Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Beijing Yang Mengambil Tempe Dari Piring Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Mei 2013 10:41 10:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Mei 2013 10:41
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

BILA akhir-akhir ini lauk-pauk khas tempe mulai jarang muncul di meja makan Anda, jangan salahkan istri Anda untuk ini. Jangan salahkan pemerintah karena bisa jadi bukan salah mereka juga, tapi amannya salahkanlah Beijing atas kelangkaan dan ketidak terjangkauan tempe ini. Salahkan Beijing yang telah menyedot sekitar 60% kedelai dari pasar dunia, untuk konsumsi rakyat dan ternak mereka.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih di angka 7.8 %, jauh di atas kita yang 6.0% – ditambah penduduknya yang 5.8 kali lebih banyak dari kita – China memang jauh lebih perkasa dari kita dalam menyedot kedelai dunia untuk rakyat dan ternak mereka. Walhasil ketika komoditi kedelai ini diperebutkan di pasar, demand selalu siap menyedot berapa saja supply kedelai dunia – maka harga pasti melonjak.

Menurut data resminya pemerintah melalui Pusat Data dan) Sistem Informasi Pertanian – Kementerian Pertanian, sepanjang tahun lalu (Januari- November) kedelai hanya naik 13%.

Namun menurut Kompas (15/10/12), sampai oktober saja harga kedelai sudah naik 25.25%. Mana yang benar ? istri Anda dan para produsen tempe mungkin lebih tahu realitanya.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Kabar buruk berikutnya adalah bahwa kemahalan dan ketidak terjangkauan kedelai sebagai bahan baku tempe ini nampaknya masih akan terus berlanjut. Penyebabnya adalah kebijakan Beijing yang sama dengan kita – tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelainya. Bila kita impor sekitar 70% kebutuhan kedelai kita, China mengimpor sekitar 80 % dari kebutuhan kedelainya.

Sampai sekitar 20 tahun lalu kebutuhan kedelai 14 juta ton mereka dapat dicukupi dengan produksi dalam negeri. Namun seiring dengan pertumbuhan ekonominya, kini China yang membutuhkan sekitar 70 juta ton kedelai per tahun – sementara produksinya relatif tetap –mereka harus mengimpor 56 juta ton-nya dari pasar internasional. Inilah yang kemudian menjadi pesaing kita yang sangat kuat dalam memperebutkan ketersediaan kedelai ini.

Lebih jauh kebutuhan kedelai yang meningkat tajam dari China ini juga mengancam supply pangan dunia secara keseluruhan. Mengapa demikian? Perhatikan pada grafik di bawah. Dalam setengah abad terakhir tanah untuk produksi gandum relatif tidak bertambah, tanah untuk produksi jagung sedikit bertambah sedangkan tanah untuk produksi kedelai melonjak tajam.

Saat ini peningkatan kebutuhan kedelai China itu sudah bukan hanya membahayakan ketersediaan bahan pangan dunia saja, tetapi juga sudah sampai titik membahayakan iklim global. Eksportir utama kedelai dunia seperti Amerika sudah pada tingkat tidak bisa menambah lagi lahan kedelai tanpa harus mengorbankan lahan untuk komoditi lainnya seperti jagung dan gandum. Brasil tidak bisa lagi menambah lahan kedelai tanpa harus mengorbankan hutan Amazon mereka.

Lantas apa artinya semua ini bagi kita? Yang jelas kedelai tidak akan kembali murah – itupun kalau masih ada yang bisa kita impor. Kedelai produksi dalam negeri hanya mencukupi sekitar 30% dari yang kita butuhkan selama ini.

Jadi ibu-ibu di rumah harus mulai berfikir menu pengganti tempe, tahu dan sejenisnya yang berbahan baku kedelai. Masalahnya adalah makanan sekelas tempe terlanjur mendarah daging di sebagian besar penduduk negeri ini, pertama karena rasanya enak dan kedua (dahulunya) sumber protein yang relatif terjangkau.

Mau diganti apa kedelai ini? Mau diganti daging harganya sudah keburu naik lebih tinggi ketimbang kedelai. Ketika data resmi pemerintah mengungkapkan kenaikan harga kedelai 13% tersebut di atas, harga daging naiknya 14 %. Lagi-lagi istri Anda di rumah lebih tahu realitanya.

Masalah kedelai ini bukan masalah sepele bagi kita rakyat negeri ini dan keturunan kita. Ketika sumber protein yang dahulunya relatif terjangkau ini – kini menjadi tidak lagi terjangkau, maka akan terjadi degradasi gizi pada generasi kini dan nanti. Ketika gizi rata-rata itu menurun, kwalitas fisik dan intelektual kita juga menurun – inilah bahaya yang harus dihindarkan selanjutnya.

Maka apa yang seharusnya mulai kita lakukan dengan serius? Bangsa ini ibarat sebuah keluarga besar yang gemar berpesta. Dari waktu – ke waktu kita berpesta sehingga seolah tiada hari tanpa pesta ini – silahkan baca di media. Beritanya adalah pilkada ini, pilkada itu – persiapan pemilu ini dan itu, heboh partai ini dan itu – begitu seterusnya yang semuanya berujung pada urusan pesta (demokrasi).

Karena semuanya sedang menikmati kemeriahan pesta – sampai-sampai lupa bahwa dalam urusan pesta-pun harus ada yang menyiapkan makanannya, agar semua tamu mendapatkan jatah makanannya secara cukup. Harus ada koki yang memasaknya agar menu makanannya lezat, dan setelah itu harus ada yang mencuci piring-piringnya.

Ibarat pengamat dalam pesta tersebut, saya amati lho kok yang harusnya masak (departemen yang mengurusi pangan) ikut berpesta, yang seharusnya mencuci piring (penegakan hukum) ikut berpesta, yang seharusnya melayani tamu (eksekutif) ikut berpesta dan semuanya tumpleg bleg dalam kemeriahan pesta. Lantas siapa yang masak ? siapa yang mencuci piring? Siapa yang melayani tamu-tamu?

Di tengah kemeriahan pesta yang seolah tidak akan berakhir ini, sebagian kita baru sadar bahwa eh ternyata tidak ada lagi koki yang masak, tidak ada lagi yang bekerja mencuci piring dan tidak ada lagi yang melayani tamu-tamunya.

Bisa dibayangkan kemudian apa yang bisa terjadi? AEC (ASEAN Economics Community) yang siap mengambil pekerjaan dan usaha kita kini sudah di depan mata. Dan bahkan Beijing sudah lebih dahulu mengambil tahu dan tempe dari piring-piring kita. Bahwa pesta mestinya sudah harus berakhir, waktunya bekerja keras menghadapi realita hidup yang tidak semuanya Indah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar dan kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Persiapkan Sebelum Melewati Shirath Hari Esok!
Tulisan selanjutnya Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa

Berita
8 Juni 2026 21:00
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?