QADHI TAJUDDIN suatu saat mengalami kegelisahan, namun beliau sendiri tidak mengetahui sebabnya. Segala usaha dilakukan untuk menghilangkan perasaan gelisah itu, namun tidak ada hasilnya. Akhirnya beliau memutuskan mengendarai bighal dan melepas kendalinya, hingga hewan tersebut berjalan tanpa kendali tidak tentu arah.
Sampai akhirnya bighal yang dikendarai ulama Mesir penganut madzhab As Syafi’i itu sampai di suatu tempat yang sama sekali asing. Di tempat itu terdapat sebuah rumah tanpa candela. Bighal itu pun mendekati bengunan itu dan mencoba mendorong pintunya.
Dari dalam rumah terdengar suara,”Saya telanjang, kelaparan dan tidak mampu berdiri, tolonglah saya…” Akhirnya Qadhi Tajuddin membuka pintu dan menemui laki-laki dengan kondisi sebagaimana yang dikatakan. Beliau pun segera memberikan pertolongan.
Setelah kejadian itu, dada beliau menjadi terasa lapang dan kegelisahan itu pun hilang. Beliau sadar bahwa Allah Ta’ala menghendaki kebaikan padanya. (Thabaqat Al Wustha yang dinukil dalam ta’liq Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 323/8)
Demikianlah saat Allah mengarahkan kebaikan kepada seorang hamba sekaligus memberi pertolongan kepada hamba lainnya, dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka.