‘UMAR bin `Abdul `Aziz berkata, “Nikmat yang telah diberikan Allah kepada seorang hamba, lalu ditarik-Nya kembali dan diganti dengan kesabaran, tentulah apa yang dijadikan-Nya sebagai ganti itu lebih baik dari nikmat yang telah diambil-Nya kembali.”
Ada seorang arif memiliki selembar catatan yang senantiasa ia keluarkan dan ia baca. Dalam lembaran itu tertulis: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thuur: 48).
Tentang firman Allah Ta`ala: “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).” (Yusuf: 83), Mujahid berkata, “Ialah kesabaran tanpa keluh kesah.” Sementara `Umar bin Qaish berkata, “Yaitu ridha dan pasrah menerima musibah.” Sedangkan Hasan berkata, “Ialah kesabaran tak berkeluh.”
Tentang firman Allah Ta`ala: “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (kazhim)“. (Yusuf: 84), Hamam berkata, “Ialah orang yang menahan amarah kesedihannya (kazhim `ala al-hazn), ia tidak berkata buruk dan hanya mengatakan yang baik.”
Said bin Jubair berkata, “Sabar adalah penerimaan seorang hamba karena Allah atas musibah yang menimpanya serta pengharapannya akan pahala musibah itu dari Allah.” (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin al-Mubarak dari Abdullah bin Luhai’ah, dari `Atha’ bin Dinar).
Yunus bin Zaid bertanya kepada Rabi`ah bin Abi Abdirrahman, “Apa puncak kesabaran itu?” Rabi`ah menjawab, “Saat ditimpa musibah, ia tetap seperti sebelum ditimpa musibah.”
Tentang firman Allah Ta`ala: “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Al-Ma’aarij: 5), Qais bin al-Hajjaj berkata, “Ialah, ia yang ditimpa musibah itu, saat berada di keramaian, tidak dikenali sebagai orang yang sedang mengalami musibah.”
Dari buku Pelipur Lara Mereka yang Tertimpa Musibah karya Imam Ibn Muhammad al-Manbaji.