BIASANYA, dalam menyambut Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan amalan-amalan berikut:
Pertama, berdoa. Di antara doa beliau:
اللهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالْإِسْلامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ
“Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR. Ahmad). Kandungan doa ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Ramadhan disambut dengan kegembiraan (rasa syukur), keimanan, keselamatan, keislaman dan akidah yang benar.
Kedua, beliau memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban. Terkait hal ini, Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: «ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»
“Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Syaban? Beliau bersabda: Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasai).
Ketiga, menyambutnya dengan hangat. Ketika Ramadhan tiba, beliau menyampaikan kabar gembira ini kepada sahabat-sahabatnya sembari menunjukkan keutamaan-keutamaan yang ada di dalamnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, Telah datang kepada kalian Ramadhan. Bulan yang diberkati di mana Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa pada bulan itu. Pada bulan ini, dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya Allah mempunyai bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan kebaikannya, maka dia merugi. (HR. Nasai).
Sepeninggal beliau, ekspresi dalam menyambut Ramadhan berkembang sesuai tradisi daerah masing-masing tanpa kehilangan spirit inti dari penyambutan Ramadhan yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dalam buku berjudul Ramadhan Pembangkit Esensi Insan (2014: 8-9), Shabri Shaleh Anwar menyebutkan beberapa tradisi beberapa daerah di Indonesia dalam menyambut Ramadhan.
Pertama, di Kota Semarang misalnya ada tradisi “Dugderan”. Kata “Dug” diambil dari suara bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan “Der” berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug. Tradisi ini sudah berusia ratusan tahunn. Biasanya digelar 1-2 minggu sebelum puasa.
Kedua, lain lagi di daerah Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta. Ada tradisi melakukan upacara berendam atau mandi di sumur atau sumber mata air di tempat keramat yang disebut “Padusa”. Maknanya, supaya jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan puasa bersih secara lahir batin.
Ketiga, sedangkan warga Kabupaten Kuantan Singingi, Riau memiliki tradisi tahunan yakni pesta jalur pacu (Pacu Jalur). Acara lomba dayung yang digelar sebelum Ramadhan dan ditutup dengan Balimau Kasai (bersuci).
Keempat, di aceh ada tradisi Meugang. Mereka menyembelih kerbau dan dagingnya dimakan menjelang puasa. Kerbau dibeli secara patungan. Biasanya orang yang lebih mampu turut memberi sumbangan agar fakir miskin pun bisa menikmati kebersamaan ini.
Kelima, di Surabaya ada tradisi memakan kue apem. Nama “apem” dipercaya berasal dari kata “afwan” dalam bahasa Arab yang artinya maaf. Secara simbolis makan kue ini bisa diartikan mohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, handaitolan, tetangg, kerabat dan teman. Setelah makan apem, biasanya bersalam-salaman saling minta maaf dan melanjutkan acara tahlilan.
Keenam, di Banyu Mas ada tradisi yang disebut ‘Perlon Unggahan’. Berbagai makanan tersedia, tapi yang tidak bileh absen adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundenga sapi dan sayur becek harus disiapkan laku-laki dan jumlah mereka harus 12 orang, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.
Di samping keenam tradisi tersebut, ada dua lagi yang bisa diangkat dalam tulisan ini:
Ketujuh, tradisi nyadran. Tradisi nyadran ini biasa dilakukan masyarakat Solo. Makna Tradisi Nyadran Sebelum Puasa, merupakan tradisi masyarakat Solo ( juga dilakukan di daerah lain seperti: Boyolali) untuk menyambut Ramadhan. Menurut Bakdi Soemanto dalam buku Belajar Bela Rasa (2011: 163). Makna nyadran adalah keluarga besar mengunjungi makam-makam tempat para leluhur dikebumikan. Mereka, para anggota keluarga besar itu, berjongkok atau duduk bersila di depan makam setiap leluhur untuk mendoakan agar yang sudah wafat diampuni oleh Sang Maha Pencipta.
Kedelapan, tradisi Pisowanan. Tradisi yang biasa dilakukan oleh warga Banyumas, Jawa Tengah ini diartikan dengan ungkapan menghadap sesepuh. Ritual dari tradisi Pisowanan ini adalah berziarah ke makam tokoh besar/agama di Banyumas. Selain itu, sejumlah makanan juga disediakan yang kemudian dibagi-bagikan kepada peserta ziarah. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi warga Banyumas di saat menjelang Ramadhan.
Tentu kita tidak sedang membahas secara syariat atau menyokong kebenarannya, karena nanti ada ranahnya sendiri dan sudah banyak yang mmbahasnya. Tapi ekspresi budaya ini bisa diambil sisi positifnya, paling tidak sambutan-sambutan pra Ramadhan yang sudah mentradisi tersebut menggambarkan bahwa mereka benar-benar serius dalam menyambut Ramadhan. Dari kedelapan tradisi tersebut ada beberapa hal yang dilakukan orang Indonesia dalam menyabut Ramadhan: bersyukur, shilaturahim, mensucikan diri dan jiwa, saling memaafkan, berbagi rezeki kepada orang yang tak mampu. Bila etos nilai ini juga bisa berlangsung sepanjang tahun, maka akan menjadi kekuatan dahsyat. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan