Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Cara Ayah Hamka Mengatasi Musibah Gempa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 November 2018 10:32 10:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Agustus 2018 10:31
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

 

ABDULKARIM Amrullah –ayah Hamka—pada tahun 1926, sepulang dari lawatan ke negeri Kinanah (Mesir) untuk bertemu dengan ulama dunia dan mendapat gelar doktor “honoris causa” beliau dirundung duka. Gempa melanda Padang Panjang, yang merupakan tempat tinggalnya.

Hamka dalam buku berjudul “Ajahku; Riwajat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera” (1958: 131-134) mencatat dengan begitu gamblang bagaimana cara ayahnya dalam menghadapi musibah gempa.

Alkisah, pada bulan Maret 1926 beliau berangkat ke Mesir bersama H. Abdullah mengendarai kapal pengangkut barang “Djember”. Baru kembali dari sana pada bulan awal bulan Juni di tahun yang sama dengan menumpang kapal “Indrapura”.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Sesampainya di Medan beliau mendapat sambutan luar biasa oleh murid-muridnya. Disediakanlah jamuan untuk menghormati ulama besar ini. Di kota-kota lain di Sumatera Timur (seperti: Kisaran dan Tanjung Balai) juga melakukan sambutan yang sama.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Sumatera Barat menuju kediamannya. Sesampainya di Sibolga pada 29 Juni 1926, beliau mendapat kabar kurang baik. Kemarin, tanggal 28, telah terjadi gempa bumi di Padang Panjang. Kabar itu begitu mengguncang hatinya. Pasalnya, rumah-rumah runtuh dan banyak orang mati ditimpa puing.

Baca: Nashirul Haq: “Musibah Adalah Ujian Bagi Kita”

Perjalanan menuju ke rumah pun tak bisa ditangguhkan lagi. Dengan lekas beliau menaiki auto (mobil) menuju Sumatera Barat. Ternyata, apa yang diliharnya dengan mata kepala sendiri jauh lebih hebat daripada kabar yang tersiar. Rumah beliau du Gatangan hancur luluh menjadi abu. Bahkan, surau Djembatan Besi, tempat mengajar beliau dulu, juga luluh lantak.

Mengingat rumah sudah hancur, beliau bersama  keluarga pada 30 Juni 1926 pergi Sungai Batang Maninjau. Kondisi saat itu begitu menyedihkan. Rumah sudah tak punya, sementara beliau harus menanggung tanggung jawab keluarga.

Menariknya, musibah yang sedemikian besar ini kata Buya Hamka tidak membuat pendirian hidup ayahnya berubah, malah bertambah teguh. Gempa memang telah menghancurkan rumahnya, namun perjuangannya tetap berlanjut.

“Tidak ada harta dunia yang kekal,” tutur Abdulkarim Amrullah kepada Hamka. Selain itu beliau melanjutkan, “Harta Allah pulang kepada Allah.” Masyaallah betapa tegarnya ulama pembaharu ini.

Dengan musibah gempa beliau tak mau berputus asa. Di kampung beliau segera membangun kembali untuk kepentingan diri, keluarga dan umum. Untuk memenuhi kebutuhan itu beliau bekerja keras siang-malam. Jika kebanyakan ulama mengandalkan sedekah, beliau lebih senang bergantung pada usaha sendiri, walaupun terkadang juga tak menolak sedekah.

Baca: Perjuangan Buya Hamka Memajukan Umat dan Bangsa

Untuk mengatasinya, beliau kembali mengarang buku agama. Buku itu kemudian laris, beliau pun sering diundang di daerah Minangkabau bahkan Sumatera. Dari hasil penulisan yang laku keras itu, beliau bisa membangunkan rumah untuk anak dan kemenakannya. Demikian pula tempat tinggal untuk anak dan istrinya, baru kemudian mendirikan kantor untuk menyimpan buku-bukunya yang banyak.

Di kantor tempat menyimpan buku yang dinamai “Kutub Chanah” itu, beliau menerima banyak murid untuk belajar. Di sana pula banyak orang alim menelaah dan menanyakan hukum-hukum. Pada gilirannya, banyak sekali orang yang menuntut ilmu di Sungai Batang.

Dari kisah ini, pembaca bisa tahu bagaimana cara ayah Hamka dalam mengatasi musibah gempa. Ujian dari Allah ini tidak membuatnya meratap begitu panjang atau tak menjadikannya berputus asa; namun justeru menjadi bahan evaluasi dan pelecut diri dan bangkit menuju perubahan yang lebih baik.

Selain itu, untuk mengatasi musibah ini, beliau bekerja keras untuk membangun kembali bangunan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Dengan waktu yang tidak begitu lama, beliau bisa mengatasi musibah tersebut dan bisa kembali berdedikasi untuk kepentingan dakwah dan umat.

Tak mengherankan jika, Imam Thabari dalam tafsirnya “Jaami’ al-Bayaan” (1420: 17/478) mengatakan bahwa terjadinya bencana supaya manusia mau untuk mengambil pelajaran, mengingat Allah dan kembali kepada-Nya. Dan itu, dilakukan dengan sangat baik oleh Ayah Buya Hamka Rahimahumullah. */Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya Hamkagempagempa NTBmusibah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hujan Debu dan Angin Kencang Landa Masjidil Haram dan Arafah
Tulisan selanjutnya Santri Ar Rohmah Putri Kumpulkan 33 Juta dari Uang Saku untuk Korban Gempa Lombok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Berita
28 Mei 2026 19:41
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?