Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Ketika Kepercayaan kepada Suami Hilang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 April 2015 09:52 9:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 April 2015 09:51
Bagikan
Bagikan

SEPASANG suami-istri tengah dirundung masalah. Sang suami  mengatakan bahwa istrinya  sering marah-marah serta menuduh dirinya selingkuh dengan perempuan lain. Sang istri  bersikukuh bahwa yang dituduhkannya tersebut, bersumber dari orang yang terpercaya.

Suami dan istri, sejatinya adalah pakaian (jauz) bagi kita. Pakaian, secara kasat mata adalah yang paling tahu apa yang ada pada tubuh kita. Pakaianlah yang menutupi kekurangan pada jasad kita dan memperindah penampilan. Namun, bila jauz ini mulai meninggalkan fungsinya dan “mencurigakan”, apa yang harus kita lakukan?

Yang pertama, yakinlah bahwa orang yang beriman hanyalah menjadikan Allah Subhanahu Wata’ala, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai orang yang dipercaya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata,’Kami beriman’ dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), ‘Matilah kamu karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS: Ali Imran 118-120)

Dari ayat ini, Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan bahwa mempercayai orang-orang yang berada diluar kalangan orang beriman alias orang-orang asbun (asal bunyi), akan mendatangkan kemudharatan yang besar. Seperti pada kasus suami-istri diatas. Ayat ini menjadi ayat yang penting untuk dipegang teguh oleh suami-istri yang beriman. Banyak pihak yang akan menjadi pembisik di samping suami-istri. Dari pihak keluarga, teman, maupun masyarakat yang ada di sekitar kita.

Seiring bertambahnya usia rumah tangga dari hari ke hari, maka harus bertambah dewasa pula sikap kita dalam memilih dan memilah informasi yang dapat dipercaya. Pilihlah informasi yang berasal dari orang-orang yang tsiqoh (terpercaya). Bila memungkinkan, apa yang mereka sampaikan pun harus disertai oleh fakta dan data akurat. Sehingga apa yang akan kita sampaikan pada pasangan tidak hanya berdasar pada prasangka atau emosi belaka.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Jangan sampai, apa yang terjadi antara kita dan pasangan menjadi konsumsi publik dan hanya menjadi bahan cemooh orang-orang yang berpenyakit hati.

Kedua, yang paling tahu masalahnya hanya kita dan Allah Subhanahu Wata’ala. Prinsip yang kedua ini sangat penting kita perhatikan. Yang tahu persis bibit permasalahan, karakter pasangan, bahkan masalah yang terjadi sekalipun adalah kita dan pasangan. Jadi yang tahu persis duduk permasalahan yang terjadi dan celah yang dapat digunakan sebagai titik terang penyelesaian adalah kita dan pasangan.

Menceritakan panjang lebar keluh-kesah kita pada orang lain, sekalipun itu adalah orangtua kita sendiri, harus bertujuan hanya untuk mencari saran atau pandangan. Karena, yang tahu persis masalahnya dan yang dapat menyepakati berbagai point yang harus dipenuhi oleh suami atau istri, hanya kita.

Disinilah dituntut kemandirian dan kedewasaan dari suami dan istri. Berpeganglah pada komitmen awal pernikahan dan sadarkanlah diri bahwa kehidupan berkeluarga tak hanya di dunia tetapi harus juga berkumpul bersama di akhirat. Hindari semaksimal mungkin membeberkan masalah, bila sebenarnya waktu bisa menjawab pertanyaan kita. Misalnya jangan langsung menelepon sahabat untuk curhat ketika kita dan pasangan bertengkar di pagi hari.

Tunggulah hingga pasangan berpindah tempat, melakukan aktivitas lain, atau pulang bekerja. Waktu yang berjalan dan tempat yang berganti biasanya efektif untuk meredakan emosi. Berdoalah pada Allah Subhanahu Wata’ala untuk memadamkan amarahnya dan membuat keadaan lebih baik.

Ketiga, utamakan husnudzon.

Kedepankanlah husnudzon dalam setiap perasangka dan tindakan kita pada pasangan. Mungkin, pasangan kita tidak bisa menceritakan apa yang tengah dihadapinya sekarang. Mungkin karena terlalu berbelit untuk dijelaskan atau khawatir membuat kita cemas. Kondisi ini yang juga terjadi pada istri yang cenderung menyimpan masalahnya sendiri.

Jadi, bukan berarti ketidakterusterangannya berarti dia menyembunyikan orang lain atau ingin bermain “dibelakang” tetapi adakalanya pasangan ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.

Keinginan untuk menyelesaikan masalah sendiri ini juga harus kita hargai. Walaupun tidak banyak orang sepakat dengan sikap ini, tetapi bila memang cara ini yang ditempuhnya, berperasangka baiklah bahwa ini dilakukannya sebagai tanda cintanya dan cara untuk membuat dirinya merasa berarti.

Jadi, tidak ada alasan untuk kita mencurigainya dan memilih untuk “memata-matai” tindakan tindakannya. Berperasangka baiklah kepada pasangan, sesulit apapun kondisi yang dihadapi. Bertanyalah kepadanya, bila ada yang mencemaskan kita. Dan, yang terpenting, berdoalah kepada Allah SWT sebagai sebaik-baik Penjaga, Yang Maha Mengetahui, dan Sebaik-baik Pemberi jalan keluar. Maka, kitapun akan selalu merasa lapang.*/Kartika Ummu Arina

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:istrikepercayaanMuslimpasangansuami
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Terbitnya Perda “Tata Nilai Kehidupan Religius” Diilai Anugerah Umat Islam Tasikmalaya
Tulisan selanjutnya SMA Muhammadiyah Kecam EO Yang Catut Namanya dalam Pesta Bikini

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?