Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Sekularisme di Masa Nabi Syuaib

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Februari 2016 10:32 10:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Februari 2016 10:32
Bagikan
Sisa sejarah kaum Madyan
Bagikan

SUASANA sejenak berubah menjadi hening. Bukan sekali ini Nabi Syuaib dicela oleh kaumnya.

Sejarah mencatat, sepanjang jalan dakwah yang dilakoni oleh Nabi Syuaib, sejauh itupula pertentangan yang dilancarkan oleh penduduk kota Madyan.

Madyan adalah sekelompok bangsa Arab yang mendiami antara wilayah Hijaz dan Syam. Tempat itu tak jauh dari daerah Ma’an, di tengah kedua wilayah di atas.

Demikian penjelasan muafssir pengarang tafsir Ibn Katsir.

Kali ini, kaum Nabi Syuaib kembali berulah. Alih-alih mendengar dan menyambut seruan dakwah Nabi Syuaib, kaum Madyan tersebut justru melontarkan olok-olokan yang menghina utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) tersebut.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Dengan nada menghina, kaum Madyan mengadang ajakan dan peringatan Nabi Syuaib. Mereka berkata, apakah ibadah shalatmu menyuruh kami meninggalkan sesembahan yang diwariskan oleh bapak-bapak kami.

Apakah ibadahmu melarang kami berbuat sekehendak hati terhadap harta-harta kami?

Menurut Imam asy-Syaukani, penulis Tafsir Fathu al-Qadir, ungkapan itu sebagai pelecehan terhadap peringatan Nabi Syu’aib.

Senada, Abdurrahman as-Sa’di menambahkan, ucapan tersebut sengaja dilontarkan untuk mengaburkan masalah yang sebenarnya.

Seolah-olah mereka berkata, engkau tak punya kewajiban mengatur apalagi melarang perbuatan kami.

Tugasmu hanyalah shalat dan tunduk beribadah kepada Allah saja (As-Sa’di, tafsir Taisir Karim ar-Rahman fi Kalam al-Mannan).

Orang-orang Madyan beranggapan, perbuatan yang mereka lakukan dan harta yang mereka kelola adalah privasi dan kewenangan mutlak mereka. Tak layak bagi orang lain turut campur mengurusi kepunyaan mereka.

Menurut kaum Nabi Syu’aib, hal semacam itu tak pantas diperingati dan diurus oleh agama. Apalagi sampai harus meninggalkan ajaran moyang dan leluhur mereka sendiri.

Puncaknya, olok-olokan penduduk Madyan tersebut berujung kepada tuduhan bahwa Nabi Syuaib sebagai orang yang sangat penyantun lagi berakal.

Allah berfirman:

قالوا يا شعيب أصلاتك تأمرك أن نترك ما يعبد آباؤنا أو أن نفعل في أموالنا ما نشؤا إنك لأنت الحليم الرشيد

“Mereka berkata: Hai Syu’aib, Apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (Surah Hud [11]: 87).

As-Sa’di menjelaskan, ucapan itu dimaksudkan membalik makna. Yaitu Nabi Syu’aib dianggap sebagai orang dungu dan tak beradab.

Sebab jika Syu’aib benar sebagai orang santun dan berakal, berarti sebaliknya para leluhur dan orang tua mereka adalah orang-orang bodoh.

Sedang mereka tidak mungkin menyalahkan dan menyelisihi kebiasaan orang tua mereka dalam menyembah berhala dan patung-patung yang mereka buat.

Awas sekularisasi agama

Sekilas, tak ada yang keliru dengan ucapan atau pemikiran penduduk Madyan di atas.

Faktanya, shalat adalah ibadah ritual (mahdhah) yang bersifat hablun minallah (hubungan hamba dengan Allah).

Sedang mengurus harta, bermuamalah kepada sesama manusia dan lingkungan adalah hablun minannas (hubungan horizontal manusia dengan makhluk lainnya).

Dikatakan, inilah benih awal paham sekularisasi agama tersebut. Dengan picik, kaum Nabi Syu’aib berkata, kami bebas berbuat apa saja dalam kehidupan ini tanpa perlu  diatur oleh ajaran agama.

Mereka berani meledek Nabi Syuaib serta menggugat, apakah peringatan dan larangan itu sebagai buah dari shalat yang Syu’aib kerjakan selama ini?

Sedang menurut mereka, tak perlu lagi bawa-bawa nama Tuhan dan ajaran Tuhan dalam urusan keseharian dan perniagaan mereka.

***

Pemikiran demikian, oleh syariat Islam dihukumi sebagai biang kerusakan di tengah masyarakat. Sebab orang tersebut diantar untuk memisahkan antara ajaran agama dengan kehidupan itu sendiri.

Hingga kini, perlahan umat Islam terus dicekoki dengan dikotomi antara agama dan kehidupan di dunia. Akibatnya, tak sedikit umat Islam merasa tak butuh dengan agama. Jika pun mengaku beragama, mereka memilih dan memilah sesuai dengan kesenangan dan kepentingan duniawi  semata.

Sebagai renungan penutup, mundurnya umat Islam bukanlah semata karena keterbelakangan ilmu yang dipunyai. Tapi juga ketika ilmu itu tak lagi membekas dalam amalan-amalan keseharian mereka.

Sebab perkara iman bukan sekedar urusan rajin ke masjid dan berhaji setiap tahun, misalnya. Tapi iman yang juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pribadi beriman, ia dituntut tak hanya shalih secara infiradiy (personal) saja namun juga menjadi shalih jama’iy (sosial) menuju terwujudnya masyarakat “baldatun thayyibah wa rabbun ghafur”.*/Masykur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalilmuKemunduran umatNabi Syuaibpenduduk Madyansekularisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Guru Besar UIN Jakarta: Kerukunan Umat Beragama Harus Dipelihara
Tulisan selanjutnya Wali Kota Balikpapan: Berkasih Sayang Bukan dengan Valentine’s Day

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?