DUNIA semakin modern, fasilitas kian canggih. Kini, semua seakan bisa dicover oleh yang namanya smartphone, tetapi benarkah ke-Islam-an kita semakin membaik dengan gadget yang banyak menarik perhatian anak Adam di seluruh jagad ini?
Di antara ciri sempurnanya iman adalah meninggalkan perkara yang sia-sia, demikian ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam.
Pertanyaannya, bagaimana seseorang akan jauh dari kesia-siaan jika hidup tanpa cita-cita. Padahal, umat Islam pada masa awal adalah umat yang terdepan di dalam kebaikan dan kemaslahatan.
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100).
Demikian itulah cita-cita orang mukmin, yakni menggapai ridha Allah. Dan, sejarah telah memberikan bukti bagaimana kemudian kebaikan dan kemaslahatan itu akhirnya Allah berikan kepada siapa yang ingin ridha-Nya dan Allah ridha kepada mereka.
Dalam “Qishshatul Andalusia” Ragib As-Sirjani mengatakan, “Kira-kira 40 tahun sebelum peristiwa jatuhnya Andalusia yang terakhir, terjadi sesuatu yang sangat ajaib. Sesungguhnya Konstantinopel ditaklukkan pada tahun 857 H/ 1453M, yakni 40 tahun sebelum runtuhnya Andalusia. Tenggelamnya matahari Islam di pojok Eropa Barat bertepatan dengan terbitnya matahari Islam di pojok Eropa Timur. Allah mengganti orang-orang yang telah menjual agama, dan para penguasa Granada yang telah berkhianat di Andalusia, dengan orang-orang dari Dinasti Bani Utsmani yang ikhlas berjuang. Merkea inilah yang sukses menaklukkan Konstantinopel dan negara-negara lain. Di Eropa Timur Islam mulai mengalami perkembangan yang sangat cepat dan pesat daripada yang terjadi di negara-negara Andalusia dan Prancis.”
Hal tersebut memberikan bukti bahwa tidak ada alasan untuk umat Islam yang beriman tidak memiliki cita-cita, hanyut dalam derasnya aliran informasi yang absurd, kemudian menjadi pribadi kerdil yang hidup sebatas memikirkan diri sendiri. Sungguh, perangai demikian bukanlah sifat utama seorang mukmin.
Seorang mukmin yang memiliki cita-cita akan memiliki keberanian luar biasa. Tengoklah Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, kala mengirim surat kepada pembesar Persia. “Sekarang saya datang melawanmu, dengan satu kumpulan pasukan yang ingin menghadapi mati, sebagaimana keinginanmu menghidupkan cangkir khamar.”
Seperti gigihnya Khalid bin Walid mengejar cita-citanya, seperti itu pula Syafi’ bin Ali Al-Kinani (w. 730 H). Al-Hafidz Ibn Hajar dalam Ad-Durar Al-Kaminah menyebutkan bahwa Al-Kinani gemar mengoleksi buku. Ketika beliau meninggal dunia ada sekitar dua puluh lemari yang penuh dengan buku bermutu yang beliau tinggalkan.
Syeikh Ali Thanthawi berkata, “Aku hari ini adalah aku yang kemarin. Sebagaimana dahulu ketika aku masih kecil, aku menghabiskan hari-hariku di dalam rumah untuk membaca. Dahulu aku pernah membaca 300 lembar dalam sehari. Sedangkan kalau dirata-rata aku membaca 100 lembar setiap harinya, yaitu sejak tahun 1340 hingga 1402 H atau sepanjang 60 tahun, coba hitung ada berapa hari di dalamnya, lalu kalikan 100. Kalian lebih tahu berapa halaman yang telah kalian baca. Sedang saya membaca seluruh tema, hingga tema-tema ilmu pengetahuan.”
Lebih jauh, ketika kita menengok apa yang dilakukan Nabi Ibrahim, maka itu jauh lebih heroik lagi. Beliau rela membawa istri dan putranya, Ismail, ke sebuah kawasan yang tidak ada tanaman tumbuh di dalamnya. Semua itu agar keluarganya bisa menjauhkan diri dari menyembah berhala dan mendirikan sholat.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat.” (QS. Ibrahim [14]: 37).
Beberapa contoh di atas membuktikan bahwa ada cita-cita yang fokus untuk diwujudkan dalam kesempatan hidup di muka bumi ini. Bukan sekedar cita-cita yang berdimensi duniawi, tetapi melampaui apa yang dapat dijangkau oleh akal dan indera, cita-cita mereka melampaui ruang dan waktu dan membakar dada siapapun yang mendambakan kemuliaan dari sisi Allah Subhanahu Wata’ala.
Buya Hamka dalam Falsafah Hidup menuliskan, “Cita-citalah yang menjadikan manusia berjuang mencapai apa yang lebih sempurna. Manusia tidak mau mencukupkan keadaannya yang ada sekarang saja. Ia bercita-cita ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Sebab itu hanya manusialah yang senantiasa beroleh kemajuan; binatang tidak.”
Lebih lanjut, penulis Tafsir Al-Azhar itu menekankan, “Cita-citalah yang membedakan sebagian manusia dari yang sebagiannya. Kita berusaha mencapai cita-cita jadi orang mulia, orang berpangkat, pemimpin, pengarang dan orang alim. Tegasnya menjadi seorang yang terhormat. Kita bercita-cita dan berusaha agar cita-cita tercapai sebelum kita wafat.”
Oleh karena itu, di dalam hidup yang singkat ini, terlebih dalam situasi dimana dunia dihujani data yang begitu deras setiap detiknya, akan sangat merugi seorang mukmin yang membiarkan waktunya tergerus tanpa ada cita-cita yang menyala di dalam dada yang menuntun dan menata hidupnya menuju titik mulia di sisi Allah Ta’ala.
Terkait cita-cita ini, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pernah berkata, “Barangsiapa ingin mutiara harus berani terjun di lautan yang dalam.” Artinya, bercita-citalah dan habiskan 24 jam yang tersedia untuk mewujudkannya, bukan sibuk dengan segala hal yang tak jelas ujung pangkalnya. Wallahu a’lam.*