Apakah yang paling nikmat di dunia ini? Tentu jawabannya relatif. Tergantung persepsi dan selera orang masing-masing.
Ada yang beranggapan bahwa sesuatu yang paling nikmat di dunia ini adalah makanan paling lezat. Ada yang beranggapan bahwa yang paling nikmat adalah menyeruput minuman kesukaanya. Ada yang beranggapan bahwa yang paling nikmat di dunia ini adalah pernikahan. Ada yang beranggapan bahwa yang paling nikmat adalah travelling ke tempat eksotik di luar negeri. Betulkah demikian?
Anda tentu pernah makan makanan yang menggoyang lidah. Entah itu opor ayam, nasi padang, sate dan makanan enak lainnya. Apa yang dirasakan? Ya, tentu lezat. Nikmat.
Berapa lama rasanya nikmat mengonsumsi makanan lezat itu? Bisa sepuluh atau lima belas menit. Setelah kenyang tidak bisa makan lagi. Dan, lezatnya makanan itu pun hanya sampai di tenggorokan. Setelah masuk perut sudah tidak terasa lagi. Apa pun menu, jika sampai di perut sama. Apalagi kalau sudah menjadi kotoran. Tidak berharga. Bahkan mau melihat makanan lezat yang telah menjadi kotoran tidak mau. Jijik.
Bagi sebagian orang, ada yang beranggapan bahwa puncaknya nikmat di dunia ini adalah menyempurnakan agama. Menikmati indahnya mahligai cinta bersama pasangan. Tak sedikit yang mengatakan menikah adalah kenikmatan dunia. Belum merasakan nikmatnya dunia kalau belum menikah.
Bagi yang pernah menikah tentu bisa merasakan nikmatnya. Bagaimana rasanya? Tidak bisa diceritakan. Hanya bisa dirasakan oleh yang melakukannya. Yang jelas, apa yang dirasakan itu terbatas. Sebentar. Tidaklah lama.
Lalu adakah puncak kenikmatan?
Seluruh benda dan makanan yang dianggap puncak kenikmatan adalah yang bersifat lahiriah. Tampak. Ada objek yang bisa dirasakan dan disentuh. Itulah kenikmatan inderawi.
Kenikmatan yang bisa dirasakan inderawi itu ada batasnya. Tidaklah kekal dan lama. Hanya sebentar. Ada puncak nikmat dari segalanya. Melebihi kenikmatan dunia bahkan surga sekali pun. Bayangkanlah sesuatu hal yang paling lezat. Bayangkanlah sesuatu yang dianggap paling sempurna. Bayangkanlah sesuatu hal yang terindah.
Semua yang dibayangkan itu adalah ciptaan Allah. Logikanya, jika ciptaan-Nya saja memukau dan mengundang decak kagum manusia apatahlagi yang menciptakannya: Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh lebih dari segalanya. Bukankah Allah itu indah dan mencintai keindahan? Maka keindahan-Nya itu melebihi dari segalanya. Lalu, tidakkah kita menginginkan untuk melihat-Nya?
Itu semua bisa dirasakan dan diraba oleh hati. Dan hati orang beriman lembut dan jernih. Dia bisa merasakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Kekaguman akan keagungan Allah itu akan melahirkan cinta dan rindu. Ya, rindu ingin bertemu kepada yang menciptakan.
Perjumpaan dengan-Nya itulah momen yang terindah yang tidak ternilai harganya. Sebab, pada saat itu bisa bertemu dan melihat Allah ‘Azza wa Jalla.Nikmatnya melebihi kenikmatan yang lain.
Berkata Ibnu Qudamah dalam bukunya “Minhajul Qashidin” selagi cinta kepada Allah sudah bersemayam di dalam diri seseorang, maka hatinya akan tenggelam dalam cinta itu, tidak mau menoleh ke surga dan tidak takut dari neraka. Dia telah mendapatkan kenikmatan yang tidak bisa ditandingi kenikmatan macam apa pun. Seorang berkata dalam syairnya,
“Berpisah dengan-Nya lebih keras dari siksa neraka Bersanding dengan-Nya lebih nikmat dari surga.”
Dia menjelaskan, kenikmatan yang dimaksudkan adalah kenikmatan hati karena mengetahui Allah, jauh lebih nikmat daripada kenikmatan makan, minum, dan berjima’. Surga adalah lambang kelezatan indera, sedangkan kenikmatannya terletak pada perjumpaan dengan Allah semata. Renungkan percakapan Rakan dan Ma’ruf berikut ini.
Salah seorang rakan Ma’ruf bertanya kepadanya, “Apa sesuatu yang mendorong untuk beribadah?”
Ma’ruf diam saja. Temannya bertanya lagi, “Apakah ingin mati?”
Ma’ruf menjawab, “Apalah artinya sebuah kematian?”
“Apa karena ingat alam kubur?”
“Apalah artinya alam kubur?” jawab Ma’ruf.
“Apakah karena takut terhadap neraka dan mengharapkan surga?” tanya teman Ma’ruf.
“Apalah artinya itu? Sesungguhnya kekuasaan atas semua itu ada di Tangan-Nya. Jika engkau mencintai-Nya, tentu Dia akan membuatmu lupa semua itu. Jika antara dirimu dan Dia ada ma’rifat, maka cukuplah bagimu semua itu,” jawab Ma’ruf.
Ahmad bin Al-Fath menuturkan, “Aku bermimpi bertemu Bisyr bin Al-Harits. Dalam mimpi itu aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah dilakukan Ma’ruf Al-Kurkhi?”
Bisyr menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menjawab, “Sama sekali tidak. Antara kita dan dirinya ada tabir yang tidak bisa ditembus. Ma’ruf tidak beribadah kepada Allah karena merindukan surga-Nya dan takut dari neraka-Nya, tetapi menyembah Allah karena rindu kepada-Nya. Maka Allah mengangkat ke tingkatan yang tertinggi, dan tabir antara dirinya dan Allah disibak pada saat itu.”
Sungguh indah memiliki hati yang memendam buncahan rindu kepada Allah. Tiada waktu dan hari yang berlalu kecuali memendam rindu. Ingin sekali berjumpa dengan-Nya. Jika kerinduan ini yang dirasakan seorang hamba, maka tiada lagi kenikmatan dunia memberatkan hatinya, tiada lagi kekaguman kepada dunia, dan tiada lagi kecintaan kepada dunia. Melainkan memendam rindu dan cinta hanya kepada-Nya seraya selalu berdoa untuk bersua dengan-Nya kelak di akhirat. Mari berdoa bersama kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
“Ya Allah, aku memohon keridhaan setelah qadha’, kehidupan yang sejuk setelah kematian, kelezatan memandang wajah-Mu dan kerinduan bersua dengan-Mu.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).*/Saiful Anshor