Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hikmah

Melepas Zona Nyaman, Meretas “Zona Hiu”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 April 2016 19:57 7:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 April 2016 19:30
Bagikan
[Ilustrasi]
Bagikan

SEKELOMPOK nelayan itu dibuat galau dan kecewa. Ceritanya begini. Setibanya di daratan, ikan-ikan hasil melaut mereka lebih banyak yang mati daripada yang hidup.

Masalahnya, di pasar, ikan mati lebih murah daripada ikan hidup. Sebab semakin segar ikan, semakin mahal harganya. Karena lebih banyak ikan mati yang dijual, pendapatan mereka pun tak kunjung meningkat.

Kondisi tersebut selalu berulang. Padahal para nelayan itu sudah berupaya sedemikian rupa, berdasarkan teori yang mereka tahu, agar ikan-ikan tangkapan berada dalam tempat dan kondisi seaman-senyaman mungkin di atas kapal.

Segala pemikiran, sarana, dan fasilitas pun mereka kerahkan untuk bisa membawa ikan-ikan hidup ke daratan. Tapi tak kunjung berhasil! Selalu saja, kebanyakan ikan mereka meregang nyawa sebelum terjual.

Hingga suatu ketika. Seorang nelayan berpikiran terbalik dari rekan-rekannya. Entah ide darimana, dia rombak kondisi kolam besar penyimpanan ikan di kapal mereka. Lalu pada salah satu bagiannya, ia tempatkan seekor ikan hiu yang tak diberi makan dalam waktu cukup lama.

Baca Juga

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Empat Kategori Ucapan: Mana yang Layak Disampaikan?
Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli

Melautlah kelompok nelayan itu. Seperti biasa, ikan-ikan hasil tangkapan ditampung di atas kapal. Kali ini, begitu ikan sudah banyak, dilepaslah hiu yang kelaparan tadi ke kerumunan hasil tangkapan itu.

Karuan saja, ikan-ikan yang lebih kecil dari hiu itu ketakutan. Mereka berlarian, terus bergerak ke sana ke mari, demi menyelamatkan diri dari buruan hiu.

Singkat cerita. Setibanya di daratan, para nelayan itu gembira bukan main. Penyebabnya, ikan-ikan hasil tangkapan mereka kali ini lebih banyak yang hidup daripada yang mati. Di pasar, harganya pun jauh lebih mahal, membuat pendapatan para nelayan itu meningkat.

Bergerak, Bernilai

Kisah serupa yang sudah cukup meluas itu diangkat kembali dalam sebuah diskusi sekaligus mabit halaqah para pemuda dan mahasiswa di Masjid Baitul Karim, Polonia, Jakarta Timur. Sabtu (23/04/2016) malam Ahad, 16 Rajab 1437 H itu, tema “Melahirkan Kader Militan, Progresif, dan Terpimpin” menjadi santapan mereka.

Apa hubungan tema itu dengan ikan nelayan? Ustadz Akib Junaid, sebagai pemateri dalam diskusi itu, mengungkit kisah tersebut sebagai sentakan bagi 30-an hadirin.

Layaknya ikan-ikan tangkapan nelayan saat masih “dimanja”, sarana penampungan yang aman dan nyaman justru melenakan.

Begitu pula para kader-kader Islam umumnya saat ini. Berbagai fasilitas dan kemajuan zaman yang ada, justru memati(suri)kan kualitas dan kuantitas mereka dalam berkarya, berkreasi, serta berproduktifitas.

Akib Junaid di depan para pemuda dan mahasiswa di Jakarta (23/04/2016). [Foto: Syakur]
Akib Junaid di depan para pemuda dan mahasiswa di Jakarta (23/04/2016). [Foto: Syakur]
Para pemuda pun diajak untuk memetik hikmah dari kisah di atas. Mengapa ikan-ikan itu kemudian jadi lebih banyak yang hidup? “Karena terus dikejar hiu. Itu yang menyebabkan ikan-ikan itu bertahan hidup lebih lama, sehingga harganya lebih mahal setelah dipasarkan,” ujar Akib Junaid.

Lebih jelasnya, bahaya atau tantangan adalah pemicu untuk selalu bergerak. Semakin aktif bergerak, semakin besar peluang bertahan hidup, semakin bernilailah seseorang. Sebaliknya, semakin malas bergerak, semakin memperbesar peluang kebinasaannya.

Inilah yang ditawarkan. Agar para generasi bisa tampil militan, progresif, dan terpimpin, serta selalu bergerak dan berkarya; solusinya adalah meninggalkan zona nyaman. Lalu meretas “zona hiu” penuh tantangan.

“Dan katakanlah, ‘Bekerja (berkarya)lah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin…’.” (QS: At-Taubah [9]: 105)

Jangan Tunggu Dijajah Lagi

Kisah itu pun mengingatkan Akib akan pola penggemblengan dan pengkaderan yang dirasakannya dulu saat nyantri pada masa Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.

“Abdullah Said mengkondisikan para kadernya untuk tidak berada pada zona nyaman,” kenang dai yang sudah melanglang buana berdakwah ke penjuru Indonesia ini.

Yang menarik, kata Abdullah Said dikenang Akib Junaid, kenapa Indonesia pernah melahirkan Soekarno dan tokoh-tokoh besar pada usia yang relatif sangat muda? Rahasianya karena Indonesia lama dijajah oleh Belanda dan Jepang.

Jadi, untuk melahirkan pemuda militan saat ini, “Bagusnya mungkin kita undang penjajah lagi,” demikian kira-kira guraunya.

Tentu tak seekstrem gurauan itu. Tapi intinya, yang memancing kreatifitas dan progresifitas adalah adanya tantangan. Dan yang mematikannya adalah kenyamanan.

“Ketika nelayan berpikiran ideal, mengkondisikan ikan dalam zona nyaman, justru bikin ikan mati,” pesan Akib Junaid dengan kiasan.

Di antara tantangan yang ia dan rekan-rekannya sesama dai rasakan, adalah penugasan dakwah ke berbagai pelosok negeri. Dengan segala ketidaknyamanan duniawi; ongkos minim, tempat tinggal tak jelas, misalnya, tetap bertugas.

Berbekal ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan sang pemimpin, mereka bisa melebarkan dakwah Islam ke seantero Nusantara. Lantas bagaimana dengan para pemuda saat ini, siapkah mengemban tantangan serupa dalam dimensi berbeda?

Paling tidak, pesan sang ustadz kepada para pemuda dari komunitas el-Mahalli, el-Fatah, HMI, atlet Muaythai, dan lain-lain itu, mulailah konsisten dalam berhalaqah. Agar para generasi tidak “mati” sebelum saatnya!*

Abu Fawwaz, santri, tinggal di Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gaya hidupgenerasi mudaPemuda Indonesiapemuda islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berlindung dari Pemimpin yang Kekanak-Kanakan
Tulisan selanjutnya Padamkan Hawa Nafsu dengan Rasa Takut

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Hamba Allah: Antara Mengejar dan Dikejar Rezeki

4 April 2026 18:18
HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

28 Maret 2026 10:00
Hikmah

Kisah Jenaka Hari Raya (6) : Adab di Atas Ilmu

26 Maret 2026 13:00
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (5) : Senjata Makan Tuan

25 Maret 2026 10:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?