SEKELOMPOK nelayan itu dibuat galau dan kecewa. Ceritanya begini. Setibanya di daratan, ikan-ikan hasil melaut mereka lebih banyak yang mati daripada yang hidup.
Masalahnya, di pasar, ikan mati lebih murah daripada ikan hidup. Sebab semakin segar ikan, semakin mahal harganya. Karena lebih banyak ikan mati yang dijual, pendapatan mereka pun tak kunjung meningkat.
Kondisi tersebut selalu berulang. Padahal para nelayan itu sudah berupaya sedemikian rupa, berdasarkan teori yang mereka tahu, agar ikan-ikan tangkapan berada dalam tempat dan kondisi seaman-senyaman mungkin di atas kapal.
Segala pemikiran, sarana, dan fasilitas pun mereka kerahkan untuk bisa membawa ikan-ikan hidup ke daratan. Tapi tak kunjung berhasil! Selalu saja, kebanyakan ikan mereka meregang nyawa sebelum terjual.
Hingga suatu ketika. Seorang nelayan berpikiran terbalik dari rekan-rekannya. Entah ide darimana, dia rombak kondisi kolam besar penyimpanan ikan di kapal mereka. Lalu pada salah satu bagiannya, ia tempatkan seekor ikan hiu yang tak diberi makan dalam waktu cukup lama.
Melautlah kelompok nelayan itu. Seperti biasa, ikan-ikan hasil tangkapan ditampung di atas kapal. Kali ini, begitu ikan sudah banyak, dilepaslah hiu yang kelaparan tadi ke kerumunan hasil tangkapan itu.
Karuan saja, ikan-ikan yang lebih kecil dari hiu itu ketakutan. Mereka berlarian, terus bergerak ke sana ke mari, demi menyelamatkan diri dari buruan hiu.
Singkat cerita. Setibanya di daratan, para nelayan itu gembira bukan main. Penyebabnya, ikan-ikan hasil tangkapan mereka kali ini lebih banyak yang hidup daripada yang mati. Di pasar, harganya pun jauh lebih mahal, membuat pendapatan para nelayan itu meningkat.
Bergerak, Bernilai
Kisah serupa yang sudah cukup meluas itu diangkat kembali dalam sebuah diskusi sekaligus mabit halaqah para pemuda dan mahasiswa di Masjid Baitul Karim, Polonia, Jakarta Timur. Sabtu (23/04/2016) malam Ahad, 16 Rajab 1437 H itu, tema “Melahirkan Kader Militan, Progresif, dan Terpimpin” menjadi santapan mereka.
Apa hubungan tema itu dengan ikan nelayan? Ustadz Akib Junaid, sebagai pemateri dalam diskusi itu, mengungkit kisah tersebut sebagai sentakan bagi 30-an hadirin.
Layaknya ikan-ikan tangkapan nelayan saat masih “dimanja”, sarana penampungan yang aman dan nyaman justru melenakan.
Begitu pula para kader-kader Islam umumnya saat ini. Berbagai fasilitas dan kemajuan zaman yang ada, justru memati(suri)kan kualitas dan kuantitas mereka dalam berkarya, berkreasi, serta berproduktifitas.
Lebih jelasnya, bahaya atau tantangan adalah pemicu untuk selalu bergerak. Semakin aktif bergerak, semakin besar peluang bertahan hidup, semakin bernilailah seseorang. Sebaliknya, semakin malas bergerak, semakin memperbesar peluang kebinasaannya.
Inilah yang ditawarkan. Agar para generasi bisa tampil militan, progresif, dan terpimpin, serta selalu bergerak dan berkarya; solusinya adalah meninggalkan zona nyaman. Lalu meretas “zona hiu” penuh tantangan.
“Dan katakanlah, ‘Bekerja (berkarya)lah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin…’.” (QS: At-Taubah [9]: 105)
Jangan Tunggu Dijajah Lagi
Kisah itu pun mengingatkan Akib akan pola penggemblengan dan pengkaderan yang dirasakannya dulu saat nyantri pada masa Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.
“Abdullah Said mengkondisikan para kadernya untuk tidak berada pada zona nyaman,” kenang dai yang sudah melanglang buana berdakwah ke penjuru Indonesia ini.
Yang menarik, kata Abdullah Said dikenang Akib Junaid, kenapa Indonesia pernah melahirkan Soekarno dan tokoh-tokoh besar pada usia yang relatif sangat muda? Rahasianya karena Indonesia lama dijajah oleh Belanda dan Jepang.
Jadi, untuk melahirkan pemuda militan saat ini, “Bagusnya mungkin kita undang penjajah lagi,” demikian kira-kira guraunya.
Tentu tak seekstrem gurauan itu. Tapi intinya, yang memancing kreatifitas dan progresifitas adalah adanya tantangan. Dan yang mematikannya adalah kenyamanan.
“Ketika nelayan berpikiran ideal, mengkondisikan ikan dalam zona nyaman, justru bikin ikan mati,” pesan Akib Junaid dengan kiasan.
Di antara tantangan yang ia dan rekan-rekannya sesama dai rasakan, adalah penugasan dakwah ke berbagai pelosok negeri. Dengan segala ketidaknyamanan duniawi; ongkos minim, tempat tinggal tak jelas, misalnya, tetap bertugas.
Berbekal ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan sang pemimpin, mereka bisa melebarkan dakwah Islam ke seantero Nusantara. Lantas bagaimana dengan para pemuda saat ini, siapkah mengemban tantangan serupa dalam dimensi berbeda?
Paling tidak, pesan sang ustadz kepada para pemuda dari komunitas el-Mahalli, el-Fatah, HMI, atlet Muaythai, dan lain-lain itu, mulailah konsisten dalam berhalaqah. Agar para generasi tidak “mati” sebelum saatnya!*
Abu Fawwaz, santri, tinggal di Jakarta