Oleh: Saiful Hamiwanto
SAYA dan istri terpilih menjadi satu di antara sekian banyak pasangan yang mendapat karunia anak dari Allah Yang Mahakasih-sayang. Sampai saat ini ada tiga anak yang Dia amanahkan kepada kami.
Lebih dari itu, Safina Azizah, demikian nama anak kedua saya, telah menjadi anggota keluarga istimewa bagi kami, karena Allah telah menitipkan sejumlah penyakit dan kekurangan pada dirinya.
Putri kami lahir dengan kondisi sehat, normal, dan cukup bulan. Namun, menurut para perawat, bayi ini senantiasa rewel dan gelisah. Hanya mau tidur di dalam inkubator, seperti bayi-bayi yang lahir prematur.
Atas takdir Allah, Safina memang hanya mendapat ASI selama dua pekan. Setelah itu, dia mengonsumsi susu formula. Namun, rupanya Safina mempunyai masalah dengan susunya. Setiap kali selesai meminum susu formula, dia muntah-muntah. Sayangnya, waktu itu kami tidak menyadari kelainan tersebut.
Kelainan itu kemudian kami sadari ketika pada usia 6 bulan, tumbuh kembangnya tidak bertambah. Safina belum mampu duduk sendiri. Karena itu, kami bawa ke rumah sakit. Dokter ahli syaraf anak melihat ada masalah pada Safina, tetapi belum bisa memastikan apa masalah dan penyebabnya. Dia hanya merekomendasikan Safina menjalani fisioterapi.
Atas rekomendasi itu, kami kemudian membawa Safina dua kali sepekan di rumah sakit untuk menjalani fisioterapi. Ketika berusia setahun, Safina kami bawa ke dokter ahli metabolik dan gizi anak. Safina terdiagnosis mengidap alergi berat susu sapi plus penyakit rhenal tubular acidosis (RTA), kelainan pada ginjal yang menyebabkan kadar keasamaan pada darah terlalu tinggi. “Susu sapi adalah racun bagi Safina,” kata dokter ahli metabolik dan gizi anak tersebut, “Karena itu, harus dihentikan pemberiannya hari ini juga!”
Sejak itu, Safina harus mengganti susunya menjadi susu formula khusus yang diimpor dari luar negeri. Harganya jauh di atas kemampuan kami untuk membelinya, sehingga terpaksa kami mencari pinjaman ke berbagai pihak untuk membelinya. Sayangnya lagi, susu khusus tersebut rasanya tidak enak, sehingga Safina enggan meminumnya.
NGT
Karena tak ada pilihan lain, hanya susu khusus itu yang boleh masuk ke perutnya, maka Safina harus memakai selang naso gastric tube (NGT) untuk memasukkan susu ke dalam perutnya. Selang itu dimasukkan dari lubang hidungnya hingga ke dalam lambungnya. Sepekan sekali selang itu harus diganti.
Sayangnya, meski sudah mengkonsumsi susu khusus yang harganya selangit itu, pencernaan Safina tetap tak kuat. Dia sering mengalami diare berat, hingga mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), lalu akhirnya harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
Gangguan pencernaan ini sering berulang. Sekitar setiap 3 bulan sekali Safina harus dirawat di rumah sakit karena diare berat. Dan gangguan ini berlangsung cukup lama, sekitar 3 tahunan.
Madu dan Herbal
Secercah harapan mulai muncul ketika Safina kami bawa ke dokter umum yang menekuni pengobatan nabawi. Safina diberi madu dan obat-obatan herbal. Setelah mengonsumsi herbal tersebut dan menghentikan susu apapun, perlahan-lahan kondisi pencernaannya membaik. Alhamdulillah, Safina terbebas dari diare berkala. Selang NGT yang terus menempel pada tubuhnya selama 4 tahun akhirnya dapat dicabut dari tubuhnya.
Namun, semua kemajuan itu hanya sedikit saja dibandingkan dengan pertumbuhan anak-anak yang normal. Hingga usianya yang saat ini menginjak 9 tahun, Safina belum bisa berjalan dan berbicara. Dalam dunia kedokteran, macetnya tumbuh kembang Safina lazim disebut dengan istilah global development delay.
Lem Besi
Sedihkah kami? Tentu saja. Mana ada orangtua yang tidak bersedih menghadapi kenyataan bahwa anaknya mengalami kecacatan? Terutama di masa-masa awal Safina divonis mengidap penyakit ginjal dan kemacetan tumbuh kembangnya, hari-hari kami lalui dengan perasaan galau.
Saya mengenal beberapa pasangan yang perkawinannya bubar karena satu atau keduanya tak dapat menerima kenyataan bahwa mereka dikaruniai anak cacat. Saya juga mengenal ada seorang laki-laki yang minggat meninggalkan keluarganya hanya karena Allah menitipkan anak yang tak sempurna kepadanya.
Saya dan istri sama sedihnya dengan mereka. Namun, kami tak kecewa seperti mereka. Tak sedikit pun kami kecewa kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mengaruniai kami anak yang sehat dan anak yang cacat.
Kami berupaya bersangka baik kepada Allah, bahwa Dia mengaruniai kami anak berkebutuhan khusus (ABK), bukan karena Dia murka kepada kami. Akan tetapi, anak spesial ini sengaja Dia titipkan kepada kami orangtua spesial, agar semakin hari semakin berkurang dosa kami, dan agar kami semakin dekat kepada-Nya.
Kalau pada sebagian keluarga, kehadiran anak cacat menjadikan rumahtangga mereka retak, kehadiran Safina justru semakin merekatkan cinta di antara kami. Bahkan Safina telah menjadi “lem besi” bagi keluarga kami. Alhamdulillah.*
Ayah tiga anak tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Artikel pernah dimuat di Majalah Karimah, grup Kelompok Media Hidayatullah (KMH)