibn Katsir dalam tafsir ayat tersebut menyebutkan riwayat yang disampaikan oleh Imam Ahmad dari Al-Mundzir bin Jabir, yang secara inti memaparkan pengalaman Rasulullah melihat suku Mudhar yang sangat miskin, hingga tak beralas kaki dan tidak berpakaian.

Melihat hal tersebut, kemudian Rasulullah berkhutbah, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu (sampai akhir ayat). Lau beliau membaca ayat tersebut hingga tuntas, kemudian menambahkan, ‘…meskipun hanya dengan satu belah kurma.”

Mendengar khutbah itu, seorang sahabat Anshar datang membawa satu kantong, hampir saja telapak tangannya tidak mampu mengangkatnya, bahkan memang tidak mampu. Lalu orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan dari makanan dan pakaian, sehingga aku melihat wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam berseri-seri bagaikan disepuh emas.

Maka, menurut Ibn Katsir hari esok itu atau masa depan itu hanya tepat jika kita persiapkan dengan banyak beramal sholeh, bersegera membantu saudara yang lain yang sangat berhajat terhadap kebutuhan hidup, walau hanya dengan separuh biji kurma. Kemudian menjauhi seluruh bentuk larangan-Nya.

Dengan demikian perbanyaklah intropeksi diri (muhasabah). Lihatlah apa yang telah kita tabung untuk akhirat kita sendiri utamanya ketika bertemu dengan Rabb kita semua. Jangan sampai kita lupakan hal yang sebenarnya tidak lama lagi akan kita jumpai dalam perjalanan panjang kehidupan akhirat.

Mulai sekarang, berhentilah bergantung pada harta, jabatan, dan kekuasaan. Semua itu tidak akan berarti apa-apa tanpa iman, takwa dan amal sholeh. Justru siapapun kita, pada dasarnya sangat berpotensi mendapatkan masa depan yang baik bahkan sangat-sangat baik, asalkan, senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas takwa kepada-Nya dan banyak melakukan amal sholeh untuk kemaslahatan bersama.*/Imam Nawawi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mahasiwa RI Bantu WNI Korban Kebakaran di Malaysia
Tulisan selanjutnya Beijing Yang Mengambil Tempe Dari Piring Kita

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Eurovision
Berita

Laporan: Eurovision Kehilangan 35 Juta Penonton Setelah Israel Tetap Diizinkan Tampil

Berita
6 Juni 2026 11:02
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?