UJIAN bagi manusia adalah sebuah keniscayaan hidup. Belum beriman seseorang jika tidak mendapat ujian dari Allah Subahanahu wa Ta’ala (Swt).
Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: kami telah beriman dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29]: 2-3)
Layaknya seorang murid yang hendak naik tingkat, ia harus melewati ujian dan menjawab berbagai soal. Atas dasar penilaian guru dan hasil jawaban itulah yang mengantar murid tadi naik ke level lebih tinggi. Dengan ujian, menandakan bahwa seorang murid dianggap mampu mengikuti pelajaran yang sudah diikuti sebelumnya.
Begitulah kehidupan manusia. Untuk mencapai tingkat kesempurnaan keimanan dan ketakwaan, Allah lalu memberikan ujian bagi para hamba-Nya. Sebagian manusia memaknai ujian tersebut kerap hanya sebagai musibah atau kesedihan yang memerihkan jiwa. Anggapan musibah adalah sebuah kesedihan tentu bukan keliru. Meski ia juga tak sepenuhnya benar. Kecelakaan atau bangkrut misalnya. Dalam benak kebanyakan orang, ia hanya dianggap musibah yang menyisakan kesedihan. Padahal terkadang hal itu menjadi titik balik positif bagi kehidupan selanjutnya.
Allah memberi ujian kepada manusia dalam dua kondisi. Kondisi senang dan susah atau lapang maupun sempit. Seorang hamba yang diberi jabatan dunia, sejatinya ia dimaknai sebagai ujian hidup. Ia tak selamanya nikmat yang menyenangkan. Bahkan boleh jadi ia menjadi perantara awal menuju kesengsaraan hidup.
Pun dengan seorang milyarder atau trilyuner. Bisa saja ia adalah musibah yang berbungkus dengan harta yang melimpah. Mungkin ia mampu membeli segala yang dimimpikan oleh manusia. Tapi harta itu berubah menjadi bencana ketika ia memperturutkan kesombongan dan tinggi hatinya di hadapan manusia.
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).
Uniknya, bagi orang beriman, dalam setiap keadaan dan ujian yang dihadapi senantiasa berbuah kepada pundi-pundi kebaikan. Ketika ujian itu berupa kesenangan, maka imannya mendorong dia untuk memperbanyak syukur kepada Sang Khalik. Sebaliknya, jika harus berhadapan dengan hal yang tak diinginkan, maka imannya segera merespon dengan bersabar kepada Allah.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman. Segala sesuatu yang terjadi padanya merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat suatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan maka ia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Episode Perang Uhud adalah kisah nyata yang harus diteladani bagi setiap orang beriman. Bahwa harta adalah perkara dunia yang bisa melenakan jiwa seseorang. Menjadikannya lupa dan lalai terhadap kewajibannya. Sejarah mencatat, akibat berebut harta rampasan, sebagian pasukan Muslim sampai tega melanggar perintah Rasulullah. Akibatnya, kaum muslimin nyaris porak poranda oleh serangan manuver musuh Islam.
Inilah perjalanan iman seorang Muslim. Keyakinan itu akan terus mendapat ujian dari Allah selama menjalani kehidupan di dunia. Glamour dan pesona dunia menjadi batu ujian buat mereka. Apakah keimanan itu tetap kokoh atau justru tergelincir dengan kesenangan dan kenikmatan dunia yang sesaat itu.
Harta dan seluruh materi dunia bukanlah segalanya. Ia bukan sumber kebahagiaan hakiki bagi manusia. Bagi orang beriman, tolak ukur kebahagiaan itu terletak pada kebaikan dan ketaatan yang dikerjakan.
Sedang harta dan materi yang dipunyai adalah wasilah (perantara) dalam melewati ujian tersebut. Hingga nantinya ia husnul khatimah (mati dalam keadaan baik) dan bertemu dengan Allah di surga-Nya kelak.*/Arsyis Musyahadah, pengajar STIS Hidayatullah Putri Balikpapan