KETIKA Abu Bakar Al-Syibli sedang menghadapi sakratulmaut, dia berkata kepada pembantunya, “Aku memiliki uang satu dirham yang didapat secara zalim. Tolong engkau bersedekah untuk pemilik uang satu dirham itu dengan uang sebanyak seribu dirham. Aku tidak pernah merasakan risau yang melebihi kerisauanku terhadap uang satu dirham ini.”
Setelah itu, beliau memerintahkan kepada pembantunya untuk mewudhukannya. Maka, pembantunya mewudhukan Al-Syibli. Ketika mewudhukan Al-Syibli, pembantunya tidak menyela-nyela jenggot beliau. Al-Syibli mengangkat tangannya untuk menyela-nyela jenggotnya dengan air. Padahal, ketika itu lidahnya sudah tidak dapat berbicara. Dia sendiri yang menyela-nyela jenggotnya dengan air (karena mengikuti sunnah Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam).
Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasallam bersabda, ‘Kalian jangan melarang istri-istri kalian memasuki masjid apabila mereka meminta izin kepada kalian!’ Mendengar hal itu, Bilal bin ‘Abdullah berkata, ‘Demi Allah. Aku akan melarang mereka.’
Dengan nada marah, ‘Abdullah memarahi Bilal dengan marah yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, ‘Aku tadi menyampaikan kepadamu sebuah kabar dari Rasulullah, tetapi kenapa engkau malah berkata, `Aku akan melarang mereka?”‘
Dalam sebagian riwayat dikatakan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar (Ibn ‘Umar) tidak pernah berbicara dengan Bilal bin’Abdullah hingga meninggal dunia.*
Dari tulisan Sa’as Yusuf Abu ‘Azis dalam bukunya Azab-azab yang Disegerakan di Dunia.