Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Aksi Penista dan Masalah Ghirah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 November 2016 08:48 8:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 November 2016 08:48
Bagikan
Aksi Bela Islam (Aksi Damai 411) terkait kasus Ahok di Jakarta, Jumat (04/11/2016). Umat menuntut keadilan hukum atas Ahok.
Bagikan

MENGIKUTI kasus penistaan Al-Quran yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengingatkan penulis kepada artikel yang ditulis oleh sejarawan kenamaan Indonesia, Dr. Kuntowijoyo (1943-2005) yang bertajuk “Penghinaan, Pengadilan dan Ghirah ” yang ditulisnya pada 27 Maret 1995 (Lihat, Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid (Bandung: Mizan, 1421 H/2001 M), 281-286).

Hemat penulis, artikel yang ditulis oleh pakar sejarah ini amat menarik. Minimal dilihat dari dua sisi:

Pertama, relevansinya dengan kasus penistaan yang dilakukan Ahok terhadap Al-Quran. Kasusnya mirip sekali dengan yang ditulis oleh Dr. Kuntowijoyo. Karena di dalam artikelnya dia mencatat beberapa kasus penghinaan –dalam bahasaanya–, misal: kasus Permadi. Disamping ada empat kasus penghinaan lainnya: di zaman kolonial dan dua dan dua lagi di zaman Orde Baru.

Pada Zaman Kolonial ada kasus Martodarsono (pada 1918) yang menerbitkan bahwa Nabi sedang mabuk ketika menerima wahyu, yang melahirkan Comite Tentara Kanjeng Nabi Muhammad.

Dan pada 1937 ada kasus Soemandri-Soeroto, feminis saat itu, yang mengecam Nabi karena perkawinan Poligami, yang melahirkan Comite Penyelidikan Persatoean Pers Islam atau Comite Petahanan Islam atau Badan Pertahanan Islam.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Sedangkan dua kasus penghinaan di Zaman Orde Baru adalah: kasus “Langit Makin Mendung” yang melukiskan Nabi yang menjadi seekor burung, dan kasus Monitor yang menomersekiankan Nabi. (Lihat, Muslim Tanpa Masjid, 281-282).

Sementara kasus Ahok berkaitan dengan pernyataannya di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 yang menyatakan bahwa Qs. 5: 51 dijadikan alat untuk berbohong. Akhirnya menyulut reaksi umat Islam yang begitu massif dan menggetarkan. Juga akhirnya melahirkan satu gerakan nasional yang dikenal dengan GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI). Kemudian gerakannya dikemas dengan apik dalam rajutan “Aksi Damai Bela Islam l, ll, dan lll”. Aksi Damai lll Insya Allah akan dilaksanakan pada Jum’at (2 Desember 2016) yang masyhur dengan simbol 212.

Menariknya, reaksi uumat Islam terhadap kasus-kasus penghinaan terhadap simbol agama mereka itu oleh Dr. Kuntowijoyo, sebagaimana juga Hamka, disebut dengan ghirah  yang positif. Ghirah  inilah yang olehnya disebut sebagai ‘aset nasional’. Alasannya sederhana tapi dalam. Dia menulis demikian:

“KH. Ahmad Rifa’i tidak akan menyatakan bahwa siapa yang bersembahyang di masjid Pekalongan yang imamnya adalah Penghulu yang dibayar raja kafir tidak sah dan bahwa nikah di depan Penghulu sama saja dengam berzina seumur hidup, kalau tidak punya ghirah ; perbuatan emosi yang tanpa perhitungan. Itulah sebabnya dia ditangkap Belanda pada 1859 dan dibuang ke Ambon. Yang menggunakan akal yang terkendali adalah Haji Pinang, Penghulu Batang, yang dipuji Belanda dan para birokrat.

Para Haji dan santri tidak akan melakukan pemberontakan petani di Banten pada 1888 kalau dia tidak punya ghirah .

Cut Nyak Dhien tidak akan masuk hutan kalau wanita itu tidak punya ghirah .

Para petani pada tahun 1912 –sekalipun didukung oleh SI– tidak akan berani melakukan pemogokan di tanah Sunan Surakarta yang mempunyai hak memiliki atas semua tanah, keturunan para nabi dan dewa, dan Wakil Tuhan di bumi, kalau tidak punya ghirah .

Kiai Tamam dari Pamekasan tidak akan membeli revolver pada 1918 dan menjalani hukuman dengan rantai di kaki, kalau tidak punya ghirah.

Mensyukuri ‘Terplesetnya’ Lidah Sang Penista

Para santri tidak akan terpanggil ke Surabaya pada 10 November 1945, kalau tidak ada ghirah .

Demikianlah Sudirman tidak akan memimpin perang gerilya; tanpa ghirah  mungkin hanya ada Abdulkadir yang bekerja untuk Belanda di Zaman Perang Kemerdekaan. Mungkin Indonesia tidak akan survive pada tahun 1948 dan 1965 tanpa ghirah . Ghirah  adalah aset nasional. (Lihat, Muslim Tanpa Masjid, 283).

Dan jika tanpa ghirah  “Aksi Damai Bela Islam” yang terjadi dalam skala daerah, nasional bahkan internasional tidak akan pernah terjadi. Inilah dahsyatnya ghirah  yang sudah “mendarah-daging” dan “berurat-berakar” dalam jiwa uumat Islam.

Inilah aset nasional, kata Dr. Kuntowijoyo. Maka “Aksi Damai” yang dilakukan oleh uumat Islam jangan dicurigai dan dituduh macam-macam: dibayar, ditunggangi, bahkan menyisipkan makar. Ini bisa jadi tuduhan tanpa dasar alias fitnah. Dan ini sangat keji dan tak patut diucapkan oleh para petinggi negeri ini.

Kedua, Aksi Damai Bela Islam adalah ghirah  alias cemburu soal agama, dalam bahasa Buya Hamka. Jadi, tidak kaitannya dengan politik.

Orang Islam tidak fanatik! Namun tidak pula dayust, yaitu tebal kuping dan tebal muka. Orang Islam bukanlah,

فطنا لكل مصيبة فى ماله #  وإذا يصاب بدينه لم يشعرى

“Sangat awaslah kalau harta-bendanya tersinggung, tetapi tak ada perasaannya apabila agamanya kena musibah”

Itu adalah syair warisan Sayyidina Ali, ejekan kepada orang yang telah luntur rasa ghirah  agamanya. (Buya Hamka, Ghirah , Cemburu karena Allah (Jakarta: Gema Insani Press, 1436 H/2015 ), 17).

Untuk itu, mari selalu bangun kecintaan kepada agama Allah ini. Agar kita sadar bahwa kemuliaan ada padanya. Maka ketika sumber kumuliaan itu dinista dan kita diam saja, itu pertanda padamnya ghirah  dalam dada. Maka hidup pun sudah tiada guna. Wallahu’l-Musta‘an.*/Qosim Nursheha Dzulhadi, @Majelis As-Shuffah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksi damaiAksi Damai Bela IslamAksi Damai Bela QuranghirahPenista Al-Qur'anPenistaan al-Quran
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pensiunan Jenderal Korps AL Peringatkan Israel Bisa Jadi Negara Apartheid
Tulisan selanjutnya Kelompok HAM: Serangan pada Aleppo Tewaskan 157 Orang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?