Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hikmah

Menguak Sejarah Ilmu Kentut, Flatologi [Bagian 3]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Juli 2009 22:25
Bagikan
Bagikan

 
oleh: Catur Sriherwanto

Hidayatullah.Com – Sebagaimana diuraikan di bagian ke-1 tulisan ini, datangnya seorang pasien kepada Dr. Levitt alias si “Dokter Kentut” mendorong dimulainya penelitian mengenai gas kentut. Tingkat keseringan, volume gas dalam satu kali semburan, serta jenis-jenis gas pembentuk kentut menjadi informasi penting yang didapatkan dalam penelitian itu, dan hal ini telah diuraikan di bagian ke-2.

Selanjutnya yang penting untuk dikaji ilmiah adalah apa yang menyebabkan perbedaan kentut pada setiap orang, baik dalam hal aroma, volume, dan tingkat keseringan? Ternyata Dr. Levitt menemukan bahwa ketidaksamaan ini kurang ditentukan oleh perbedaan kondisi tubuh manusia, namun lebih kepada apa yang masuk ke saluran pencernaan makanan mereka.  

Penggolongan makanan

Dalam ilmu gizi dan ilmu makanan telah diketahui bahwa terdapat beragam jenis karbohidrat atau hidrat arang yang dikandung makanan. Namun menurut Dr. Levitt tidak semua karbohidrat ini mampu dicerna oleh organ pencernaan makanan pada manusia. Ada karbohidrat yang hanya tersusun atas satu atau dua molekul gula sederhana; dan ini mudah dicerna manusia. Tapi sebagian karbohidrat lain ada yang terdiri dari tiga atau empat molekul gula; dan sulit diuraikan oleh organ-organ pencernaan makanan pada manusia.  

Baca Juga

Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Empat Kategori Ucapan: Mana yang Layak Disampaikan?
Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli
Hamba Allah: Antara Mengejar dan Dikejar Rezeki

Ketika karbohidrat golongan ini tidak tercerna dan kemudian langsung memasuki usus besar, maka karbohidrat ini akan menjadi mangsa empuk bagi beragam mikroba yang menghuni usus besar. Mikroba inilah yang memanfaatkan kehadiran karbohidrat yang tak mampu dicerna tubuh ini, dan menguraikannya menjadi zat-zat lebih sederhana, termasuk gas.

Penelitian flatologi ini pun memunculkan pengelompokan makanan berdasarkan dampaknya terhadap buang angin. Kelompok pertama adalah bahan makanan yang mengandung zat hidrat arang rumit (sulit tercerna) dengan kadar paling rendah, sehingga berdampak pada produksi gas kentut paling sedikit pula. Termasuk dalam kelompok ini adalah daging, ikan, anggur, buah berry, keripik kentang, kacang-kacangan (bukan dari jenis legum), dan telur. Golongan makanan ini dikenal pula dengan istilah “normoflatugenic”, yakni pemicu gas kentut dalam jumlah normal.

Kelompok kedua adalah bahan-bahan makanan yang menghasilkan gas perut dalam jumlah lebih banyak dari kelompok pertama. Kue kering, kentang, jeruk, apel, dan roti termasuk dalam kelompok ini karena mengandung sejumlah karbohidrat berupa gula-gula rumit yang sulit tercerna pencernaan manusia, dan karenanya berpeluang memicu pembentukan hawa usus..  

Golongan terakhir, yakni makanan dengan daya ledak gas perut tertinggi, tidak lain dan tidak bukan adalah gula-gula atau hidrat arang jenis rumit dan sulit dicerna dalam tubuh manusia. Di antara “bahan peledak” yang dapat dimakan ini adalah kacang-kacangan (dari jenis legum), wortel, anggur kering (kismis), pisang, bawang, susu maupun bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari susu.  
 
Golongan makanan terakhir inilah yang menjadi perhatian Dr. Levitt di saat mulai menangani pasien pengidap buang gas berlebihan itu. Biang keladi penghasil gas perut berlebihan itu dicari dengan cara  mengubah-ubah jenis makanan yang dimakan sang pasien.  

Uji coba “bahan peledak”

Selama 3 pekan pertama penanganan ini, sang dokter membatasi si pasien agar hanya memakan bahan makanan jenis “normoflatugenic”, yakni yang menyebabkan keluarnya gas perut dalam jumlah wajar atau paling rendah. Hasilnya pun segera terlihat: tingkat keseringan buang gas mengalami penurunan, dari 34 kali menjadi kurang dari 17 letupan gas per hari, dengan kata lain dalam batas kewajaran.  

Pasca masa percobaan awal itu, Levitt dan pasiennya melakukan uji coba terhadap kecenderungan berkurangnya kebiasaan kentut berlebihan pada sang pasien. Kali ini sang pasien diminta menambahkan sekitar 1 liter susu dalam menu makanannya. Sebagaimana disebut sebelumnya, susu tergolong bahan makanan dengan daya ledak perut tertinggi.

Apa yang kemudian terjadi? Dalam 24 jam setelah susu itu ditelan, sang pasien memberondongkan letupan gas perutnya sebanyak 90 kali. Enam puluh di antaranya terjadi dalam kurun waktu 3 jam saja. Penyebab yang masuk, dan dampak yang dikeluarkannya itu sedemikian cepat dan langsung sehingga Dr. Levitt tahu bahwa ia telah menemukan biang keladi ledakan hawa usus yang melebihi ambang batas kewajaran itu.

Kambing hitam ditemukan

Kambing hitam pemicu kentut berlebihan itu pun akhirnya dikenali. Dr. Levitt menyimpulkan bahwa pasiennya itu tidak tahan terhadap laktosa, yakni gula atau zat hidrat arang yang dikandung susu. Ketidaktahanan si pasien terhadap laktosa (gula susu) ini dikarenakan sistem pencernaannya tidak memiliki enzim yang dibutuhkan untuk mencerna gula susu itu.  

Ketika sang pasien meminum susu, maka laktosa itu langsung masuk ke dalam usus besar yang di dalamnya terdapat bakteri-bakteri yang akan membantu mencerna gula susu itu untuknya. Pencernaan bakteri inilah yang menghasilkan gas.

Pada banyak pasien yang tidak tahan terhadap gula susu ini, konsumsi susu memicu pembentukan hawa perut. Pada pasien Dr. Levitt ini, tingkat ketidaktahanan terhadap susu sangatlah parah, demikian pula ledakan gas perut yang diakibatkannya.

Penanganan permasalahan sang pasien itu ternyata sederhana, tak lebih dari sekedar menjaga agar menu makanan yang dimakannya termasuk dalam golongan bahan makanan pemicu ledakan gas perut tingkat rendah. Kalaupun ia hendak mengonsumsi susu, maka harus disertai pula dengan mengonsumsi laktase dengan dosis tertentu. Laktase adalah enzim yang membantu menguraikan gula susu, laktosa.

Merambah berbagai bidang

Di tahun-tahun berikutnya, Levitt pun kehilangan kontak dengan sang pasien. Akan tetapi, meskipun teka-teki permasalahan pasiennya telah dipecahkan dan dapat diatasi, Dr. Levitt tidak begitu saja melupakan apa yang telah dirintisnya di bidang ledakan gas perut ini. Dalam beberapa puluh tahun berikutnya, Dr. Levitt giat meneliti dan menerbitkan tulisan ilmiah sehingga ilmu kentut semakin berkembang dan maju.  

Kini, ilmu kentut tidak hanya dibahas oleh terbitan-terbitan ilmiah di bidang kedokteran, namun telah pula merambah berbagai bidang lain seperti ilmu kimia, makanan, pertanian, mikrobiologi, bioteknologi, kesehatan, lingkungan, farmasi dan industri. Tak hanya itu, berbagai teknologi dan produk industri yang berhubungan dengan kentut (flatulence) pun telah dipatenkan dan beredar di pasaran. (bersambung)

ilustras :http://www.ars.usda.gov

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Memahami Kristen Justru Setelah Masuk Islam
Tulisan selanjutnya Waktu Mepet, Imigrasi Siap Cetak Paspor Hijau

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

28 Maret 2026 10:00
Hikmah

Kisah Jenaka Hari Raya (6) : Adab di Atas Ilmu

26 Maret 2026 13:00
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (5) : Senjata Makan Tuan

25 Maret 2026 10:13
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (4) : Lebaran, Menjilat Sultan, dan Urusan Kavling Surga

24 Maret 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?